Kehilangan Suaramu, Kehilangan Kasihmu
Oleh: Yusuf Achmad
–
Hilang Suaramu, HP-ku Lesu
Jika dihadapkan HP dan kekasih, mana yang kau pilih? Tak usah dijawab, cukup ikuti kisah kasih. Aku dan gadis peranakan Arab, di kampung kotaku yang bersih.
Memaksakan diri itu berefek dan menyerempet keliru. Begitupun ketika kau paksa aku mengatakan, “Ana uhibbuk ente, tau.” Kata kekasihku. Ia benci ucapan saja, wujud nyata itu pintanya. Perbuatan adalah sejuta ucapan. Bagai lukisan ekspresi jiwa, itu prinsipnya.
Setelah pertengkaran, komunikasiku tak mau bunyi. “Beda ucapan dan perbuatan itu menyakitkan hati,” keluhnya lagi. “Apa semua harem seperti ini?” tanyaku, membisu pada kotak sakti.
Beberapa saat lalu, ia berdering. Suara tak asing di kuping. Renyah, terdengar seperti lagu Bollywood, sukaan ana, umiku dan abiku. Mendayu-dayu lagu, suaramu terbuka.
Kau awali, “Assalamualaikum, ahlan?” hatiku seru, haru, tuk beri jawaban. Selalu, walau usiaku dimakan waktu. Suaramu, tanyamu, penuh, mengiang, hingga masa syahdu. “Nyanyian Hindustan juga favoritku. Namun, kau hanyalah Hp lamaku,” Itu, jawabmu saat kusinggung masa itu. “Membeku, bak ponsel lamaku, kujual tak laku,” tegasmu.
Kucoba yakinkanmu, sesungguhnya, aku tak bersungguhsungguh. Sungguh kesungguhan ini karena bahasa. Bahasa memintamu berpikir. Tak sekadar mampir.
“Tindak lanjut, lebih utama dan pertama,” jelasnya. “Baiklah kita sudahi dan kita bubar saja,” pungkasnya. Lalu ponselku lesu, beku.
Kehilangan suaramu, duhai selulerku.
26-7-2023