Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

KETUA UMUM APS LAUS D.C. RUMAYOM DAN WAKIL BUPATI BOVEN DIGOEL MEMBUKA KONFERENSI PERTAMA MASYARAKAT ADAT 6 SUKU (MUYU, WAMBON, AWUYU, KOMBAY, KOROWAY DAN WANGGOM) KABUPATEN BOVEN DIGOEL PAPUA SELATAN

Laporan: APS Papua Selatan

Bovendigul, 17 November 2025 — suaraanaknegerinews.com| Wakil Bupati Boven Digoel, Marlinus, mewakili Bupati Boven Digoel bersama Ketua Umum APS, Laus D.C. Rumayom, secara resmi membuka Konferensi Pertama Masyarakat Adat enam suku (Muyu, Wambon, Awuyu, Kombay, Koroway dan Wanggom) di Aula Kantor Bupati Boven Digoel. Acara pembukaan diawali dengan tarian Lomana dari Suku Wambon dan dipandu oleh Vitalis Dambi sebagai moderator.

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Suku Koroway, Adonia Yalengkatu, yang mewakili enam suku tersebut menegaskan bahwa konferensi ini merupakan momentum sejarah sekaligus kebangkitan masyarakat adat untuk menata diri dan membangun Boven Digoel secara lebih baik dan berkelanjutan. Ia menyoroti masih banyaknya wilayah terisolasi yang membutuhkan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, perumahan, serta fasilitas kesehatan dan pendidikan yang layak. Menurutnya, banyak anak-anak Korowai dan anak-anak dari suku lainnya belum memperoleh kesempatan pendidikan yang setara dengan daerah lain di Papua dan Indonesia. Ia berharap konferensi ini dapat melahirkan rumusan dan pokok-pokok pikiran strategis sebagai dasar perencanaan pembangunan Boven Digoel di masa mendatang.

Konferensi yang mengusung tema “Selamatkan Manusia, Tanah dan Sumber Daya Alam Boven Digoel” ini turut dihadiri perwakilan BP3OKP Papua Selatan, dr. Ira Nova Olyvia Jowa dan Frederik Haryanto Sumbung. Selain itu, hadir pula anggota DPRD Papua Selatan Alo Yopeng, anggota MRP Papua Selatan Frengky Wombon, dan anggota DPRK Boven Digoel Yan Maruwo. Para tokoh tersebut memberikan dukungan penuh sebagai narasumber dan fasilitator dalam membahas berbagai isu pembangunan di lingkungan masyarakat adat.

Dalam konferensi ini, sejumlah isu penting menjadi fokus pembahasan enam suku, antara lain sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur. Isu strategis lainnya yang turut dibahas meliputi potensi konflik antar suku, pengelolaan sumber daya alam, pemetaan tanah adat, serta ancaman investasi asing yang masuk, khususnya di bidang kelapa sawit, kehutanan, dan pertambangan.

Sebagai pembicara utama, Laus D.C. Rumayom menegaskan bahwa inilah saatnya masyarakat adat Boven Digoel bangkit, menata diri, dan bersama-sama membangun wilayahnya menuju kemajuan. Ia menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia di enam suku menjadi kunci keberhasilan pembangunan masa depan. Menurutnya, meski Boven Digoel masih tergolong tertinggal dan beberapa wilayahnya terisolir, optimisme harus tetap dijaga. Perubahan hanya dapat terwujud jika masyarakat adat, pemerintah, dan lembaga-lembaga keagamaan berkolaborasi menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Ketua Panitia Konferensi, Frengki Lande, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas komitmen para kepala suku dan seluruh utusan yang telah hadir serta berperan aktif dalam membahas beragam persoalan pembangunan di wilayah masing-masing. Ia menambahkan bahwa panitia bersama tim perumus akan menyusun hasil konferensi untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya penguatan visi dan misi bupati, penyempurnaan RPJMD, serta percepatan pembangunan Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.

Dalam sambutan penutup, Kepala Suku Wambon, Rufus Borok, mewakili enam kepala suku, menyampaikan apresiasi kepada Analisis Papua Strategis (APS) dan APS Center for Development and Global Studies yang telah memfasilitasi penyelenggaraan Konferensi Pertama Masyarakat Adat enam suku Boven Digoel. Ia menegaskan bahwa komitmen ini merupakan bagian dari upaya pembangunan masyarakat adat Papua. Rufus Borok menekankan bahwa masyarakat adat sebagai pemilik tanah dan negeri harus mampu bangkit dan berperan dalam membangun daerahnya. Ia juga mengingatkan bahwa Boven Digoel merupakan titik penting dalam sejarah Indonesia dan oleh karena itu, daerah ini tidak boleh dilupakan dalam agenda pembangunan bangsa.