April 19, 2026

YOGYAKARTA – suaraanaknegerinews.com| Pada Senin 15/9/2025 pukul O6.05 WIB saya memotret Pasar Kranggan di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Yogyakarta. Letak pasar tradisional ini kurang lebih 200 – 300 meter dari Perapatan Tugu. Menurut yang saya baca pasar ini sudah ada sejak abad ke-19 dan hingga hari ini menjadi salah satu pasar yang ramai dengan pedagang dan pembeli. Pasti pasar ini sudah beberapa kali direnovasi. Pasar ini punya dua lantai. Ketika saya datang pagi ini, pasar sudah ramai dengan pembeli kue subuh.

Di lantai dua, kebanyakan untuk kuliner yang buka hingga pukul 22.0O WIB. Di sini dihidangkan berbagai kuliner : lokal dan asing seperti menu Korea, Jepang, Barat, dan Cina. Anak – anak muda adalah konsumen kuliner di Pasar Kranggan.

Ada kisah nyata yang terjadi di depan Pasar Kranggan yang diceritakan Ibu SK Trimurti dalam buku “Tahta untuk Rakyat”, penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1982. Begini inti pengalaman yang disaksikan Ibu SK Trimurti (hal 227 – 228).

Menurut Bu SK Trimurti pada 1946 tanggal dan bulannya ia lupa, ia sedang naik andong dari Jalan Malioboro menuju rumahnya di utara Tugu. Dari perapatan Tugu ia melihat banyak orang berkerumun di depan Pasar Kranggan. Ibu SK turun dari andong ingin tahu ada apa. Ternyata seorang perempuan pedagang sedang jatuh pingsan.

Kenapa pingsan? Dari kerumunan orang, SK Trimurti mengetahui kejadiannya. Seorang pedagang beras sedang menunggu mobil di Kaliurang . Dari kejauhan meluncur mobil jeep dan pedagang ini melambaikan tangan menghentikan mobil untuk nunut. Jeep berhenti dan ibu itu naik. Sebelum naik , pedagang ini menyuruh sopir untuk mengangkat beberapa karung beras ke dalam mobil. Sang sopir patuh melakukannya.

Di depan Pasar Krangggan, pedagang beras minta berhenti karena sudah sampai di tujuan. Lalu sopir menurunkan karung – karung beras. Dengan sikap tegas ibu ini memberikan uang kepada sang sopir. Namun dengan sikap sopan sopir mengembalikan uang itu. Tentu saja ibu ini marah – marah karena mengira sopir menuntut uang yang lebih banyak. Dengan nada mengomel pedagang beras ini mengatakan biasanya sopir – sopir lain mau menerima sejumlah uang tersebut. Tanpa berkata apa -apa sopir melanjutkan perjalanan.

Seorang polisi yang dari kejauhan melihat adegan ini mendekati pedagang tersebut. “Apakah mbakyu tahu siapa sopir tadi?”, tanya pak polisi.

“Sopir ya sopir. Habis perkara. Saya tidak perlu tahu namanya. Memang sopir satu ini agak aneh. ,” jawabnya masih jengkel.

Kemudian kata polisi,”Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Sopir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja Ngayogyakarta ini”. Seketika tubuh pedagang beras tersebut terjerembab ke tanah. Pingsan.

Selamat pagi
Hormat utk Sri Sultan HB IX
Salam
Tonnio Irnawan
20/9/2025