Era Nurza
–
Langit hari ini seperti sedang ragu
menimbang antara cerah dan runtuh
seolah-olah ia membuka lembaran kalender
yang huruf-hurufnya terhapus hujan semalam
Awan berjalan mundur
mengulang langkah yang tak pernah ia pahami
sementara angin menulis pesan singkat
di daun-daun yang bergetar seakan gelisah
Di bawah kanopi udara plinplan
kita menjadi saksi perubahan yang repot
mencari arti dari embun yang jatuh terlambat
atau panas yang datang lebih cepat dari janji
Kota pun ikut bingung
asap knalpot menari dengan gerimis
jalan raya bertanya pada ban mobil
kapan ia boleh kering kapan ia harus pasrah
Kadang sinar matahari pecah
seperti kaca yang dibanting langit
menyilaukan harapan yang belum siap tumbuh
Kadang gelap melorot begitu saja
Bak tirai ditarik oleh tangan tak terlihat
Musim tak lagi empat
ia menjadi perasaan yang berubah-ubah
mudah tersinggung
mudah meledak
mudah hilang arah
Di tengah semuanya
kita belajar menjadi manusia yang lentur
menyimpan payung dan kacamata hitam
dalam tas yang sama
seakan hidup memang mengajarkan
bahwa kepastian hanyalah rumor
dan langit
yang hari ini tampak canggung di atas kepala
mungkin sedang mencari dirinya sendiri
mungkin butuh waktu untuk jujur
atau mungkin ia hanya ingin kita mengerti
bahwa bumi semakin sulít ditebak
dan kita pun begitu
Maka biarlah ia ragu
biarlah ia memilih dengan pelan
sebab di balik kebimbangannya
ada doa yang tetap naik
ada harapan yang tetap terbang
dan ada manusia
yang tetap belajar menunggu
—–
Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, Aktif di komunitas literasi seperti PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati.
Padang, November 2025