April 19, 2026
rizal2

Oleh: Rizal Tanjung

aku login ke malam
tanpa notifikasi,
tanpa siapa pun menandai namaku
di dinding waktu.
sunyi hadir
seperti mode pesawat—
semua hiruk berhenti,
hanya jantung yang masih online.

sendiri,
aku scrolling ingatan
yang tak pernah kuunggah,
foto-foto batin
yang hanya bisa dibuka
oleh luka dan rindu.
di antara swipe ke kanan dan kiri,
kau muncul
sebagai jeda.

didekapmu,
sunyi berubah bentuk:
bukan lagi ruang kosong,
melainkan jaket kebesaran
yang kupakai agar dunia
tak membaca gemetarku.
kau memeluk tanpa emoji,
tanpa stiker cinta,
namun hangatmu
lebih nyata dari seribu pesan suara.

kudamai,
algoritma masa lalu
yang terus menyarankan
kesedihan serupa.
aku berhenti membenci arsip,
berhenti memblokir kenangan,
kuberi mereka izin
untuk lewat tanpa menetap.

lelap,
aku tertidur di timeline mimpi
yang tak bisa di-screenshot.
di sana, waktu tak mengejar target,
tak menghitung siapa tertinggal.
aku berbaring di antara dua detik
yang akhirnya berdamai.

mimpi indahku
bukan istana,
bukan cahaya besar di layar.
ia sederhana:
kopi yang tak keburu dingin,
pulang tanpa rasa cemas,
dan seseorang
yang tak menanyakan “kenapa kau diam”.

kau hadir
sebagai titik biru
di peta batinku—
bukan untuk dipamerkan,
melainkan sebagai penanda:
di sinilah aku aman.

Jadilah nyata,
tak perlu viral,
tak perlu trending.
cukup konsisten
seperti matahari
yang tak pernah minta disukai
namun selalu dirindukan.

Jadilah nyata
di hari-hari sepi,
di chat yang tak terkirim,
di pelukan imajiner
yang menyelamatkanku
dari jatuh ke jurang riuh.

jika dunia tetap gaduh,
biarlah kita memilih
sunyi yang saling memahami.
karena di zaman serba suara,
cinta yang paling jujur
adalah yang berani
tetap tinggal
dalam diam.


Sumatera Barat, 2026