/1/
LUASNYA LAUT DI DADAMU

Puisi: Leni Marlina
Di dadamu, samudra menulis sejarah
dengan tinta air asin tanpa horizon
Gelombangmu berkelana,
mencari permukaan puing
yang tersingkir
Tulangmu, karang,
yang menahan arus lupa arah
Bahumu, mercusuar,
yang menuntun gemericik rahasia
Tanganmu bisa membungkus embun,
bisa memecah kaca
Matamu, rimba,
menyimpan pepohonan suara sebening matamu
Diammu, labirin,
menarik akar bayangan
ke dasar tak terlihat
Luka-lukamu, bintang,
tersangkut di urat nadi
Air matamu menguap menjadi kabut
yang memeluk napas bumi
Rambutmu, riak malam,
yang berkilau tanpa bulan
Suaramu, gema,
yang menyisir lembah rahasia
Jantungmu, samudra,
yang menimbang arus dalam diam
Paru-parumu, hutan air,
yang menumbuhkan kata-kata tak terdengar
Kau bukan insan biasa,
kau arus
yang menahan riak tanpa kehilangan kedalaman
Kata-katamu, cermin,
memantulkan diam, rindu, gema
Sunyi yang kau pilih,
adalah instrumen
bukan penjara
Di dadamu, laut menunggu
penyelam yang menahan napas sendiri
Menggenggam gelombang
yang membelit waktu
menyeberangi lapisan bayangan
Menjadi sahabat embun
yang tersesat
Laut di dadamu menanti mereka
yang membaca riak
Menyelam, menggenggam,
tetap tenang di pusaran kebisingan dunia
Bintang jatuh menempel di kulitmu,
peta bagi yang mampu membaca diam
Kabut yang kau lepaskan,
menundukkan angin
agar tidak terburu-buru
Malam menunduk pada kedalamanmu
Arus menyesuaikan irama
dengan napasmu
Dan rasakanlah:
kekuatan diri lahir dari sunyi
yang menahan dirinya sendiri
Gelombang di dadamu, sejarah
yang tidak ditulis
Pasirnya menjadi rahasia,
yang menunggu siapapun yang mampu menyentuhnya
Arus lautmu, teman bagi
yang mengerti gerakannya
Kau adalah samudra,
yang menahan dunia dalam satu tarikan napas
Jaring yang menimbang segala gema
denyut yang menunggu sahabat
memahami petualangan ombaknya.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/2/
TUBUH SUNYI
Puisi: Leni Marlina
Kau lahir dari keramaian—
dari ribuan mulut yang berlomba menjadi guntur,
dan kau tahu sejak awal:
yang paling nyaring sering paling hampa.
Di dadamu, bahasa berkumpul seperti burung hitam,
mencari langit yang cukup tenang untuk terbang.
Kau menahan lidahmu, dan dunia mulai mengintip—
karena diam selalu lebih tua dari suara.
Di mata yang menatapmu,
ada cermin.
Di cermin,
ada tubuhmu yang menolak tunduk.
Kau bukan sembarang bayang,
kau bayangan yang menolak dilahirkan terang.
Kekuasaan bukan kekuatan tangan,
tapi kesanggupan menunda letusan.
Yang mampu menahan api, memerintahnya.
Lalu kau paham:
diam bukan kalah,
tapi cara bumi menulis hukum pada langit.
Tenang bukan pasif,
tapi kesadaran yang sudah melewati amarah.
Dan ketika kau akhirnya bicara—
dunia berhenti,
karena suara yang datang dari sunyi tak pernah bisa disangkal.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/3/
KAU MEMILIH SIAPA YANG LAYAK MENDENGAR
Puisi: Leni Marlina
Kau diam, tapi dunia bergetar di tenggorokanmu.
Ada kalimat yang ingin lahir,
kau tidurkan di rahimnya.
Bibir jadi batu.
Napasmu serasa besi menekan dada.
Jika kau bicara banyak sekarang; suaramu kan jadi debu.
Kau cukup diam hari ini.
Tapi tanah miring ke arahmu.
Sunyi ini berat,
seperti malam yang enggan mati.
Kau bukan tak mau bicara—
kau memilih siapa yang layak mendengar.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/4/
KABUT MISTERI
Puisi: Leni Marlina
Kau bukan rahasia,
kau hanya menolak jadi berita.
Mereka bertanya—kau tersenyum.
Mereka curiga—kau makin! samar.
Biarkan orang menebak;
misteri satu-satunya tubuh yang tak bisa dicuri.
Hiduplah di kabut untuk sementara—di sana,
kau bisa jadi siapa saja,
tanpa harus berlomba mendapat sorot cahaya di panggung dunia.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/5/
MEMILIH JADI BATU BASAH
Puisi: Leni Marlina
Kemarahan mengetuk.
Kau buka pintu, menatap matanya—
lalu menutupnya perlahan.
Di luar badai berteriak,
di dalam detak jam jadi doa.
Mereka mau kau terbakar,
lalu jadi abu.
Kau pilih jadi batu basah,
diam, dingin,
tapi tetap hidup.
Tak ada kekuatan yang mampu menganggumu,
kecuali tetesan air yang lembut menemanimu,
sampaikan membelah diri menyampaikan rahasia dirimu
kepada mereka yang setia padamu selama ini.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/6/
JEMBATAN EMAS KEPERCAYAAN
Puisi: Leni Marlina
Jangan janjikan langit.
Nyalakan lilin kecil—tepati.
Janji besar hancur oleh napas.
