April 20, 2026
leni12

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina "Spiral yang Mengunci Langit". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 808 Assisted by AI.

/1/

Spiral yang Mengunci Langit

Puisi oleh Leni Marlina

<<1>>
Di lekuk spiral tak berujung,
dunia mengerut seperti kelopak bunga
yang takut pada cahaya.
Kebenaran berjalan tertatih
di atas jembatan retak,
tangannya terikat rantai ketakutan,
dan mulutnya dibungkam oleh topeng
yang terbuat dari senyuman palsu.

Angin mencoba berseru,
tapi suaranya menjadi bisikan,
terperangkap di dinding keheningan.
Langit pun menunduk,
menyaksikan mereka
menanam kebohongan di ladang nurani,
lalu menuai bunga-bunga dosa
yang mekar dengan aroma pengkhianatan.

<<2>>
Bumi adalah saksi yang kelelahan,
tulangnya digali untuk emas
yang membutakan mata hati.
Air mata sungainya mengalir hampa,
mencari samudra keadilan
yang telah menguap
di bawah matahari keserakahan.

Para nabi pernah membawa obor,
berjalan di antara kabut
yang tak mau menyibak.
Mereka menitipkan pesan,
“Jadilah penjaga cahayamu sendiri.”
Namun spiral ini terus menggulung,
memadamkan nyala kecil
di dada manusia.

<<3>>
Ketakutan itu bagaikan raja tanpa mahkota,
menguasai lidah-lidah yang gemetar,
sementara kebenaran terkubur
di bawah karpet kompromi.
Diam menjadi senjata,
tajam untuk menusuk nurani,
tapi tumpul untuk melawan tirani.

“Amar ma’ruf nahi mungkar,”
bukan hanya suara angin malam
yang berlalu tanpa bekas.
Ia adalah suara di puncak kebenaran,
menyerukan keberanian pada jiwa yang letih.
Namun, berapa banyak yang mendengar?
Berapa banyak yang bangkit
melawan gravitasi spiral ini?

<<4>>
Langit menangis,
tetesnya jatuh menjadi doa,
memohon manusia menengadah,
menatap cahaya yang masih tersisa.
Tapi bumi juga bicara,
menggigil di bawah langkah-langkah
yang lupa cara bergetar untuk kebenaran.

Jika spiral ini harus pecah,
biarlah ia pecah oleh tangan kecil
yang percaya pada fajar,
oleh jiwa yang berani berjalan
meski sendiri.
Dan ketika itu terjadi,
langit akan tersenyum,
dan bumi akan bernapas
untuk pertama kalinya,
setelah sekian lama.

Padang, Sumbar, 2015

/2/

Hujan di Luar Labirinmu

Puisi oleh Leni Marlina

Hujan meruntuhkan kabut yang menutupi langit,
tetesannya adalah pesan yang tak bisa dibungkam.
Di luar labirinmu, hujan itu bertanya,
kenapa kau bersembunyi di balik cermin yang retak?
Tetesan hujan menyelusup,
memaksa bumi dan langit berbicara denganmu.
Kau berpaling, tetapi kebenaran
menggenggam tanganmu seperti rantai yang tak terlihat.

Labirinmu adalah ilusi,
pencariannya adalah lari dari kebenaran.
Namun hujan itu mengingatkanmu,
bahwa langit tak pernah berhenti menunggu.
Kebenaran adalah udara yang kau hirup,
meskipun kadang kau membungkamnya
untuk menghindari apa yang tak bisa dihentikan.

Padang, Sumbar, 2015

/3/

Bayangan yang Menghuni Lorong Hatimu

Puisi oleh Leni Marlina

Setiap lorong di hatimu adalah ruang terbuka,
di mana bayangan bergerak bebas,
tetapi tak bisa bersembunyi dari keadilan.
Bayangan itu bisu, namun kebenaran datang
seperti cahaya yang meruntuhkan kegelapan.
“Di mana keberanianmu?”
tanya suara yang menggema dalam dada.
Kau mencoba mengabaikan,
tetapi kebenaran adalah gema yang tak bisa kau usir.

Kau mungkin memilih untuk diam,
namun bayangan tak bisa mendiamkan hatimu.
Kebenaran akan melanjutkan perjalanannya,
meski kau berusaha menghindarinya.
Bayangan hanyalah cermin dari dirimu,
kebenaran adalah api yang membakar,
mengubah lorong hatimu menjadi terang.

Padang, Sumbar, 2024

/3/

Nafas di Pusaran Waktu Dirimu

Puisi oleh Leni Marlina

Waktu berputar, dan kau terperangkap di dalamnya,
seperti angin yang diputar-putar dalam ruang sempit.
Namun kebenaran ada dalam detik-detik yang kau lepaskan,
dalam setiap nafas yang melawan arus.
Kau adalah agen dari waktu itu,
tak bisa diam, tak bisa disangkal.
Dengan keberanianmu, kau menariknya kembali,
memutuskan setiap jerat yang ingin menghentikanmu.

Kebenaran adalah keputusan yang kau ambil,
bukan hanya dalam detik yang berlalu,
tapi dalam nafas yang kau tarik
untuk melepaskan diri dari pusaran itu.
Waktu terdiam,
karena dalam keheningan itu kau menemukannya:
kebenaran adalah pemecah kekosongan,
dan kau adalah agen yang membebaskan diri.

Padang, Sumbar, 2015

/5/

Cermin Retak di Langit Labirimu

Puisi oleh Leni Marlina

Langit di atasmu adalah cermin yang pecah,
dan setiap serpihannya memantulkan kebenaran.
Kau menatap retakan itu,
tapi setiap kali kau menundukkan kepala,
kebenaran mengejarmu di setiap pecahan.
Bukan cermin yang harus kau perbaiki,
tapi cara pandangmu yang tak pernah mau melihat.

Di balik retakan itu ada agen kebenaran,
melalui celah-celah kecil,
cahaya itu menyusup ke dalam hatimu,
memaksamu melihat bukan hanya apa yang ingin kau lihat.
Retakan itu adalah pintu,
bukan penghancuran.
Kebenaran tumbuh dari celah yang kau hindari,
dan kau tak bisa menutupnya lagi.

Padang, Sumbar, 2024

/6/

Kau yang Kecil di Tengah Labirinmu

Puisi oleh Leni Marlina

Di tengah labirimmu yang kegelapan,
kau yang kecil memegang api,
dan dalam genggaman itu tersembunyi kebenaran.
Orang-orang mungkin menertawakanmu,
mengira cahayamu tak cukup untuk menghancurkan bayangan,
namun mereka tak tahu,
bahwa api itu adalah kebenaran yang tak bisa dipadamkan.

Dalam langkahmu,
kau menanamkan kebenaran,
meniupkan api ke dalam angin yang mengamuk,
dan lihatlah bagaimana ia membakar
semua yang menghalangi perjalananmu.
Cahaya itu bukan hanya milikmu,
ia adalah milik setiap jiwa, yang berani
menghadapinya,
tak pernah gentar,
tak kenal takut,
pantang surut.

Padang, Sumbar, 2024.

———————————–

————————–
Biografi Singkat

Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2015. Setelah 8 tahun kemudian, puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Leni Marlina merupakan pendiri dan ketua Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat); pendiri dan ketua Poetry-Pen International Community.

Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya: (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02, (3) ECSC (English Chilit Smart Course), dan (4) MEC (Marvelous English Course).