Langgar Kecil dan Islam Progresif: Membaca Puisi Yusuf Achmad sebagai Kritik Etika Keberagamaan Eksklusif
Oleh Paulus Laratmase| Akademisi
–
Puisi “Teriakan Langgar Kecil” karya Yusuf Achmad sebuah potret puitik tentang kegaduhan anak-anak di rumah ibadah. Ia adalah teks reflektif yang menyimpan kritik sosial-teologis mendalam terhadap kecenderungan eksklusivisme dalam praktik keberagamaan umat Islam kontemporer. Dalam lanskap keberagamaan yang kian diwarnai regulasi moral, pengetatan ruang ibadah, serta obsesi terhadap “kekhusyukan formal”, puisi Yusuf Achmad menghadirkan suara alternatif: suara kasih, kesabaran, dan keterbukaan sebagai inti ibadah.
Dalam konteks ini, pemikiran Islam Progresif sebagaimana dirumuskan oleh Dr. Budhy Munawar Rachman dalam Reorientasi Pembaruan Islam (2010) menjadi lensa teoritis yang relevan. Budhy menempatkan Islam bukan semata sebagai sistem doktrin, melainkan sebagai peradaban etis yang berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan keterbukaan. Puisi Yusuf Achmad dapat dibaca sebagai ekspresi kultural dari visi Islam progresif, sebuah kritik lembut namun tajam terhadap keberagamaan yang kehilangan dimensi cinta.
Langgar Kecil sebagai Metafora Ruang Keagamaan
Dalam puisi ini, “langgar kecil” tidak hanya menunjuk bangunan fisik, tetapi berfungsi sebagai metafora ruang keagamaan yang hidup, ruang yang diisi oleh suara, gerak, bahkan kegaduhan anak-anak. Teriakan, tangisan, hentakan kaki, dan suara “amin” yang tak beraturan menjadi simbol kehidupan yang autentik. Yusuf Achmad dengan sadar menolak romantisasi kesunyian sakral yang steril dari realitas manusia.
Di sinilah puisi ini berjumpa dengan kritik Budhy Munawar Rachman terhadap pemahaman keagamaan yang rigid. Budhy menegaskan bahwa Islam progresif menolak reduksi agama sebagai hukum formal dan ritual kaku. Islam harus dipahami sebagai praksis etis yang hadir di tengah realitas manusia yang plural, cair, dan sering kali tidak sempurna (Budhy Munawar Rachman, 2010).
Ketika jamaah kecil dianggap “mengganggu”, puisi ini justru mengajukan pertanyaan teologis mendasar: apakah kekhusyukan ibadah harus dibangun dengan menyingkirkan kehidupan itu sendiri?
Kritik terhadap Sakralisasi Kekhusyukan
Salah satu kekuatan utama puisi ini adalah kritiknya terhadap sakralisasi kekhusyukan yang berlebihan. Kekhusyukan dipahami secara sempit sebagai ketiadaan suara, gerak, dan ekspresi spontan. Anak-anak, dengan seluruh ketidakteraturannya, diposisikan sebagai ancaman terhadap kesucian ibadah.
Yusuf Achmad membalik logika ini. Ia menyebut anak-anak sebagai “bumbu pedas yang meresap ke dalam ruh” sebuah metafora yang menegaskan bahwa justru kegaduhan itulah yang menguji kualitas spiritual jamaah dewasa. Kesabaran dan keikhlasan tidak lahir dari ruang steril, melainkan dari perjumpaan dengan yang berbeda dan mengganggu.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Budhy Munawar Rachman tentang perlunya “fikih baru” yang lebih manusiawi. Fikih progresif, menurut Budhy, harus mampu berdialog dengan problem kemanusiaan kontemporer, termasuk soal ruang publik, hak anak, dan inklusivitas sosial. Kekakuan hukum tanpa etika hanya akan melahirkan agama yang kehilangan wajah welas asih.
Rumah Ibadah: Taman atau Benteng?
Bagian paling politis dari puisi ini terletak pada oposisi simbolik antara “taman” dan “benteng”. Langgar ideal digambarkan sebagai taman, ruang bermain, bertumbuh, dan kembali. Anak-anak yang hari ini berlarian kelak akan kembali sebagai jamaah dewasa. Sebaliknya, langgar yang berubah menjadi benteng adalah simbol institusi agama yang eksklusif, defensif, dan menolak kehidupan.
Dikotomi ini paralel dengan kritik Ahmad Suaedy terhadap fatwa MUI tentang pelarangan sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Suaedy menyebut alasan-alasan fatwa tersebut “tidak masuk akal” karena justru menutup ruang dialog dan mempersempit makna keislaman (Budhy Munawar Rachman, 2010: 13).
Puisi Yusuf Achmad secara implisit menolak logika benteng dimaksud. Ia menegaskan bahwa ibadah bersumber dari cinta, bukan dari seleksi sosial. Rumah ibadah yang menutup pintu bagi anak-anak, bagi yang berbeda, atau bagi yang “tidak sempurna” adalah rumah suci yang kehilangan ruhnya.
Islam Progresif sebagai Kerangka Tafsir
Budhy Munawar Rachman menjelaskan bahwa Islam progresif adalah pengembangan lebih lanjut dari Islam moderat, yang menekankan ilmu pengetahuan, keadilan sosial, toleransi, dan integritas moral dalam kehidupan berbangsa. Islam progresif tidak berhenti pada pemurnian doktrin, tetapi bergerak ke arah transformasi sosial.
