April 23, 2026

Tanamkan Nilai-Nilai Moderasi dalam Jantung Pendidikan : Ketua POKJAWAS, Muhammad Yustar Bimbing Guru MAN Kota Sawahlunto

SAWAHLUNTO, 21 Agustus 2025 Di sebuah ruang yang sederhana namun penuh makna di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto, Kamis, 21 Agustus 2025, sebuah langkah kecil untuk masa depan besar pendidikan tengah dirintis. Di ruang majelis guru yang menjadi saksi bisu berbagai dinamika pembelajaran, Ketua Kelompok Kerja Pengawas Madrasah (POKJAWAS) Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Muhammad Yustar, hadir bukan sekadar memberi pengarahan tetapi menanamkan sebuah nilai luhur Moderasi Beragama.

 

Dalam pembinaan yang berlangsung penuh kehangatan dan keseriusan, Yustar memfokuskan arah pandang peserta pada pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam struktur pembelajaran mulai dari Komponen Operasional Madrasah (KOM), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), hingga praktik nyata di dalam kelas. Bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai budaya yang hidup dalam denyut kehidupan madrasah.

 

Peserta kegiatan terdiri dari jajaran penting madrasah: Wakil Kepala Bidang Kurikulum Oky Loly Weny, Wakil Kesiswaan Syafri Ervandi, serta para guru inspiratif seperti Fatma Yusni, Putri Syuhaida, Fuara Dila Sasmi dan Nada Deswita. Mereka menyimak, berdialog, dan menyelami makna-makna moderasi dalam bingkai keilmuan dan kebangsaan. Tak sekadar mendengar, mereka menyerap.

 

Yustar, yang juga menjabat sebagai Pengawas Manajerial MAN Kota Sawahlunto, membuka cakrawala berpikir para guru dengan menyajikan pendekatan-pendekatan pedagogis dalam menyisipkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penghargaan terhadap keragaman dalam setiap lembar silabus dan interaksi pembelajaran.

 

”Moderasi bukan hanya materi, ia adalah sikap, dan pendidikan adalah wadah terbaik untuk menyemainya,” ungkap Yustar dengan nada penuh keyakinan.

 

Pembinaan ini merupakan bagian dari gerakan besar Kementerian Agama yang tengah menggulirkan Moderasi Beragama sebagai landasan kurikulum berbasis cinta dan karakter kebangsaan. Menurut Yustar, moderasi bukan soal menyeragamkan pandangan, tetapi merawat perbedaan dalam koridor kesepakatan kebangsaan.

 

Sementara itu, dari Kota Padang, Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril, Tuanku Bandaro, menyampaikan apresiasinya melalui sambungan daring. Dalam nada yang penuh kebanggaan, Dafril mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran Ketua POKJAWAS dan kepeduliannya terhadap penguatan karakter madrasah.

 

”Apa yang dilakukan hari ini adalah manifestasi dari cita-cita besar Kementerian Agama, sebagaimana tertuang dalam Asta Protas: mewujudkan pendidikan yang unggul, ramah, dan terintegrasi. Saya sangat mengapresiasi,” ujar Dafril.

 

Ia juga menegaskan pentingnya menyatukan nilai moderasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta, yakni kurikulum yang menekankan pada kasih sayang, penghargaan terhadap sesama, dan keberanian untuk berbeda dalam bingkai persatuan.

 

Dengan langkah ini, MAN Kota Sawahlunto tidak hanya mendidik dengan ilmu, tetapi dengan nurani. Menjadikan ruang kelas sebagai taman keberagaman, dan guru sebagai penanam nilai yang kelak berbuah pada kematangan bangsa.

 

Kontributor : Nofri Hendra

Editor : DTB