April 21, 2026

Esai Oleh Raudhatul Aini Adawiyah

[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]

Puisi telah lama menjadi sarana yang ampuh untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan ide. Melalui puisi, kita diundang untuk menjelajahi emosi yang mungkin belum pernah kita alami sendiri. Banyak puisi membawa pesan positif yang memperkaya dan membimbing hidup kita. Dalam esai ini, saya akan membahasa inti dari tiga puisi kuat: “Gurindam Ramadan” (2025) oleh Saunir Saun, “Bulan Cinta” (2025) oleh Dilla, S.Pd., dan “Lagu Harmoni di Tanah Air” (2025) oleh Ahkam Jayadi, menyoroti makna tersembunyi dan alasan mengapa puisi-puisi ini penting dalam membangkitkan pertumbuhan spiritual dan hubungan manusia.

Puisi pertama yang ingin saya bahas adalah “Gurindam Ramadan” (2025) oleh Saunir Saun. Puisi ini secara halus namun kuat menunjukkan bahwa iman sejati dalam Islam secara alami menuntun orang beriman untuk sepenuh hati merangkul puasa Ramadan dan makna spiritualnya yang mendalam. Puisi ini menekankan pentingnya memahami ayat-ayat suci, mengenali hikmah di balik puasa, dan menghargai berkah serta peluang luar biasa untuk pertumbuhan yang ditawarkan oleh Ramadan. Puisi ini menginspirasi komitmen yang mendalam dan memperingatkan agar tidak mengabaikan bulan suci ini. Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan bahwa mereka yang menginternalisasi kebenaran ini akan mencapai pencerahan spiritual dan pahala yang luar biasa setelah sebulan beribadah.

Puisi kedua adalah “Bulan Cinta” (2025) oleh Dilla, S.Pd. Karya ini dengan indah menggambarkan kedatangan Ramadan sebagai momen yang sangat penting secara spiritual, dilambangkan dengan bisikan bulan sabit baru dan kebangkitan iman, yang tercermin dalam lentera yang berkedip. Puisi ini menyampaikan bahwa Ramadan adalah “Bulan Mulia,” yang penuh dengan kasih sayang dan cinta. Mekarnya kebahagiaan sejati selama waktu suci ini menekankan nilai spiritualnya yang mendalam dan perannya sebagai simbol rahmat ilahi.

Puisi ketiga dan terakhir adalah “Lagu Harmoni di Tanah Air” (2025) oleh Ahkam Jayadi. Puisi ini dengan elegan menggambarkan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dan saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Meskipun ada perbedaan keyakinan—yang diwakili oleh keberadaan masjid, gereja, dan kuil—puisi ini menegaskan bahwa persaudaraan dan solidaritas sejati tetap ada. Tindakan dukungan antaragama selama Ramadan, Natal, dan Waisak menunjukkan pemahaman dan empati yang mendalam, menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang melainkan peluang untuk persatuan dan pembangunan komunitas yang penuh kasih dan saling percaya.

Sebagai kesimpulan, puisi bukan hanya kumpulan kata-kata berirama atau sarana untuk menyampaikan emosi dan ide. Puisi juga berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan kemurnian spiritual dan menumbuhkan cinta serta kasih sayang terhadap sesama. Ketiga puisi yang dibahas—oleh Saunir Saun, Dilla, dan Ahkam Jayadi—adalah contoh cemerlang bagaimana puisi dapat meningkatkan pemahaman kita tentang iman, cinta, dan kemanusiaan.

Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025

Referensi

Puisi 1:
Gurindam Ramadan (2025), sebuah puisi oleh Saunir Saun.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

Puisi 2:
Bulan Cinta (2025), sebuah puisi oleh Dilla, S.Pd.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

Puisi 3:
Lagu Harmoni di Tanah Air (2025), sebuah puisi oleh Ahkam Jayadi.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

———————————
Tentang Raudhatul Aini Adawiyah:

Raudhatul Aini Adawiyah adalah mahasiswa Sastra Inggris di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, di Sumatera Barat, Indonesia. Lahir pada tahun 2006, di Bogor, ia lulus dari SMAN 1 Sungai Pua pada tahun 2024.

Selain itu, Raudhatul merupakan anggota aktif dari beberapa komunitas, termasuk PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).

Karya Raudhatul di atas dipresentasikan secara virtual pada Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) dan Seminar Online Internasional tentang Puisi (IOSoP) yang diselenggarakan pada 31 Mei di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, yang diadakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan UNP.

