April 21, 2026
lina puisi1

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) "Bangga dan Doa Untuk Guru"

“Bangga dan Doa Untuk Guru”

/1/

Tebing Berlumut Pengetahuan

Oleh Leni Marlina

Di balik tebing curam berlumut,
Kami mendaki bersama mimpi yang hampir patah,
Mengikuti cahaya redup dari lentera sang guru,
Yang merangkai ilmu dari serpihan buku yang terkoyak.

Ia bagaikan jembatan rapuh di atas jurang gelap,
Menjaga kami agar tak jatuh ke dasar ketidaktahuan.

Namun kakinya kerap berdarah,
Menahan beban harapan yang tak pernah ringan.

Ya Tuhan, kami mohon ukirlah nama guru kami di langit-Mu,
Jadikan peluhnya embun yang menyuburkan jiwa kami,
Dan biarkan ia duduk diantara kumpulan cahaya,
Tempat doa-doanya berbuah bintang.

Padang, Sumbar, 2004

/2/

Jembatan Gantung Impian

Oleh Leni Marlina

Kami melangkah di atas jembatan gantung yang berderit,
Di bawahnya, sungai ketidaktahuan mengaum liar.

Guru kami bagaikan penjaga tali harapan,
Yang mengulur sabar, meski jiwanya tergerus usia.

Semua langkah kecil kami seperti nyanyian baginya,
Namun ia sering berdiri sendiri di ujung mimpi,
Memandang dunia yang tak selalu berpihak padanya.

Ia bagaikan pelaut di laut angin kebijakan yang tak pernah tenang.

Ya Tuhan, kami mohon bentangkan jembatan surga baginya,
Jadikan ia penunjuk jalan di taman ilmu-Mu,
Dan anugerahi ia mahkota cahaya,
Dari butiran cinta kami kepadanya.

Padang, Sumbar, 2004

/3/

Pasir yang Terhapus Ombak

Oleh Leni Marlina

Kami menulis mimpi di atas pasir,
Namun ombak dunia menghapusnya tanpa ampun.

Guru kami bagaikan penjaga tepi pantai,
Mengukir ulang harapan dengan jemari yang mulai gemetar.

Ia bagaikan mercusuar tanpa pelita,
Berdiri tegak di tengah badai ketidakpedulian.

Namun sinar matanya tetap menjadi penuntun,
Meski gelap dunia kerap mengintai.

Ya Rabb, kami mohan jadikan hatinya pantai yang tak terkikis,
Limpahkan ombak kasih-Mu untuk menyegarkan jiwanya,
Dan tanamkan bintang sejati di samudra takdirnya.

Padang, Sumbar, 2004

/4/

Dinding yang Retak

Oleh Leni Marlina

Dinding kelas kami retak seperti jalinan cerita,
Menjadi saksi tangan-tangan kecil yang berjuang.

Guru kami bagaikan pelukis di kanvas rapuh,
Mewarnai celah dengan cahaya pengorbanannya.

Namun malam-malamnya diisi keheningan,
Doa-doanya melayang pada bintang yang tak selalu bersinar.

Ia bagaikan arsitek pendidikan di reruntuhan sistem,
Membangun pilar dari debu keikhlasan.

Ya Tuhan, kami mohon tambahkan bata cinta-Mu pada dinding hidupnya,
Penuhi celahnya dengan rahmat-Mu yang tak bertepi,
Dan jadikan ia tiang penyangga surga ilmu bagi generasi ini.

Padang, Sumbar, 2004

/5/

Langit Tanpa Sinyal

Oleh Leni Marlina

Di bawah langit tanpa sinyal,
Kami belajar dari kisah yang diceritakan oleh napas lelahnya.

Guru kami bagaikan perpustakaan bergerak,
Membawa dunia kepada kami yang terisolasi.

Dalam semua langkahnya,
Ia memikul beban mimpi kami yang berat,
Meskipun ia tahu, jalan ini tak pernah mudah.

Ia bagaikan pejuang cahaya di hutan ketidakpedulian.

Ya Allah, kami mohon jadikan guru kami kompas yang selalu menunjuk ke arah-Mu,
Berikan sinyal kasih-Mu di hatinya yang gigih,
Dan jadikan ia pelita yang abadi di taman keabadian-Mu.

