April 30, 2026

“Kau Laksana Jam Matahari, Kawanku”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni1

Ilustrasi "Kau Laksana Jam Matahari, Kawanku": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-112 (Assisted by AI).

/1/

Kau Laksana Jam Matahari, Kawanku

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kawan,
kau laksana jam matahari
yang tak gentar oleh badai.
Meski awan menutup langit,
meski musim menggulung usia,
kau tetap di sana,
menjadi bayangan yang menuntunku pulang.

Di dunia yang berlari tanpa henti,
kau adalah satu-satunya yang tak terburu,
tetap ada,
tetap bernama,
tak butuh sirine untuk menandai kehadiran.

Surakarta, 2003

/2/

Persahabatan Kita Arang yang Membara

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ada yang mencoba meniup kita,
menguji dengan embusan angin,
menumpahkan hujan pada lidah nyala.

Tapi persahabatan kita adalah arang
yang membara di dalam tanah,
tak kasat mata, tak memohon perhatian,
tetapi cukup panas untuk tetap ada.

Tak peduli angin seberapa kencang,
tak peduli hujan seberapa deras,
di bawah abu, kita tetap hidup.

Surakarta, 2003

/3/

Sahabat yang Menjadi Bukit

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Saat jalanan retak dan tanah meluruh,
aku menemukan kakiku berpijak di atasmu.
Kau tidak memegang tanganku,
tidak memaksaku untuk diam,
kau hanya berdiri di sana,
menjadi tanah yang cukup kokoh
untuk menampung jejakku yang gemetar.

Aku boleh turun kapan saja,
aku boleh hilang dalam perjalanan,
tapi aku tahu,
kau tetap menjadi bukit
yang diam-diam menungguku kembali.

Surakarta, 2003

/4/

Sahabat, Kau Tak Selalu Berpendar

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Sahabat,
kau tidak selalu berpendar,
tidak selalu bersinar seperti yang orang pikirkan.
Kadang kau adalah langit kosong,
tanpa satu pun titik cahaya
untuk menerangi gelapku.

Namun, aku tahu,
bintang tidak pernah benar-benar lenyap.
Mereka hanya bersembunyi di balik waktu,
dan aku percaya,
saat aku menengadah lebih lama,
aku akan menemukanmu bersinar lagi.

Surakarta, 2003

/5/

Persahabatan Kita
Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Persahabatan kita tak memiliki bentuk,
tak bisa ditakar atau dijual.
Ia ada di antara gelombang suara,
di antara dua kata yang tak perlu diucapkan.

Aku mengetuk meja tiga kali,
kau tahu itu panggilan.
Kau menggoyangkan lututmu pelan,
aku tahu kau sedang bercerita.

Tak ada yang bisa mendengarnya,
tetapi kita tahu—
persahabatan adalah bahasa yang
tak butuh suara untuk tetap dimengerti.

Surakarta, 2003

/6/

Sahabat dan Bayangan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku berdiri di tengah siang,
kau ada di sana—menyusul bentukku,
meniru langkahku, mengikuti setiap gerakku.

Tetapi saat malam tiba,
saat gelap menghapus wujudku,
kau tidak pergi,
kau hanya menyatu dalam tubuhku,
menunggu fajar untuk kembali nyata.

Surakarta, 2003

/7/

Kau Tetap Sahabatku

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Tak peduli seberapa jauh aku melangkah,
kau tetap ada sahabatku,
menyelinap dalam sela-sela waktu.
Aku bisa mengguncang kakiku,
mencoba menyingkirkan jejakmu,
tapi kau tetap bertahan,
diam-diam mengikuti perjalanan.

Bukan karena aku tak ingin,
bukan karena kau memaksa,
tapi karena ada yang lebih kuat dari keinginan—
keberadaan yang tak perlu alasan untuk tetap tinggal.

Surakarta, 2003

/8/

Abu Persahabatan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Tidak meledak,
tidak menjerit,
hanya berubah bentuk dalam diam.
Aku tahu kau sedang menghilang,
tapi aku tak bisa menghentikannya.

Api tak selalu datang dari luar,
kadang ia menyala dari dalam dada,
dan aku hanya bisa menatap,
menyaksikan abu dari persahabatan kita
terbang bersama angin yang tak tahu arah.

Surakarta, 2003

/9/

Kode Rahasia Persahabatan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku menatapmu,
kau mengangguk sedikit.
Tak ada yang lain mengerti,
tapi kita tahu,
ini perjanjian tanpa saksi.

Bahkan saat kita berpencar,
bahkan saat ribuan musim telah lewat,
rahasia itu tetap ada,
bukan dalam ingatan,
tetapi dalam sesuatu yang lebih dalam,
sesuatu yang tak bisa dihapus
bahkan oleh lupa.

Surakarta, 2003

/10/

Dua Peluru di Lintasan Berbeda

Ditembakkan dari senapan yang berbeda,
melaju dengan kecepatan yang tak sama,
tetapi entah bagaimana,
takdir menarik garis tak terlihat,
dan kita bertabrakan di satu titik,
sebelum terhempas kembali ke ruang masing-masing.

Kita mungkin bukan kisah yang berjalan lurus,
bukan dongeng yang berakhir di halaman yang sama.
Namun, di suatu tempat dalam sejarah,
nama kita pernah bersilang,
dan itu sudah cukup untuk menjadikannya teman sehati.