Video presentasi Raudhatul dari acara tersebut dapat diakses secara publik melalui tautan resmi berikut: [https://youtu.be/3q7dOFWbbIE?si=eS-najALkxp978Pm](https://youtu.be/3q7dOFWbbIE?si=eS-najALkxp978Pm)

Esai Oleh Raudhatul Aini Adawiyah

[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]

Puisi telah lama menjadi sarana yang ampuh untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan ide. Melalui puisi, kita diundang untuk menjelajahi emosi yang mungkin belum pernah kita alami sendiri. Banyak puisi membawa pesan positif yang memperkaya dan membimbing hidup kita. Dalam esai ini, saya akan membahasa inti dari tiga puisi kuat: “Gurindam Ramadan” (2025) oleh Saunir Saun, “Bulan Cinta” (2025) oleh Dilla, S.Pd., dan “Lagu Harmoni di Tanah Air” (2025) oleh Ahkam Jayadi, menyoroti makna tersembunyi dan alasan mengapa puisi-puisi ini penting dalam membangkitkan pertumbuhan spiritual dan hubungan manusia.

Puisi pertama yang ingin saya bahas adalah “Gurindam Ramadan” (2025) oleh Saunir Saun. Puisi ini secara halus namun kuat menunjukkan bahwa iman sejati dalam Islam secara alami menuntun orang beriman untuk sepenuh hati merangkul puasa Ramadan dan makna spiritualnya yang mendalam. Puisi ini menekankan pentingnya memahami ayat-ayat suci, mengenali hikmah di balik puasa, dan menghargai berkah serta peluang luar biasa untuk pertumbuhan yang ditawarkan oleh Ramadan. Puisi ini menginspirasi komitmen yang mendalam dan memperingatkan agar tidak mengabaikan bulan suci ini. Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan bahwa mereka yang menginternalisasi kebenaran ini akan mencapai pencerahan spiritual dan pahala yang luar biasa setelah sebulan beribadah.

Puisi kedua adalah “Bulan Cinta” (2025) oleh Dilla, S.Pd. Karya ini dengan indah menggambarkan kedatangan Ramadan sebagai momen yang sangat penting secara spiritual, dilambangkan dengan bisikan bulan sabit baru dan kebangkitan iman, yang tercermin dalam lentera yang berkedip. Puisi ini menyampaikan bahwa Ramadan adalah “Bulan Mulia,” yang penuh dengan kasih sayang dan cinta. Mekarnya kebahagiaan sejati selama waktu suci ini menekankan nilai spiritualnya yang mendalam dan perannya sebagai simbol rahmat ilahi.

Puisi ketiga dan terakhir adalah “Lagu Harmoni di Tanah Air” (2025) oleh Ahkam Jayadi. Puisi ini dengan elegan menggambarkan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dan saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Meskipun ada perbedaan keyakinan—yang diwakili oleh keberadaan masjid, gereja, dan kuil—puisi ini menegaskan bahwa persaudaraan dan solidaritas sejati tetap ada. Tindakan dukungan antaragama selama Ramadan, Natal, dan Waisak menunjukkan pemahaman dan empati yang mendalam, menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang melainkan peluang untuk persatuan dan pembangunan komunitas yang penuh kasih dan saling percaya.

Sebagai kesimpulan, puisi bukan hanya kumpulan kata-kata berirama atau sarana untuk menyampaikan emosi dan ide. Puisi juga berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan kemurnian spiritual dan menumbuhkan cinta serta kasih sayang terhadap sesama. Ketiga puisi yang dibahas—oleh Saunir Saun, Dilla, dan Ahkam Jayadi—adalah contoh cemerlang bagaimana puisi dapat meningkatkan pemahaman kita tentang iman, cinta, dan kemanusiaan.

Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025

Referensi

Puisi 1:
Gurindam Ramadan (2025), sebuah puisi oleh Saunir Saun.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

Puisi 2:
Bulan Cinta (2025), sebuah puisi oleh Dilla, S.Pd.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

Puisi 3:
Lagu Harmoni di Tanah Air (2025), sebuah puisi oleh Ahkam Jayadi.
Suara Anak Negeri News. Diakses dari [https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/](https://suaraanaknegerinews.com/ramadhan-melts-the-rust-of-the-world-the-special-poems-anthology-edited-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-international-community-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of/) Publikasi online pertama di platform digital adalah pada 30 Maret 2025. Diakses April 2025.

———————————
Tentang Raudhatul Aini Adawiyah:

Raudhatul Aini Adawiyah adalah mahasiswa Sastra Inggris di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, di Sumatera Barat, Indonesia. Lahir pada tahun 2006, di Bogor, ia lulus dari SMAN 1 Sungai Pua pada tahun 2024.

Selain itu, Raudhatul merupakan anggota aktif dari beberapa komunitas, termasuk PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).

Karya Raudhatul di atas dipresentasikan secara virtual pada Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) dan Seminar Online Internasional tentang Puisi (IOSoP) yang diselenggarakan pada 31 Mei di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, yang diadakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan UNP.

Video presentasi Raudhatul dari acara tersebut dapat diakses secara publik melalui tautan resmi berikut: