May 10, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di sebuah desa kecil bernama Hano’o, di ujung timur Kepulauan Maluku Tenggara, di antara hutan hujan dan bebukitan karang yang tajam, hidup seorang perempuan tua bernama Nenek Naru. Ia bukan siapa-siapa bagi dunia luar, tapi bagi anak-anak kampung, ia adalah penjaga kisah. Dan dari semua kisah yang ia tahu, satu cerita tak pernah ia lupakan—kisah tentang Lelemuku, anggrek yang lahir dari cinta dan kehilangan.

I.

Beratus tahun lalu, saat laut belum banyak dijelajahi dan burung-burung masih membawa pesan para dewa, desa Hano’o dipimpin oleh seorang kepala suku yang bijak, bernama Tuan Banu. Ia memiliki seorang putri satu-satunya, Suma Halina, yang katanya dilahirkan saat hujan turun bersamaan dengan gerhana bulan. Mereka bilang itu pertanda: Suma bukan gadis biasa.

Suma tumbuh menjadi gadis yang tak suka istana. Ia lebih sering memanjat pohon, mencuci pakaian di sungai, dan duduk mendengarkan nyanyian angin. Di balik mata gelapnya, tinggal roh-roh kuno yang katanya bisa berbicara dengan hewan. Tapi satu yang tak diketahui semua orang—hati Suma terpaut pada Wanu, pemuda yatim piatu yang tinggal di balik hutan larangan.

Wanu tak punya darah bangsawan, tak punya tanah, hanya sebatang suling dari bambu dan suara yang membuat burung berhenti berkicau untuk mendengarnya.

II.

Setiap sore, Suma menyelinap dari pagar kampung menuju Bukit Batu Nara, tempat Wanu menunggunya. Di bawah pohon tua yang disebut “Hatu Lemo” oleh leluhur, mereka saling bertukar mimpi. Wanu bercerita tentang suara hutan dan sungai yang ia dengar seperti lagu, sementara Suma menyebut nama-nama bintang yang belum diberi makna.

Suatu malam, di bawah bintang Pala’e, Wanu berjanji,
“Kalau kau tetap di bumi, aku akan jadi akar yang memelukmu. Tapi kalau kau diambil langit, aku akan tumbuh jadi pohon untuk menjangkaumu.”

Suma tertawa, tapi ia tak tahu malam itu akan jadi malam terakhir mereka bersama.

III.

Keesokan harinya, kapal berlayar dari pulau Larat. Seorang bangsawan datang melamar Suma, membawa emas, keris bertuah, dan seratus prajurit. Tuan Banu, meski sedih, tak bisa menolak. Pernikahan dengan bangsawan berarti perlindungan bagi desa.

Suma memberontak. Ia menangis, ia lari, tapi akhirnya tubuhnya diseret oleh para tetua menuju tempat perjodohan. Namun malam sebelum ia dinikahkan, Suma melarikan diri ke Bukit Batu Nara. Di sana ia menjerit, menyebut nama Wanu yang tak datang.

“Jika aku tak bisa bersamanya di dunia ini, biarlah aku jadi sesuatu yang kekal. Biarlah aku diam di tempat ini, sampai waktu tak lagi mengenal nama.”

Langit yang kelam, hutan yang diam, dan angin Timur yang mendengar doa terakhirnya, menjawab.

IV.

Keesokan harinya, penduduk desa menemukan Bukit Batu Nara sunyi, dan di bawah pohon Hatu Lemo, tumbuh bunga yang belum pernah mereka lihat. Kelopaknya ungu lembut, dengan garis emas seperti peluk luka lama. Bunganya menghadap ke Timur, seolah menunggu seseorang datang dari lautan matahari.

Wanu tak pernah terlihat lagi. Ada yang bilang ia berubah jadi angin, ada yang percaya ia menjelma menjadi pohon yang menaungi bunga itu. Dan bunga itu disebut Lelemuku—yang dalam bahasa tua berarti “yang setia menunggu.”

Sejak hari itu, bunga Lelemuku hanya tumbuh di tempat tertentu, dan hanya pada musim-musim ketika bulan merah muncul. Para tetua melarang siapa pun memetiknya. “Karena ia bukan bunga,” kata mereka, “ia adalah hati yang terus menunggu.”

V.

Kini, berpuluh generasi telah berlalu. Desa Hano’o berubah, kapal-kapal datang dan pergi, tapi Bukit Batu Nara masih berdiri. Dan Lelemuku, bunga yang lahir dari air mata Suma Halina, tetap mekar di sana, setiap tahun.

Nenek Naru—yang kini sudah renta—masih membawa anak-anak ke bukit itu. Dan saat mereka duduk dalam lingkaran, ia berkata:

“Lelemuku bukan hanya bunga. Ia adalah waktu. Ia adalah cinta. Dan kadang, ia adalah kita—yang menunggu, tanpa tahu kapan jawaban akan tiba.”

Sumatera Barat, 17 April 2025.