“Ketika Bahagia Berkedip”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI)
Illustration of "When Happiness Blinks": The Selected Poetry Collection (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesiam Writers of Satu Pena, Indonesian Creators of AI Era). Image Source: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-94 (Assisted by AI).
/1/
Ketika Bahagia Berkedip
Puisi Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA]
Bahagia itu berkedip, secepat bayangan
yang terlempar di hadapan mata,
seperti pelita yang tak pernah padam,
namun selalu menghilang saat kita mendekat.
Bahagia berlari,
bersembunyi di balik cermin tak bernyawa,
tersembunyi di dalam kata-kata manis yang menyakitkan.
Kita mencari bahagia dalam luka yang tak bisa sembuh,
Kita mencari bahagia dalam jejak-jejak yang ditinggalkan oleh waktu.
Bahagia bukanlah jarak yang bisa diukur.
Ia datang,
seolah mengelabui kita dengan senyum,
lalu pergi, meninggalkan kita dengan pertanyaan—apakah ini benar?
Bahagia itu seperti ilusi yang melangkah mundur,
meninggalkan kita dalam keremangan senja,
dan kita,
yang terlalu cepat mengejar,
tak pernah tahu bahwa bahagia itu hanya bertahan
sepanjang langkah kita menginginkannya.
Melbourne, Australia, 2012
/2/
Bahagia Ditanya
Puisi Yusuf Achmad
Tak perlu bertanya cara mencapai bahagia, bila katanya uang segalanya
Itu mungkin, namun bisa juga dusta. Bahagia bukan di tangan uang
Bukan harus begadang, atau mencari hiburan di tempat senang
Bahagia bisa sepele saja, bisa tak ke mana-mana, cukup diam saja, tak usah banyak tanya
Aku duduk, merenung dalam hening, tak usah meminta atau memaksa
Cukup tenangkan jiwa, bagi yang suka yoga
Atau berzikir, menyejukkan derita. Aku menggenggam pena, menulis segalanya
Cukup lakukan hobi yang dicinta
Tulislah segala bagi penulis setia, dendangkan atau dengarkan lagu jiwa
Tak perlu berkeluh kesah, cukup temukan damai dalam hati yang bersahaja
Bagi yang muda, jelajahilah dunia, temukan jati diri
Tumbuhkan mimpi dan aspirasi, biarkan semangat berkobar tinggi
Cintailah ilmu, kajilah segala hal, ciptakan karya dan temukan inspirasi dalam setiap langkah
Bagi ayah-bunda, jagalah anak tercinta
Bagi kakek-nenek, rawatlah cucu tersayang
Bagi sahabat, berbagilah tawa dan duka
Bagi semuanya, temukan cinta dalam segala perkara
Aku tersenyum, merasakan hangat pelukan, oh bahagia banyak caranya
Dalam keseharian yang sederhana, dalam setiap senyum yang tulus
Dalam setiap pelukan hangat, dalam setiap kebersamaan yang indah
Di sanalah bahagia kita temukan
Surabaya, Jatim
29 Desember 2024
——————————
Yusuf Achmad adalah seorang penulis aktif dan saat ini juga merupakan Kepala SMK SAINTREN Al -Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis dikenal dengan buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.
/3/
Ketika Bahagia Gugur
Puisi Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Bahagia gugur di langit kelam,
dalam pusara tak bernama, sunyi tenggelam.
Ia berkedip di rasi patah,
seperti doa yang tak lagi ramah.
Di jagat sepi ia melayang,
terombang-ambing tanpa bayang.
Bukan planet, bukan bintang,
hanya sebuah titik yang tak dikenang.
Mungkin ia luka yang menganga,
tertelan hitam semesta fana.
Atau gema dari masa lalu,
yang menguap di angin beku.
Aku menunggu, tapi ia tak turun,
terbakar di ufuk, luruh tanpa pantun.
Barangkali bahagia memang begitu,
sebuah nyala yang padam sebelum sempat dirindu.
