“Langit Menangis Dalam Diamnya: Tentang Kematian” (Part 1): Kumpulan Puisi Internasional Karya Leni Marlina & Bhawani Shankar Nial (Poetry-Pen IC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena] ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
/1/
Langit Menangis Dalam Diamnya: Tentang Kematian
Puisi Oleh Leni Marlina
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena-Sumatra Barat]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di antara sunyi yang tak terungkap,
langit menangis dalam diamnya,
mencatat jejak langkah yang hilang,
menciptakan jalan-jalan tak terduga—
di sini, di tanah yang telah lama menunggu,
kehilangan menjadi permulaan,
seperti bintang yang lahir dari kehampaan,
dan dalam keheningan, kita temukan hidup melebihi apa yang sanggup kita pikirkan,
termasuk tentang kematian.
3
Padang, Sumatera Barat,
April 2025
/2/
SUATU PERTEMUAN DENGAN MAUT
Puisi oleh
Dr. Bhawani Shankar Nial
(INDIA)
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Diterjemahkan dari bahasa Odia ke bahasa Inggris oleh
Gobinda Sahoo
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Telah berkali-kali
Kujajaki dunianya
Menelusuri belantara kasar planet dan satelit
Tempat cahaya mentari pun enggan menyentuh.
Bersilang kata berulang kali
Menatap matanya tanpa gentar
Mengimbangi langkahnya yang sunyi
Demi menyingkap tabir kelahiran dan kematianku.
Telah sering aku datang dan kembali
Ke padang pasir di lembah terasingnya
Meninggalkan jejak-jejak langkah
yang mengering dalam keraguan
dan kekalutan janda dari kekacauan yang terpuruk.
Di laboratorium kealpaan
Pada suatu sore lemah
dari masa silam yang tak pernah pudar,
Partikel, atom, dan molekul
dari tanya-tanyaku yang cermat nan getir
melompat-lompat dari satu halaman ke lainnya
dalam buku-buku rak lemari yang bisu.
Agustus 2021, Kalahandi, INDIA
————————–‐
Tentang Penyair:

Dr. Bhawani Shankar Nial merupakan seorang penyair dunia yang tinggal di Sriradha, Bhawanipatna, INDIA.
Puisi di atas merupakan salah satu karya dalam buku puisinya yang berjudul “An Encounter with Death” (2021).
Puisi ini dipublikasikan di media daring Indonesia suaraanaknegerinews.com atas izin langsung dari sang penyair.
Buku puisi Dr. Bhawani Shankar Nial lainnya, termasuk “LOCKDOWN”, telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 24 bahasa internasional.
Atas kontribusinya yang luar biasa dalam dunia sastra, ia dianugerahi gelar Tokoh Sastra Global pada ajang Kalahandi Utsav Ghumura 2025.
Puisi-puisinya menjembatani budaya dan menginspirasi pembaca di seluruh dunia.
/3/
Bayangan di Balik Langit Terbelah
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena-Sumatra Barat]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pernah kusibak celah
di antara lipatan waktu yang mengendap—
retakan sunyi
di langit yang belum sempat dinamai,
tempat cahaya masih menimbang
akan lahir
atau memilih lenyap.
Aku berdiri di tepi orbit sunyi,
mengindera gemetar tanah
dengan telapak berlumur tanya:
adakah jejak yang abadi
saat dunia enggan berhenti berputar?
Bayangan menjauh
seperti musim yang menolak dikenang.
Aku mengejarnya
dengan napas patah dan langkah separuh.
Setiap serpihnya
mengendap sebagai partikel ragu
di pelipis langit
dan desir doa yang terlupa dikirimkan.
Di pustaka sunyiku,
aku menulis ulang luka
dengan pena berisi senyap,
dan tinta dari pagi
yang tak pernah sempat
menyebut namaku.
Ketika tiba di tepi waktu,
saat bintang pun kehilangan bahasa,
aku tak lagi mencari arah kematian,
melainkan cara
memeluk kehadirannya
tanpa menghapus cahaya.
Padang, Sumatera Barat,
April 2025
/4/
Dalam Kegelapan yang Menghadirkan Cahaya
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena-Sumatra Barat]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku berseru kepada malam
yang merajut bayang tanpa henti,
kepada jubah hitam
yang menelan bentuk dan arah:
mengapa terang bersumpah setia
pada gelap yang paling parah?
Apakah cahaya gentar lahir
di tengah hari yang riuh?
Apakah sinar hanya berani muncul
saat dunia memalingkan muka?
Langkah-langkahku menggoreskan waktu
pada kabut yang tak kunjung reda.
Setiap jejak—
hanya napas ditiupkan
ke padang yang tak bernama.
Aku menggenggam arah
yang ternyata sungai
tak bertepi,
tanpa muara.