Puisi “Teriakan Langgar Kecil” dapat dibaca sebagai praksis kultural Islam progresif. Ia tidak menawarkan dalil atau hukum, tetapi menghadirkan kesadaran etis: bahwa keberagamaan sejati diuji dalam relasi dengan yang rentan: anak-anak, yang gaduh, yang tak tertib.
Dalam konteks ini, puisi berfungsi sebagai “teologi publik” yang lembut. Ia mengingatkan bahwa moderasi Islam tidak cukup jika hanya berhenti pada slogan, tanpa keberanian membuka ruang ibadah sebagai ruang kemanusiaan.
Melampaui Polarisasi Moderat–Radikal–Liberal
Dr. Budhy Munawar Rachman mencatat bahwa istilah Islam progresif sering dipertukarkan dengan Islam liberal, meskipun keduanya memiliki penekanan berbeda. Islam progresif tidak semata-mata menekankan kebebasan individu, tetapi juga tanggung jawab sosial dan keberpihakan pada yang lemah. Di sinilah puisi Yusuf Achmad mengambil posisi yang jelas.
Puisi ini tidak sedang membela kebebasan tanpa batas, tetapi menolak formalisme tanpa empati. Ia melampaui dikotomi radikal versus liberal dengan mengajukan pertanyaan etis yang sederhana namun mendalam: apakah rumah ibadah masih menjadi ruang cinta?
Dalam tradisi pemikiran neo-modernisme Islam, sebagaimana dikembangkan Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif, hingga Abdurrahman Wahid, agama selalu diuji dari dampaknya terhadap kemanusiaan. Puisi Yusuf Achmad justeru berdiri kokoh dalam tradisi tersebut.
Penutup
Teriakan Langgar Kecil adalah puisi yang bersuara lirih namun menggugah. Ia mengingatkan bahwa Islam sebagai peradaban tidak dibangun dari keheningan yang menyingkirkan kehidupan, melainkan dari keberanian merangkul kegaduhan manusiawi. Dalam terang pemikiran Budhy Munawar Rachman, puisi ini dapat dibaca sebagai seruan Islam progresif dalam bentuk estetika.
Ketika rumah ibadah berubah menjadi istana eksklusif, puisi ini mengembalikannya menjadi taman bersama. Ketika aturan menutup pintu kasih, puisi ini membuka jendela cinta. Dan di tengah kegaduhan anak-anak, kita diajak menemukan kembali makna ibadah yang tidak tunduk pada ritus, tetapi setia pada kemanusiaan.
Daftar Pustaka
Budhy Munawar Rachman. Reorientasi Pembaruan Islam: Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme dalam Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina, 2010.
Suaedy, Ahmad. Dalam Budhy Munawar Rachman, Reorientasi Pembaruan Islam. Jakarta: Paramadina, 2010.
-000-
Puisi Yusuf Achmad dengan judul: Langgar dan Anak – Anak Langit
–
Teriakan Langgar Kecil
Langgar kecil itu berteriak, sekeras gema jamaah mungil,
Kadang meniru ayat suci yang mengalun dari bibir imam,
Kadang suara “amin” berayun bagai melodi tak beraturan,
Kadang hentakan kaki menyerupai tarian Tap Dance yang riang.
Tangisan seriosa menggoda khusyuknya jamaah,
Kadang menimbulkan riak rasa yang berlapis,
Riuh rendah suara bagai paduan nada,
Mereka adalah bumbu pedas yang meresap ke dalam ruh,
Ruh suci menatap Ilahi, teruji menemukan makna sabar dan ikhlas.
Kadang gerak jamaah kecil membuat langgar bergetar,
Menggoyahkan imam dan jamaah lain yang tengah khusyuk.
Andai langgar murka lalu sunyi tanpa mereka,
Bagaimana ibadah akan tumbuh mekar?
Bila masjid atau mushola menutup pintu bagi mereka,
Tak ubahnya rumah suci yang tandus tanpa pelukan kasih.
Jamaah dianggap asing karena berbeda jalan,
Padahal ibadah bersumber dari cinta,
Yang seharusnya mengalir bagi setiap insan.
Aku heran, seolah rumah ibadah menjelma istana,
Hanya terbuka bagi segelintir pilihan.
Atau ruang suci yang terkunci pada waktu tertentu,
Bahkan angin lembut pun enggan menyusup.
Aku heran, bukankah ajaran selalu berpihak pada yang banyak,
Bukan hanya pada kaum terpilih?
Aku bingung, andai rumah ibadah penuh aturan dan larangan,
Menutup pintu kasih sayang yang mestinya terbuka lebar.
Kadang langgar itu seperti taman,
Tempat anak-anak bebas berlarian,
Kelak mereka akan kembali,
Meramaikan langgar dengan doa dan sujud dewasa.
Namun taman itu bisa berubah menjadi benteng,
Menghalangi gelak tawa yang tulus.
Bayangkan cinta yang tak berbatas,
Mengalir dari hati ke hati,
Menghapus segala sekat,
Membuka pintu menuju keikhlasan sejati.
Surabaya, 13 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly