April 21, 2026
Mila4

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini terinspirasi dari karnaval Kostum Daur Ulang Sampah oleh 15 Transpuan Komunitas Seroja Pasar Duri, Agustus 2023, sebagai bentuk kepedulian pada krisis lingkungan)
*

Banjir kembali merendam Pasar Pos Duri.
Seperti ritual tahunan,
air datang, menelan gang-gang sempit,
menyapu kios-kios yang ringkih berdiri,
menggenangi kehidupan yang tak sempat kering dari luka.

Seperti tahun-tahun sebelumnya,
mantra azab Tuhan kembali berkumandang.
Di antara riak air yang menggenang,
tuhan-tuhan kecil bermunculan.

“Lihat tuh, sampai mati kita bakal kebanjiran terus.Selama tuh bencong-bencong masih tinggal di sini.” Ucap seorang perempuan berdiri di depan rumahnya.
Pak Joko mengangguk, menjadi nabi dari keyakinannya sendiri. “Ini azab dari Tuhan, Bu. Gara-gara mereka, kampung kita kena kutuk.”

Dongeng azab itu melayang di udara,
menyelinap ke telinga Mama Uli,
seperti kaca tipis yang retak dihantam suara-suara kebencian.

Lima tahun sudah Mama Uli menetap di Pasar Pos Duri,
Ia merantau, setelah diusir dari kampungnya,
karena pilihan hidupnya yang dianggap tak normal.

Ia membangun mimpi di balik salon kecilnya.
Tak sendiri, lima belas transpuan berteduh di sana,
menjalin hidup di ruang selebar 1,5 meter itu.

*

Langit bersinar cerah,
pelangi baru saja menari-nari setelah hujan reda.
Di dalam salon sempit,
mereka duduk bershaf,
tanpa doa yang terdengar,
hanya diam yang mendekap.

“Cin, cin, kita lagi jadi pembicaraan. Di mata mereka, kita ini pembawa azab banjir.”Mama Uli berbicara pelan, tapi kalimatnya seperti belati, menyayat hati teman-temannya yang telah lama penuh luka.
Langit tiba-tiba berubah mendung.
Senyap menyergap,
napas mereka tertahan, seolah angin ikut berduka dalam perasaan yang tertikam.

Mama Uli mengamati mereka,
mata-mata yang menahan tangis,
dada yang bergemuruh seperti ombak sebelum badai.

“Tak ada guna kita menjawab tuduhan mereka. Lebih baik kita melakukan sesuatu, agar banjir tak lagi datang seperti kutukan.” Mama Uli menguatkan.

Kata-kata itu seperti embun,
menyejukkan tanah yang retak oleh panas penghinaan.
Hati Mama Uli adalah mutiara,
berkilau meski terselubung lumpur prasangka.

*

17 Agustus 2023.
Bendera merah putih berkibar di sepanjang jalan protokol Ibu Kota.

Di istana, para penguasa berdiri tegak,
dibalut jas dan kebaya megah,
menyanyikan lagu kebangsaan.
Mereka sedang merayakan kemerdekaan, katanya.

Tapi di pinggir kota yang terlupakan,
di sudut sempit Pasar Pos Duri,
kemerdekaan dirayakan dengan cara yang berbeda.

Lima belas transpuan melangkah ke panggung tanah,
tanpa mahkota emas,
tanpa sorotan cahaya glamor,
tanpa nama besar yang dituliskan di koran.
Namun langkah mereka menggetarkan bumi.

Sampah plastik yang dihina sebagai biang banjir,
disulap menjadi gaun yang bersinar seperti bintang.
Dari limbah yang terbuang,
lahir keindahan yang tak disangka.

Anak-anak, orang tua, semua mata terpana.
Tak menyangka bahwa sampah yang berserakan,
dapat menjelma menjadi sesuatu yang begitu memukau.

Mama Uli berdiri di tengah mereka.“Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan anak-anakku sekalian.Terima kasih telah hadir di Karnaval Daur Ulang Sampah.Ini cara kami, para transpuan, menjaga lingkungan kita.Semoga tidak banjir lagi.”

Tepuk tangan bergemuruh,
menembus dinding seng Pasar Pos Duri yang lusuh,
membahana seperti ombak yang tak bisa dihentikan.

Mereka adalah bunga yang mekar di tanah yang keras,
menghadirkan keindahan dan keharuman,
meski dunia seringkali tak memberi ruang.

Mereka adalah pelangi setelah hujan,
warna-warni yang tak bisa dihapus oleh cemooh.

17 Agustus 2023.
Dalam balutan pakaian daur ulang sampah,
para transpuan itu merayakan kemerdekaan.

Merdeka dari hinaan,
merdeka dari cemooh tuhan-tuhan kecil, yang ingin menjadi matahari di gelapnya malam.

Depok, 7 Februari 2025

Catatan
Puisi esai ini ditulis dengan bantuan AI
(1) https://www.konde.co/2023/12/15-transpuan-seroja-karnaval-kostum-daur-ulang-sampah-lawan-krisis-iklim-dan-diskriminasi/
(2) Transpuan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang lahir dengan jenis kelamin laki-laki, tapi ia mengindetifikasi dirinya sebagai perempuan. Nama lain transpuan yang dikenal di masyarakat adalah warian, transgender, atau bencong.