April 18, 2026

Oleh Sumanto Al Qurtubi

Tidak banyak orang di dunia ini yang memiliki kualitas pribadi seperti almarhum Paus Fransiskus, khususnya dalam hal kesahajaan hidup.

Selama hidupnya, sang paus tidak memiliki rumah pribadi, tidak memiliki tabungan, tidak memiliki investasi dan aset ini-itu, tidak memiliki mobil pribadi, dan lain lain.

Ia lakukan itu, bukan karena tidak ada kesempatan tetapi memang tidak mau hidup dengan kemewahan.

Saat ditahbiskan menjadi paus tahun 2013, ia sebetulnya berhak menerima gaji sekitar 360 ribu Euro (mungkin sekitar 7 milyar) setahun. Tapi ia tidak mengambilnya.

Sebagai paus, ia juga berhak menempati rumah yang sangat layak tetapi ia tidak memakainya malah memilih tinggal di “rumah kos-kosan” yang sederhana.

Sebagai paus pula, ia berhak menaiki mobil limosin yang nyaman. Tapi lagi-lagi ia tidak mau memakainya malah suka naik mobil butut.

Konon saat wafat, ia hanya meninggalkan uang sekitar 100 dollar Amerika (sekitar 1,5 juta) saja.

Sungguh tidak banyak para pemimpin agama yang memilih jalan hidup seperti dia.

Alih-alih memilih “jalur kesahajaan”, para pemimpin agama malah berlomba-lomba dengan kekayaan dan pamer kemewahan: rumah mewah, mobil mewah, perhiasan mewah, pakaian mewah… sangat kontras dengan para pendiri agama yang mereka puja-puji.

Jika kekayaan itu ia dapat dari usaha yang halal tentu tidak ada salahnya. Masalahnya tidak sedikit para pemuka agama yang tidak tahu malu mengorupsi, memanipulasi, mendoboli, mengumpulkan, dan menggarong harta dan uang dari umatnya atas nama agama dan bahkan Tuhan.

Tidak sedikit pula para pemimpin agama yang memasang bandrol ratusan juta sekali nyongor. Ini mau ceramah atau merampok?

Betul-betul menjijikkan. Sungguh munyuk sekuler jauh lebih mulia daripada mereka.