LEGENDA LELEMUKU: Putri yang Menunggu
Oleh: Rizal Tanjung
–
Dahulu kala, saat bintang-bintang masih dekat ke bumi,
Dan para leluhur bicara pada angin, bukan hanya mimpi—
Hiduplah seorang gadis bernama Suma Halina,
Putri desa yang rambutnya sehitam malam pertama.
Suma tak ingin jadi ratu, tak ingin disunting pangeran,
Hatimu terpaut pada Ina Wanu, penjaga hutan belantara.
Ia bukan raja, bukan kaya, bukan pemilik tanah luas,
Tapi dari mulutnya tumbuh kata-kata yang lembut dan ikhlas.
Mereka bertemu di bawah pohon tua di bukit batu,
Setiap senja datang, mereka duduk dan berbagi waktu.
Suma bawa lagu, Wanu bawa buah dari rimba,
Dan dunia terasa tenang tanpa takut dan luka.
Namun desa tak restui cinta dari dua dunia,
Putri dan penjaga hutan—itu bukan takdir kata mereka.
Suma dipaksa pergi jauh, dijodohkan dengan bangsawan laut,
Dan Wanu pun hilang, bagai kabut yang tak lagi menyentuh pucuk.
Di malam terakhir sebelum Suma dijemput perahu perak,
Ia lari ke bukit batu tempat mereka biasa berbicara,
Ia menangis, menyebut nama Wanu dalam nyaring,
Hingga langit pun ikut basah, dan petir datang menggiring.
Konon, para leluhur mendengar tangisan Suma Halina,
Dan sebelum tubuhnya lenyap ditelan cahaya bulan,
Ia berubah menjadi bunga yang tak pernah layu:
Lelemuku—anggrek ungu, harum pelan, indah dan syahdu.
Bunga itu tumbuh di batang kayu tempat mereka bertemu,
Setiap mekar, ia menghadap timur, mencari Wanu.
Mencari kekasihnya di balik fajar dan pagi,
Yang mungkin suatu hari akan kembali.
Maka orang tua berkata:
“Jangan petik Lelemuku dari pohon di bukit tua,
Sebab itu bukan bunga, tapi hati yang menunggu,
Suma Halina, putri yang setia menanti waktu.”
Sumatera Barat, 17 April 2025.