Dalam tubuhku,
ada langit lain—
kosong,
namun sarat gema.
Di sana, pertanyaan menari
tanpa pusat,
tanpa gravitasi,
berputar seperti mantra purba
yang tak kunjung selesai dilafalkan.
Namun, sesuatu menyala
jauh sebelum aku mengenalnya:
bukan keyakinan,
melainkan kesetiaan
pada sesuatu yang tak kasatmata.
Ia mengalir—
seperti tinta dari pena takdir,
menggoresi halaman-halaman
yang belum sempat kubaca.
Kematian
bukan kabar buruk,
melainkan kalimat penutup
yang menggenapi kisah.
Ia adalah tanah,
dan kita adalah benih—
sunyi adalah musim
yang memanggil kita tumbuh.
Maka di akhir perjalanan,
aku tak memilih untuk mengerti,
melainkan berserah
pada ritme yang mendahului bahasa:
bahwa segala yang mekar
telah tahu caranya gugur,
dan semua yang hilang
hanyalah nama lain dari pulang.
Padang, Sumatera Barat,
April 2025
/5/
Langkah Terakhir yang Tak Terucapkan
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena-Sumatra Barat]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di ambang jurang tak terjangkau,
kita berdiri—mata menembus cakrawala yang retak,
dunia terbuka seperti dua jiwa yang terpisah,
setiap langkah menjadi titian
di atas keheningan paling dalam.
Tanah tak lagi menunggu,
hanya kekosongan yang merayap
dengan sabar yang tak bisa kita ukur.
Kematian datang
seperti bayang-bayang yang tak punya suara,
mengintai tanpa wajah,
seperti tirai waktu
yang menutup pandangan perlahan.
Ia bukan akhir,
melainkan ruang tanpa batas
tempat segala yang kita kenal
harus dilepaskan
agar yang tak terucapkan bisa hadir.
Namun dalam diam yang membungkam,
ada gema
dari kekuatan purba—
tak disebut dalam kitab,
tak dirumuskan dalam bahasa,
hanya dirasakan oleh jiwa
yang rela melangkah
meski tak tahu ke mana jejak mengarah.
Kita terus berjalan
meski langkah tertutup debu dan ragu,
karena hidup dan mati
adalah dua sisi dari mata uang yang sama,
berputar di tangan takdir
yang tak pernah memperkenalkan dirinya.
Kematian bukan tutup cerita,
tapi pembuka gerbang
ke keabadian yang sunyi,
di mana beban dunia gugur
seperti daun yang merelakan rantingnya.
Ia datang bukan mengakhiri,
tapi menuntun—
seperti bunga yang layu
agar tanah kembali subur,
seperti angin yang mengubah arah
agar bumi bisa bernapas lagi.
Di ujung perjalanan,
kita tak meninggalkan jejak,
melainkan keikhlasan
yang menyatu dengan musim.
Segala yang tumbuh,
pasti tahu caranya gugur,
dan setiap gugur
adalah pertanda akan lahirnya kembali.
Dalam perjalanan tak selesai ini,
keabadian ditemukan
bukan dalam kepastian,
melainkan dalam lapang dada
yang terbentuk dari ketidakpastian,
seperti bintang yang jatuh
hanya untuk menyalakan langit lain,
atau lautan
yang menerima kita tanpa janji
dalam diam yang lebih dalam dari waktu.
Apa yang hilang akan pulang,
apa yang mati akan menumbuhkan kembali,
dan apa yang terlepas
akan menemukan tempatnya
dalam harmoni yang tak terucap.
Sebab di tiap akhir,
selalu tersimpan awal yang menunggu,
dan dalam setiap kematian—
ada kehidupan
yang menanti tanpa nama,
tempat jiwa menyatu dengan semesta,
kembali kepada Tuhan
yang tak pernah kita tinggalkan,
selain dalam lupa.
Padang, Sumatera Barat,
April 2025
/6/
Berjalan Kembali ke Pangkuan Asal
[Poetry-Pen International Community – PPIC, ACC Shanghai Huifeng International Literary Association – ACC SHILA, PPIPM-Indonesia, Satu Pena-Sumatra Barat]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita berjalan kembali ke pangkuan asal,
antara tanah yang merindu dan langit yang menunggu,
di sana, dalam pelukan keabadian,
semua rindu kita menjadi cahaya,
menyentuh waktu yang tak terhitung,
mencipta nyanyian yang terdengar hanya oleh jiwa yang sudah siap.
Di sini, di luar dan dalam segala ruang,
kita temukan rumah kita—
dalam ketidakberadaan yang mengisi seluruh keberadaan.
Padang, Sumatera Barat,
April 2025
——————————————

Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan akademisi. Ia merupakan anggota aktif Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang di Sumatera Barat.
Leni Marlina mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital/ kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)