Melbourne, Australia, 2012
/4/
Ketika Bahagia Terjepit
Puisi Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Bahagia terjepit di kuku retak,
digores keras, tertinggal jejak.
Mengelupas dalam daging luka,
menjerit pelan, tapi siapa yang peka?
Ia bukan kilau di rak-rak toko,
bukan bayangan di cermin palsu.
Ia melata di sela ubin basah,
di bilik gelap tanpa cahaya.
Di kota ini ia diburu waktu,
dilumat lapar, digilas debu.
Mereka mencarinya di gerigi baja,
tapi ia lenyap di antara derita.
Bahagia bukan senyum di bibir tipis,
bukan janji dalam pesta gemerlap.
Ia adalah gigil di tengah lapar,
atau keheningan yang menampar.
Melbourne, Australia, 2012
/5/
Bahagia yang Tertinggal di Retak Waktu
Puisi Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Bahagia adalah bunyi—
menggantung di lidah jendela,
mengiris pagi dengan dengung burung yang lupa bersiul.
Ia tidak bulat, tidak utuh,
tergelincir di antara celah ubin,
menguap dari cangkir yang tak pernah sempat diminum.
Aku mencarinya dalam kelopak lampu,
di lipatan waktu yang melayang seperti debu
—tapi debu pun tahu cara menghilang.
Bahagia boleh jadi tapak kaki di atas aspal,
menghantam tanah dengan debar yang tak ragu.
Bahagia bisa jadi kursi goyang,
yang berderit pelan,
mengayun ingatan yang tak ingin tidur.
Lalu, di mana bahagia yang selalu disebut?
Mungkin ia ada, mungkin ia hanya retakan kecil di kaca,
menangkap cahaya, tapi tak bisa digenggam.
Melbourne, Australia, 2012
/6/
Ketika Bahagia Mengelupas
Puisi Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Bahagia mengelupas di dinding pagi,
menggantung pada ranting sunyi.
Ia berbisik di telinga angin,
lalu melompat ke jurang hari.
Aku tak bertanya di mana ia bersembunyi,
mungkin di kancing baju yang lepas,
mungkin di sisa kopi yang menggigil,
atau di jemari pena yang kehilangan tinta.
Bagi yang muda, bahagia adalah kaki yang terus berlari,
mengejar cahaya yang tak pernah diam.
Bagi yang tua, bahagia adalah bayang-bayang kenangan,
melipat rindu dalam album waktu.
Namun, adakah bahagia yang utuh?
Ataukah ia hanya serpihan yang mencair,
meleleh di ujung waktu,
sebelum sempat kita genggam?
Melbourne, Australia, 2012
/7/
Ketika Surat Bahagia Sampai di Tanganmu
Puisi Leni Marlina
Kami tulis bahagia dengan tinta angin,
pada kertas yang melayang di dada langit.
Kami kirim jauh lewat doa-doa sunyi,
namun ia tersesat di lorong dunia yang gelap.
Di tangan bocah kecil ia sempat singgah,
seperti kilau mentari di kaca jendela.
Namun kereta waktu melaju,
menghapus jejaknya dalam deru roda.
Di kantung bapak berusia senja ia tersimpan,
namun lapar lebih nyaring bersuara.
Di dada ibu ia mengendap,
tapi musim terus menggugurkan harapan.
Mungkin kurir surat terlalu lelah,
menyusuri alamat yang tak kunjung selesai.
Atau bahagia memang bukan kepunyaan,
hanya nyala yang singgah sesaat,
lalu luruh bersama angin.
Jika puisi dalam surat ini sampai padamu,
bacalah dengan hati yang lapang.
Sebab bahagia bukan selalu untuk memiliki,
tapi kadang untuk sekedar dikenang,
sebelum ia pergi meninggalkan nyeri di hati.
Melbourne, Australia, 2012
——————-
Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani masa pertengahan program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)