Surakarta, 2003
————————-

Tentang Penulis dan Karyanya

Tak ada rencana besar ketika kata-kata itu pertama kali ditulis. Hanya sebaris kegelisahan yang mencari tempat, sepotong harapan yang ingin bernafas. Tahun 2003, di sela-sela perjalanan akademiknya ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Universitas Negeri Surakarta, Leni Marlina tanpa sadar menuliskan bait-bait kecil di antara catatan reflektifnya. Ia tidak mengira bahwa kelak, puisi-puisi itu akan kembali mengetuk hatinya, membawa kembali jejak langkah yang hampir terlupa.

Saat itu, kata-kata bukan sekadar kumpulan aksara. Ia menjadi teman seperjalanan dalam perjuangannya meraih posisi Terbaik II di Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) PIMNAS bidang pendidikan. Namun, lebih dari sekadar prestasi akademis, pengalaman itu menegaskan sesuatu yang lebih mendalam—bahwa puisi bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang kekuatan. Kata-kata memiliki daya untuk menghidupkan, menyembuhkan, bahkan mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.

Dua puluh dua tahun berlalu. Suatu hari, Leni Marlina menemukan kembali puisi-puisi lama itu, tersimpan dalam lembaran yang mulai menua. Ada yang terasa asing, seperti suara yang pernah dikenalnya namun kini berbicara dalam nada yang berbeda. Ada pula yang masih lekat di hati, seolah tak pernah pergi. Ia membacanya ulang, menyentuh tiap larik dengan hati-hati, merevisinya dengan kedewasaan yang kini dimilikinya, dan—dengan sedikit keberanian—memutuskan untuk membiarkannya hidup kembali. Tahun 2025 menjadi awal baru, tempat puisi-puisi itu diberi ruang untuk bernapas di dunia digital.

Menulis selalu menjadi rumah bagi Leni Marlina, tempatnya kembali setiap kali dunia terasa terlalu bising. Namun, seiring waktu, ia memahami bahwa sastra bukan hanya soal menulis. Sastra adalah tentang berbagi, tentang mendengarkan, tentang bertumbuh bersama. Kesadaran inilah yang menuntunnya lebih dalam ke dunia edukasi dan literasi, bukan sebagai seseorang yang telah ‘jadi’, tetapi sebagai seorang peziarah yang masih terus belajar.

Leni Marlina bergabung dengan Komunitas Penulis Indonesia (SATU PENA) cabang Sumatera Barat, yang diketuai oleh penyair dan mantan birokrat Sastri Bakry, sementara komunitas ini sendiri didirikan oleh Denny J.A. Melalui komunitas ini, ia melihat sastra Indonesia dari perspektif yang lebih luas, memahami dinamika yang selama ini hanya diketahuinya dalam bayangan. Pada tingkat internasional, ia menjadi bagian dari Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai dan dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, yang didirikan dan dipimpin oleh seniman sekaligus penyair Anna Keiko. Selama studinya di Australia pada 2012, ia juga pernah terhubung dengan Victoria’s Writer Association, belajar bagaimana sastra bisa menjadi jembatan bagi beragam budaya.

Namun, di antara semua hal yang telah ia jalani, satu hal yang paling Leni Marlina syukuri adalah kesempatan untuk berbagi. Sejak 2006, ia mengajar di Program Studi Sastra Inggri, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Mengajar baginya bukan sekadar profesi, tetapi sebuah jendela untuk memahami dunia dari sudut pandang para mahasiswa—mereka yang datang dengan semangat, kegelisahan, dan pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup.

Di luar kampus, Leni Marlina mencoba membangun ruang-ruang kecil bagi siapa saja yang ingin menjadikan bahasa dan sastra sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka. Beberapa komunitas yang ia dirikan dan kelola meliputi:

1. World Children’s Literature Community (WCLC) – tempat berbagi dan mencintai literasi dari ruang lingkup sastra anak dari berbagai belahan dunia. Beberapa karya/kegiatan dari komunitas ini bisa dilihat pada link: https://shorturl.at/acFv1

2. Poetry-Pen International Community – ruang berbagi bagi penyair lintas negara untuk menyuarakan kemanusian, keadilan, kepedulian lingkungan, indah-pahitnya kehidupan.

3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat) – komunitas yang menjadikan puisi sebagai sarana berbagi inspirasi dan refleksi sosial. Beberapa bentuk karya/ kegiatan komunitas ini bisa dilihat pada link berikut: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI

4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – menghubungkan sastra, edukasi, dan kewirausahaan digital. Beberap kegiatan/karya komunitas ini bisa dilihat di link ini: https://rb.gy/5c1b02

5. Linguistic Talk Community – ruang diskusi bagi para pecinta bahasa dan linguistik.

6. Literature Talk Community – komunitas bagi yang ingin mengeksplorasi dunia sastra lebih dalam.

7. Translation Practice Community – tempat belajar dan berbagi dalam seni penerjemahan, terutama bahasa Indonesia-Inggris dan sebaliknya.

8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – komunitas yang menghubungkan edukasi, bahasa, literasi, dan sastra.

Semua ini bukan tentang pencapaian, melainkan tentang perjalanan—sebuah perjalanan yang masih akan terus ia jalani. Ia percaya bahwa sastra bukan hanya tentang menulis dan membaca, tetapi juga tentang mendengar, memahami, dan menemukan makna dalam setiap kata yang dibagikan. Jika ada satu hal yang ingin terus ia lakukan, itu adalah belajar dan berbagi, sebab di sanalah sastra menemukan kehidupannya yang sejati.