Padang, Sumbar, 2004

/6/

Lumbung Ilmu yang Kosong

Oleh Leni Marlina

Kami belajar di lumbung tua,
Di mana jerami ilmu terkumpul dari jerih payahnya
Guru kami menanam benih pengetahuan di tanah gersang,
Meskipun hujan keadilan jarang turun.

Ia bagaikan petani tanpa musim,
Merawat kami dengan doa-doanya yang tak pernah lelah.

Seringkali, tangannya terluka,
Mencoba menyalakan lentera di kegelapan sistem.

Ya Rabb, kami mohon suburkan ladang perjuangan guru kami dengan cahaya-Mu,
Hujani kebahagiaan pada setiap tetes peluhnya,
Dan jadikan ia penjaga taman ilmu di surga-Mu.

Padang, Sumbar, 2004

/7/

Jalan Setapak ke Aksara

Oleh Leni Marlina

Kami berjalan di jalan setapak yang berliku,
Di mana bebatuan ketidaktahuan menghadang.

Guru kami bagaikan penunjuk arah,
Dengan tangan yang gemetar membawa peta masa depan.

Namun ia tahu, jalannya tak selalu mulus,
Kadang tertutup oleh duri-duri birokrasi.

Ia tetap berdiri tegak,
Memandu kami dengan cahaya yang ia pinjam dari doa.

Ya Allah, kami mohon lapangkan jalan setapak hidup guru kami,
Berikan cahaya tak bertepi pada setiap langkahnya,
Dan jadikan ia bintang penunjuk jalan di surga-Mu.

Padang, Sumbar, 2004

/8/

Perahu di Laut Pendidikan

Oleh Leni Marlina

Kami bagaikan perahu kecil yang dihantam gelombang,
Dan guru kami bagaikan nahkoda tanpa kompas,
Tetap teguh mengarahkan kami menuju pantai impian,
Meski badai kerap mengoyak layar semangatnya.

Ia mengajarkan kami membaca bintang,
Saat buku-buku kami tenggelam di laut kebijakan.

Namun ia sendiri sering terombang-ambing,
Menunggu angin keadilan yang tak pernah tiba.

Ya Tuhan, kami mohon jadikan guru kami layar yang tak pernah robek,
Penuhi samudra hidupnya dengan angin rahmat-Mu,
Dan hiasi perahunya dengan bendera kemenangan sejati.

Padang, Sumbar, 2004

/9/

Menulis di Papan Batu

Oleh Leni Marlina

Kami menulis di papan batu,
Mencatat mimpi dengan jemari yang lelah.

Guru kami bagaikan penjaga prasasti,
Mengukir masa depan kami di tengah kerikil pengorbanan.

Kadang waktu memberikan luka baginya,
Tangan dan hatinya terkikis oleh ketidakpedulian.

Namun ia tetap bertahan,
Karena ia tahu, prasasti pengetahuan ini adalah warisan untuk anak negeri.

Ya Rabb, kami mohon ukirkan nama-Mu di hati guru kami yang tulus,
Anugerahkan kemuliaan pada setiap pengorbanannya,
Dan jadikan ia penjaga prasasti surga.

Padang, Sumbar, 2004

/10/

Mentari di Hutan Gelap

Oleh Leni Marlina

Di hutan gelap ketidakadilan,
Guru kami bagaikan mentari yang tak pernah padam.
Ia menghangatkan kami dengan senyumnya,
Meski dirinya terbakar oleh perjuangan.

Kami bagaikan pohon-pohon kecil yang haus akan cahaya,
Ia menyinari kami dengan ilmu yang ia curahkan.

Ia sering berdiri sendiri,
Menahan dinginnya malam birokrasi.

Ya Allah, kami mohon jadikan guru kami mentari pagi,
Berikan hangatnya surga-Mu untuknya,
Dan jadikan cahayanya memancar selamanya.

Padang, Sumbar, 2004

————————-
Catatan:
“Selamat Hari Guru”
————————

Biografi Singkat

Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2004. Semua puisi di atas ditulis sebulan setelah penulis menerima anugerah Terbaik Pertama Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional (MAWAPRES) Tahun 2004 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kumpulan puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Saat ini, Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.