Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) Tangisan Kompas yang Lelah
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) "Tangisan Kompas yang Lelah". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 709 by AI.
/1/
Tangisan Kompas yang Lelah
Puisi oleh Leni Marlina
Kau memegang kompas itu dengan tangan gemetar.
Jarumnya menari seperti hati yang bimbang.
“Ke mana utara?” tanyamu,
tapi logam itu diam,
seolah arah hanyalah fatamorgana.
Besi tua di dalamnya berbisik:
“Dulu kami adalah penunjuk jalan,
kini hanya gema dari langkah-langkah
yang tak pernah benar-benar sampai.”
Kau menatap langit yang hening,
sementara laut di bawahmu tertawa getir.
Mungkin, ia tahu manusia sering salah membaca peta.
Namun kau tetap menggenggam kompas itu.
Bukan untuk menemukan arah,
tapi untuk mengingat perjalanan—
karena kenangan lebih berarti dari tujuan.
Surakarta, 2003
/2/
Sepasang Sepatu
Puisi oleh Leni Marlina
Di sudut ruangan yang bisu,
kau menatap sepasang sepatu tua.
Solnya berlubang,
kulitnya retak,
seperti wajah waktu yang letih.
“Kalian pernah bersamaku,” bisikmu,
“menemani langkah-langkahku—siang dan malam.”
Sepatu itu tetap diam,
namun kau tahu mereka mendengar.
Dulu, mereka adalah prajurit kecil,
mengukir jejak di tanah keras.
Kini, mereka hanya saksi bisu,
cerita yang tertinggal di jejak debu.
Namun, cinta sepatu itu tak pernah aus.
Mereka tetap berdiri,
meski terlupakan,
seperti prajurit menanti panggilan terakhir.
Karena menemanimu adalah alasan keberadaan mereka,
tanpa kata,
tanpa akhir.
Surakarta, 2003
/3/
Di Balik Jendela Tua
Puisi oleh Leni Marlina
Kau berdiri di balik jendela tua,
kaca-kacanya berembun oleh napas kenangan.
Retakan pada bingkainya adalah peta
menuju tahun-tahun yang tertinggal di masa lalu.
Tanganmu menyentuhnya pelan,
seolah ingin menghapus waktu yang terperangkap di sana.
“Apa yang kulihat ini dunia, atau hanya bayangan?”
tanyamu pada siluet samar yang terpantul.
Namun, jendela itu tak menjawab,
hanya mengeluh pelan saat angin berbisik:
bahwa ia pernah menyimpan langit,
mengizinkan pagi menyelinap
di sela-sela debu yang tak kau sadari.
Surakarta, 2003
/4/
Sebuah Luka
Puisi oleh Leni Marlina
Di atas kulitmu,
luka itu berbisik dalam bahasa yang asing:
“Aku adalah sejarah tubuhmu,
dan setiap nyeri yang kau rasa
adalah ingatan yang ingin kau buang.”
Namun, luka itu tak pernah hilang.
Ia tumbuh seperti pohon kecil,
akar-akarnya menjalar hingga ke dasar jiwamu.
“Aku tahu kau membenciku,” katanya lembut,
“tapi tanpaku, kau tak akan tahu arti bertahan.”
Kau menyebutnya aib,
ia menyebut dirinya pelajaran.
Luka tidak hanya menghancurkan,
ia juga membangun.
Bukankah dunia penuh retakan,
tempat cahaya akhirnya masuk?
Surakarta, 2003
/5/
Air Mata dan Hujan
Puisi oleh Leni Marlina
Air matamu jatuh seperti benih ke tanah,
bertemu dengan hujan yang turun dari langit
dengan cara yang tak kau pahami.
“Kenapa kau menangis?” tanya hujan.
“Karena kehilangan adalah satu-satunya bahasa
yang tersisa,” jawabmu pelan.
Hujan tersenyum muram.
“Aku pun menangis,” katanya,
“untuk bumi yang terluka oleh manusia,
dan langit yang kehilangan birunya.”
Mereka bertemu dalam genangan kecil di trotoar,
tanpa ada yang peduli.
Namun di sana,
air mata dan hujan hidup bersama dalam sunyi,
merayakan kehilangan
sebagai puisi yang tak pernah selesai.
Surakarta, 2003
————-
Biografi Singkat
Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2003. Puisi tersebut ditulis saat penulis mengikuti PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) di Universitas Negeri Surakarta dan dianugerahi Terbaik II LKTM PIMNAS bidang pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah 21 tahun kemudian, puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.
Saat ini, Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat):https://shorturl.at/2eTSB &https://shorturl.at/tHjRI ; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.