LUPUT DALAM KENANGAN
Oleh: Rizal Tanjung
–
aku telah melupakan apa yang kudapatkan
seperti debu yang luruh dari jari waktu
seperti ombak yang menyapu jejak di pasir
aku adalah bayangan yang menua di matamu
aku mendengar bisikan angin
menyebut namaku dengan nada sunyi
seakan memanggilku kembali ke pelukan yang retak
namun, aku tahu
cinta bukan lagi rumah bagiku
di sudut kota yang tak lagi mengenang kita
di antara lampu-lampu yang kehilangan bayangannya
aku berjalan, mengumpulkan kepingan kisah
mengukir luka di halaman kosong
tempat namamu pernah tertulis dengan cahaya
lupakanlah…
aku tak lagi ada di sana
di antara kelopak mawar yang pernah kau simpan
di dalam genggaman doa yang kau ucapkan
aku telah menjadi angin
menjadi bayang
menjadi luka yang tak lagi terasa sakit
malam ini langit menangis,
seperti dulu kau menangis dalam genggamanku
tetapi kali ini, tak ada tangan yang menghapus air matanya
tak ada bahu tempat kesedihan bersandar
hanya hening yang berbicara, tanpa suara, tanpa cahaya
lupakanlah…
di sudut waktu, kita hanyalah dua nama
yang pernah terukir dalam puisi tanpa akhir
tetapi kini, namamu menghilang di bait terakhir
dan aku adalah kata yang tak lagi diucapkan
aku mencintaimu—
dengan segenap kehilangan yang kubawa
dengan luka yang tak perlu dijahit
dengan keheningan yang tak bisa diisi kata-kata
tetapi cinta, seperti pagi yang datang terlalu cepat
akan pudar sebelum sempat kau genggam
lupakanlah…
karena aku telah menjadi bagian dari masa lalu
yang tak ingin kau baca kembali.
Padang, 9 Februari 2025.