Yang kecil bertahan di tulang.
Datang saja dan penuhi janjimu yang tertunda
Itu saja—tapi dunia ingat.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/6/
Akar Kebenaran
Kau tak punya waktu jadi manis.
Kau bukan gula,
kau akar: getir,
tapi menegakkan pohon.
Mereka datang bawa senyum,
kau balas dengan mata jujur—mereka pergi.
Tak apa.
Yang tersisa selalu yang paling tulus.
Berdirilah sendiri.
Bumi tetap berputar meskipun mereka tak bersamamu menyaksikan kebenaran itu.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/7/
SENYUMMU TAK PALSU
Puisi: Leni Marlina
Tanganmu halus,
tapi tulangnya baja.
Kata-katamu pelan,
tapi ujungnya berdarah.
Kau sopan—tapi tak tunduk.
Mereka menekan;
kau menatap sampai tekanannya pecah sendiri.
Senyummu tak palsu—
hanya tajam,
menakutkan bagi siapa saja yang menyangkal kebenaran.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/8/
KANVAS TUBUH
Puisi: Leni Marlina
Bicaralah dengan punggung tegak.
Bahumu menyimpan sejarah pertempuran.
Langkahmu lambat, tapi tanah ingat setiap injakan.
Matamu menatap seperti anjing lapar—
tak menggonggong, tapi semua tahu giginya ada.
Tubuhmu tak bicara banyak,
tapi orang berhenti setiap kali kau lewat.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/9/
SIMPANLAH LUKAMU
Puisi: Leni Marlina
Jangan tumpahkan isi hatimu di jalan.
Jangan biarkan jadi genangan.
Simpan lukamu,
biarkan ia membatu.
Dari batu itu bangun istana.
Saat mereka bertanya tentangmu—
senyumlah.
Biarkan waktu yang menjawab.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/10/
JANGAN CARI MENANG SESAAT
Puisi: Leni Marlina
Mereka salah.
Kau tahu.
Tapi lidahmu menahan diri,
Tak jadi menyemburkan angkara.
Biarkan mereka belajar dari jatuhnya sendiri.
Tak ada guru sebaik rasa malu yang tak diumumkan.
Jangan cari menang sesaat yg bukan lawanmu—
tak usah kau ladeni tong kosong itu,
kau kan menang dalam diammu,
biarkan mereka hidup menanggung malu,
jika mereka masih menyiyirkan sedu sedan itu.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/11/
IRAMA KENDALI
Puisi: Leni Marlina
Langkahmu lambat.
Dunia yang menyesuaikan.
Suaranya rendah.
Tapi pintu terbuka setiap kali kau bicara.
Jangan tergesa.
Waktu tahu: kau tak ke mana-mana.
Semua akhirnya kan datang padamu.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/12/
MAHKOTA DARI RIBUAN KALI MENUNDA AMARAH DIRI
Puisi: Leni Marlina
Kini kau mengerti:
tidak semua peperangan butuh medan.
Beberapa hanya butuh dada yang cukup luas untuk menampung amarah tanpa menumpahkannya.
Kau berdiri di tepi waktu.
Semesta diam,
dan untuk pertama kali,
diam itu berpihak padamu.
Kau telah menaklukkan sesuatu yang tak terlihat:
gemetar di tanganmu,
desir di nadi,
suara yang nyaris melompat tapi kau berhasil menjinakkannya.
Tenangmu kini bukan topeng,
tapi mahkota dari ribuan kali menunda amarah diri.
Kau tak lagi mengejar hormat;
kehormatanlah yang mencari tempat istirahat di bawah kakimu.
Dalam tatapanmu,
api menemukan kaca,
dan memantulkan dirinya menjadi cahaya.
Kau bukan insan biasa penuh suara—
kau gema yang memilih tubuhnya sendiri.
Ketika kau pergi,
langit tak menunduk,
tapi berhenti sejenak,
mengingat cara sunyi melahirkan kekuasaan untuk merdeka.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
————————-
Tentang Puisi:
Kumpulan puisi ini lahir dari kenangan berharga bersama para alumni dalam Alumni Networking Dinner di Padang (Australia Awards), tahun 2025.
Momen hangat itu juga menandai persembahan dua karya saya — Beloved Teachers (2025) dan English Stories for Literacy (2025) — kepada Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bapak Rod Brazier. Acara yang berlangsung di Hotel Mercure Padang pada 29 September 2025 ini dipenuhi suasana syukur, keakraban, dan refleksi.
Tentang Penulis

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Karya dan kehidupannya berpadu antara pendidikan, kesenian, dan pencarian makna melalui kata, diam, dan imajinasi.
Menulis puisi sejak tahun 2000, ia melahirkan ribuan karya yang merekam refleksi kontemplatif, isu lingkungan alam dan sosial, kemanusiaan, dan cinta damai. Saat menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis — menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran.
Sejak 2024, ia mulai membuka “samudra kata” pribadinya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers”, “L-BEAUMANITY (Love, Beauty, and Humanity)”, serta trilogi “English Stories for Literacy” — perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan kemanusiaan.
Selain mengajar, ia aktif di berbagai komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua beberapa gerakan sosial, literasi, dan sastra digital — seperti PPIPM-Indonesia (Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy) — ia terus menjembatani generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan merenung.
Atas dedikasinya, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literacy Festival ke-3 (IMLF-3), dan ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
THE VASTNESS OF THE SEA WITHIN YOUR CHEST: The Poems Collection by Leni Marlina