April 23, 2026

Ketuk Hati Siswa untuk Menggelorakan Cinta Allah dan Bangsa: Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro Pimpin Muhasabah, Dzikir dan Doa Kemerdekaan

Sawahlunto — Di bawah langit pagi yang berarak tenang, ketika embun masih menggantung di pucuk-pucuk rumput halaman madrasah, suara dzikir bergema lirih, menembus langit dan mengetuk pintu-pintu hati yang haus akan makna kemerdekaan sejati. Pada Jumat pagi, 22 Agustus 2025, halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto berubah menjadi samudra spiritual yang mengalirkan keheningan khusyuk, kala Kepala Madrasah, Dafril Tuanku Bandaro, memimpin muhasabah, dzikir, dan doa kemerdekaan.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia adalah ziarah batin yang menggali kembali makna hakiki dari kemerdekaan: bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, namun juga merdeka dari kejumudan jiwa, kebekuan nurani, dan kelalaian terhadap Tuhan serta tanah tumpah darah.

Hadir dalam acara itu seluruh unsur madrasah: para Wakil Kepala, Kepala Urusan Tata Usaha, para guru, tenaga kependidikan, serta 400 siswa yang duduk bersila dalam lingkaran keheningan. Dalam balutan kesederhanaan, kegiatan berlangsung penuh khidmat, syahdu, dan menggetarkan jiwa.

Dalam muhasabahnya, Dafril membuka dengan lantunan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat itu menggema di angkasa, menyentuh relung hati para siswa yang menyimak dengan mata terpejam, seolah tiap kata membisikkan pesan ilahi untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab atas masa depan baik sebagai hamba Allah maupun sebagai warga bangsa.

Dafril mengurai makna ayat tersebut dalam konteks kemerdekaan:

“Kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan amanah. Maka siapa yang ingin menjadi generasi hebat, haruslah tumbuh dengan cinta: cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada sesama, cinta kepada alam, dan cinta kepada tanah air. Tanpa cinta, jiwa akan kosong; dan bangsa tanpa cinta adalah bangsa yang kehilangan arah.”

Ia menegaskan, kegiatan ini adalah bagian dari upaya membentuk generasi Qur’ani yang tangguh, generasi Germas 2045 Generasi Emas yang lahir dari proses pendidikan spiritual dan karakter sejak dini.

Tak hanya retorika, kegiatan ini menjadi wujud nyata dari pendidikan holistik yang menjangkau dimensi ruhani dan moral. Dzikir dan doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual, tetapi adalah bentuk pengakuan atas ketergantungan mutlak kepada Sang Maha Kuasa dalam menapaki jalan sejarah dan masa depan bangsa.

Suasana haru menyelimuti saat untaian doa dilantunkan. Mata-mata bening memejam, bibir bergetar, dan hati berbisik dalam diam. Di tengah riuh dunia yang sering memekakkan nurani, pagi itu di Sawahlunto, sekelompok anak bangsa kembali diingatkan: bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada bangsa, adalah dua sayap yang harus terus dibentangkan menuju cita-cita luhur Indonesia.

 

Kontributor: Nofri Hendra

Editor: DTB