“Ketika Ia Menjadi Sungai”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI)
Illustration for "When She Becomes a River": A Selected Poetry Collection (PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writers of Satu Pena, Indonesiam Creators of Era AI). Image Source: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-91 (Assisted by AI).
/1/
Ketika Ia Menjadi Sungai
Puisi Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Di balik tulang iganya,
angin seolah berteduh,
menjahit gerimis dengan serat urat yang menegang,
menampung beban yang sarat nama,
ia menjadi dermaga bagi langkah-langkah kecil
yang terseret arus.
Ia adalah tanah yang merekah dalam senyap,
membuka dirinya untuk akar yang lapar,
menyusui cahaya pada pucuk yang rapuh,
merelakan tubuhnya jadi musim
agar anak-anaknya tumbuh menjadi pohon.
Di punggungnya,
subuh menetes lambat,
keringatnya mengalir seperti sungai
yang tak pernah bertanya di mana muaranya,
asal mereka yang berenang di dalamnya
tahu cara menuju lautan.
Jika hari adalah batu yang tajam,
maka telapak kakinya telah hapal luka,
ia membangun tangga dari rasa lapar,
menjalin siang dan malam dengan benang tipis
agar anak-anaknya bisa berlari tanpa tertusuk duri.
Dan jika suatu hari anak-anaknya menjelma burung,
membentangkan sayap jauh dari sarang,
ia takkan bertanya kenapa senja terasa lengang—
ia hanya akan tersenyum,
karena tubuhnya telah menjadi sungai,
dan sungai selalu mengantar perahu ke samudra.
Melbourne, Australia, 2012
/2/
Dibalik Peluh
Puisi Dewi Farah
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Madura, Satu Pena Madura, Kreator Era AI]
Di bawah matahari yang membakar
Dalam gumpal langit yang sama
Kita berjuang dalam sunyi
Meretas mimpi dalam harap jiwa yang kian berapi
Sebab, setiap tetes peluh adalah harapan,
dalam merajut perjalanan panjang
Sebab, setiap langkah adalah do’a,
dalam meniti masa depan
Kerja keras yang tanpa henti
Kita memikul beban diri
Demi secawan gumawi dan sepintal benang suci
Ooooh..,
Kemanakah gerangan dikau berlari
Dibalik peluh, mimpi tertanam
Bertumbuh di tanah kesabaran
Mengalir diantara lekukan kerja keras
Penuh tekad yang tak pernah pudar
Seperti bintang yang setia bersinar
_ Madura, Jatim
3 Januari 2025
/3/
Ketika Langit Disayat Perang
Puisi Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kami anak negeri yang lahir dari bara,
dari nyala yang tak bisa disiram hujan,
menjejak tanah yang berkerut oleh lapar,
tapi mata kami—tungku yang menghanguskan gelap.
Langit disayat perang,
robek seperti kulit fajar,
angin menjerit,
waktu mengigau,
tapi langkah kami—pecahan meteorit,
membelah pekat tanpa menoleh ke belakang.
Kami menjahit hari dengan urat gemuruh,
membangun esok dari reruntuhan doa,
karena meski dunia melebur jadi abu,
kami menanam nyala di rongga tulangnya.
Kami bukan gema yang dikurung tembok,
bukan titik yang dihanyutkan sungai sejarah.
Kami badai yang menabrak batas,
mencatat nama kami di dada batu,
dengan darah yang tak bisa dibekukan.
Melbourne, Australia, 2013
/4/
Gemuruh Jiwa Yang Terdampar
Puisi Dewi Farah
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
Gadis kecil menyalakan lilin
Dengan lusuh pada wajah penuh peluh
Berderap melangkah menuju tubuh terbujur kaku
Yang di tangannya hanya tersisa selembar bender
Sebagai simbol kehidupan yang merdeka
Tapi kini,
Ruang itu tinggal puing penuh kesenyapan
Gadis kecil menggenggam bendera dengan aroma darah
Ia berteriak lantang!
“Ini tanah tempat kami menyemai kehidupan!”
“Mengapa Tuan mengambil segala dengan tiada belas?”
“Dimana hak itu bisa kembali, sedang ladang-ladang penuh dengan tubuh yang terbujur kaku”
“Tuan!
Tanah mereka yang lainnya sudah lama merdeka!”
“Mengapa tidak dengan tanah kami, Tuan!”
Anak-anak, perempuan, lelaki dan orang tua semua penuh dengan aroma darah
Ini tentang kemanusian yang mana Tuhan memberi kebebasan
Namun terbantai oleh keangkuhan Tuan
Gadis kecil terkulai dengan wajah pucat
Dan tanah itu kini hanya tersisa jiwa yang terdampar
_ Madura, Jatim
12 Januari 2025
———
Dewi Farah adalah Pengajar Bahasa dan Sastra di Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Indonesia Boarding school 2007-2011, Pendiri Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus Kepala Sekolah (PAUD Ar Rahmah Nurul Hidayah) Ds. Lembung Kec. Galis Kab. Pamekasan sejak 2012-sekarang, Pengurus Himpaudi sejak 2014-skrg. Koordinator Pusat angkatan’18 (Artzhevant) TMI Pi Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Indonesia Boarding school.
/5/
Tangan yang Menggenggam Api
Puisi Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Subar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kami lahir dari dentuman bumi yang menolak tidur,
bukan dari kabut yang pasrah pada pagi.
Tangan kami menggenggam api,
bukan untuk membakar dunia,
tapi untuk menghidupkan yang hampir mati.
Kami perempuan yang mengangkat puing peradaban,
menjadi akar yang tak sudi tercerabut,
menjadi dinding yang menolak runtuh,
menjadi sayap yang menolak diremuk.
Kami menapak di jalan yang dihujani paku,
luka kami adalah sungai perlawanan,
dan dari darah yang jatuh ke tanah,
tumbuh pohon-pohon yang menjulur ke langit.
Melbourne, Australia, 2013
/6/
Jika Bumi Rengkah
Puisi Leni Marlina
[PPIPM – Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Subar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
Kami bukan siluet yang diremukkan malam,
bukan bisikan yang dihisap kabut.
Kami suara yang mendobrak keheningan,
tangan-tangan yang menambal langit yang koyak,
badai yang menggetarkan tembok ketidakadilan.
Jika bumi rengkah,
kami menjadi sungai yang menyatu.
Jika hujan mencambuk dada, kami menjadi perisai.
Jika malam menelan segala, kami menjadi bara,
dan jika dunia mencoba menghapus kami,
kami akan menulis diri kami sendiri
di cakrawala yang tak bisa dipalsukan.
Kami adalah anak negeri yang melawan,
bukan dengan baja,
tapi dengan cinta yang lebih tajam dari belati,
lebih kuat dari jeruji yang ingin mengurung kami.
Jika sejarah ingin membungkam kami,
kami sendiri yang akan menuliskannya,
dengan tangan yang menolak menyerah.
Melbourne, Australia, 2013
————
Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2013, saat penulis menjalani masa akhir program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)