April 16, 2026
AKAHA TAUFAN

Puisi Esai

Oleh Akaha Taufan Aminudin

Berikut adalah Puisi Esai yang dirancang dengan diksi kuat, metafora tajam, dan kritik politis yang menyentil—terinspirasi dari kontras antara tugas mulia guru dan pahitnya realitas kesejahteraan mereka.

​I

Di rahim sansekerta, namamu adalah fajar:
Gu sang gelap, Ru sang cahaya yang berpijar.
Kau ditenun dari benang
doa dan kapur yang luruh,

Memahat peradaban di atas
bangku-bangku yang rapuh.
Namun di negeri yang gemar memoles angka,
Cahayamu seringkali hanya “dibanderol” seharga pulsa.

​II

Lihatlah perjamuan
di gedung-gedung tinggi itu,
Di mana janji ditebar
seperti pupuk di atas batu.

“Kesejahteraan!” teriak mereka,
suaranya menggelegar,
Namun guru honorer masih
mengunyah sisa nasi yang hambar.
Rp 90.000 sebulan—sungguh
sebuah “komedi” yang getir,
Di saat anggaran negara terbang
seperti merpati yang kikir.

​III

Supriyani dan para pejuang
gaji yang dibui,
Adalah potret hukum yang tumpul
pada nurani sendiri.

Seragam cokelat dan palu hakim
terkadang lupa,
Bahwa adab tak bisa dipenjara,
tak bisa dipaksa.

Ketika anak penguasa mencakar
martabat pendidik,
Republik ini sedang sakit, tersedak
harga diri yang pelik.

​IV

Kini di bawah bayang-bayang
Menteri “Koboi” dan Panglima,
Ada harapan baru yang ditiupkan
dalam pidato-pidato lama.

“Libas penghalang!” seru
sang pemimpin dari singgasana,
Semoga bukan sekadar gincu
di bibir politik yang fana.

Sebab guru bukan pesulap
yang hidup dari tepuk tangan,
Mereka butuh dapur yang berasap,
bukan sekadar sanjungan.

​V

Di Batu, Tiga Serangkai
masih menanti janji,
Nama Roebiman belum juga terpatri
di plang jalan abadi.

Jangan biarkan mereka
hanya jadi ziarah tahunan,
Atau tabur bunga yang layu
sebelum musim bergantian.

Sebab mengabdi pada guru
adalah mengabdi pada masa depan,
Bukan sekadar komoditas
suara di musim pemilihan.

Ahad Wage 28 Desember 2025
Akaha Taufan Aminudin
Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR

​Catatan Metafora & Diksi:
​”Dibanderol seharga pulsa”: Metafora untuk penghinaan terhadap gaji guru honorer yang sangat kecil.

​”Gincu di bibir politik”: Diksi untuk menggambarkan janji-janji manis pemerintah yang seringkali hanya hiasan tanpa realisasi.

​”Maha Guru di Meja Perjamuan Paradox”: Menggambarkan posisi mulia guru yang seringkali berada dalam situasi yang kontradiktif (dimuliakan secara kata-kata, dimiskinkan secara fakta).

​”Palu hakim yang tumpul pada nurani”: Kritik terhadap kasus kriminalisasi guru.

https://www.facebook.com/share/p/1BNAti7huS/

Cakndjojo Guru Pembawa Cahaya https://www.kompasiana.com/akahataufan/6950dead34777c3ec12e8756/cakndjojo-guru-pembawa-cahy?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile