Kelapangan Hati Saat Bangun Malam untuk Berdzikir
Oleh Deni Kusuma
(Sejarawan Muslim dari Departemen Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
–
Sebagaimana dalam artikel yang sudah penulis tulis yang berjudul “How to Treat Traumatic Problems to Be Health Personality”, penulis menjelaskan tentang perlunya kita meluangkan waktu untuk melaksanakan dzikir baik itu setelah menunaikan sholat lima waktu atau pun di malam hari. Hal ini berdasarkan pada firman firman Alloh SWT: Ya ayyuhal ladzina amanu, udzkurulloha dzikron katsiron (Al-Ahzab: 41). Artinya, “wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah engkau dengan dzikir yang banyak”.
Dan ternyata, berdzikir di malam hari selain setelah sholat lima waktu mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa terhadap perubahan tingkat keimanan dan keimunitasan (kekebalan tubuh). Peningkatan dalam keimanan maksudnya setelah berdzikir kepada Alloh dengan durasi yang cukup lama yakni sekitar dua jam kurang sepuluh menit dari jam 00:00 hingga pukul 01:50 ditambah sebelum pukul 00:00 yakni pukul 22:00-23:00 berarti sekitar tiga jam meluangkan waktu berdzikir di malam hari, ruhaniyah rasanya mengalami perubahan yang lebih enak lagi secara signifikan.
Semacam ada rasa kemantapan di dalam dada. Dan biasanya rasa sesaknya betul-betul sesak, akan tetapi setelah meluangkan waktu untuk berdzikir agak lama di malam hari, sesaknya terasa berkurang secara cukup drastis. Akan tetapi juga, ketika sudah agak lama lagi melakukan aktifitas selang waktu satu jam atau dua jam, keimanan dan keimunitasan itu ternyata terasa menurun lagi, badan terasa loyo, malas dan kemudian dada terasa amat sesak, seolah-olah ada banyak sekali sampah di dalam dada.
Padahal, secara indrawi mana ada sampah di dalam dada karena tak terlihat oleh mata kecuali kalau sudah jadi tinja? Atau mungkin efek dari makanan yang penulis makan terlalu banyak atau ketika sudah nongkrong di warung sehingga perasaannya memang betul-betul terasa seperti banyak sekali sampah, sumpek, risih, ruwet dan tak nyaman. Bisa jadi demikian.
Atau mungkin ini juga yang dinamakan sampahnya hati atau dosa dari makan dalam porsi yang banyak itu? Berarti dosa-dosa itu datangnya setiap saat seiring penulis makan, yang memang harus dibersihkan setiap saat juga. Karena penulis setiap hari makan, itu artinya harus membiasakan berdzikir yang banyak di malam hari agar efek manfaat makanan yang masuk ke perut penulis dapat tahan lama sehingga dapat bekerja di siang hari secara optimal.
Karena memang betul juga secara tidak disadari sudah makan suka ngantuk, bukannya jadi kuat. Mungkin dari situ faktornya, makan tetapi tidak diikuti dengan berdzikir yang banyak sehingga kurang bermanfaat bagi tubuh. Ketika sudah berdzikir lagi, kesumpekan dan keruwetan itu pun buyar lagi. Hanya saja ketika sudah bergaul dengan teman-teman, nongkrong dan ngopi bareng, dada menjadi resah lagi dan terasa banyak sampah lagi dan sumpek lagi. Pengap sekali rasanya. Padahal udara tampak segar-segar saja karena di sini tidak ada polusi udara seperti di kota, tidak ada kebakaran juga seperti di Los Angles.
Mungkin betul sekali. Sampah yang ada dalam dada ini adalah sampah hati yang mana kita perlu menseterilkannya kalau ingin terasa nyaman setiap saat. Dan datangnya sampah itu terjadi seperti berulang-ulang sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan berdzikir itu seperti kegiatan membuang sampah dari dalam dada kita, yang kalau tidak dibuang maka akan membuat dada kita sumpek dan terasa sempit, tidak nyaman dan bahkan dada bisa terasa sakit sekali. Seakan nyaris sulit bernafas seperti mau mati.
Hal ini ternyata sudah pernah disugestikan oleh baginda Nabi Muhammad sholllohu alaihi wasallam sejak dahulu kala dalam sabdanya: “Jaddidu imanakum bikatsroti qouli Laa Ilaaha Illalloh”. Artinya: “Perbaharuilah keimanan kalian dengan ‘banyak-banyak’ mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh”. Karena memang diperintahkan oleh bagindanya zikirnya yang banyak, maka dari situlah kira-kira alasannya kenapa kita perlu sekali meluangkan waktu atau pun punya waktu yang spesifik untuk berdzikir yang banyak. Misalnya di malam hari ketika aktifitas duniawi sudah selesai.
Karena kalau kita melaksanakan dzikir yang banyak di siang hari rasanya tidak memungkinkan secara perspektif antropologi dan sosiologi. Namanya masih hidup di dunia harus menjalani kehidupan yang seimbang. Makam malam pun dapat menjadi sarana untuk berdzikir yang banyak.
Bahkan, penulis pernah membaca suatu keterangan dari Kitab Miftahus Shudur (Kitab Kunci Pembelah Dada) karya Tuan Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin yang mensugestikan tentang pentingnya berdzikir di malam hari karena hal itu kata beliau akan lebih cepat membekas ke dalam dada atau hati sanubari kita yang disebut asyaddu ta’tsiron (lebih membekas ke dalam hati sanubari kita). Hati jadi terasa lebih lapang. Dan ternyata sugesti dari beliau memang betul-betul kenyataan dan telah penulis rasakan. Alhamdulillah.