February 9, 2026

“MALAM YANG MENOLAK GELAP GULITA”: Kumpulan Puisi Leni Marlina, Ilhamdi Sulaiman, Herry Tany (PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena, KEAI, ACC SHILA, WPM-Indonesia

/1/

MALAM YANG MENOLAK GELAP GULITA

Puisi Oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami adalah malam
yang menolak takdir menjadi gelap gulita—
sebab di dalam dada kami,
telah menyala matahari
yang tak perlu menunggu pagi.

Kami adalah suara
yang kau sangka diam,
padahal kami tengah berdzikir menembus langit,
berbicara langsung kepada Sang Pencipta dan Pemilik Sumber Cahaya,
dengan bahasa yang hanya bisa dibaca
oleh kejujuran dan air mata.

Apakah kau dengar,
di antara reruntuhan dan tayangan usang itu,
gemuruh kami bukan kemarahan,
melainkan rindu purba
untuk dikenal
bukan sebagai angka,
melainkan sebagai hamba-hamba Tuhan
yang kehilangan halaman pertama
dalam sejarah yang kau putarbalikkan.

Kami dilahirkan
dari rahim peristiwa yang tak sempat diberi nama,
dibuang sebelum sempat memanggil dunia “ibu”.

Namun kami berjalan,
tanpa kaki, tanpa negara, tanpa perlindungan,
sebab cinta Tuhan
melampaui barikade dan peluru,
lebih tahan dari garis perbatasan,
lebih cepat dari siaran darurat.

Kami tinggal
di antara puisi dan berita,
antara nyawa dan statistik,
antara tubuh dan teori pembangunan.
Tapi kami tahu:
ada mawar yang mekar
di jantung luka
yang tak sempat diperban oleh kemanusiaan.

Mereka menggiring kami
ke lorong-lorong kematian,
tapi tak tahu
kami justru menemukan hidup
di ujung kegelapan itu.
Karena tak ada lorong
yang terlalu sempit bagi jiwa yang merdeka.

Bayangkan—
bahkan batu bisa menangis
jika didiamkan terlalu lama.
Batu yang menangis bukan lemah,
ia hanya tak ingin abai
pada doa yang terperangkap di dalamnya.

Tubuh kami tak ingin jadi korban,
melainkan saksi.
Saksi bahwa cinta
masih mungkin tinggal
di tengah reruntuhan.

Kami adalah kesaksian
bahwa yang ditinggalkan
tidak pernah benar-benar sendiri.
Kami berbicara
melalui napas angin,
melalui isak reruntuhan,
melalui tatap anak-anak
yang tak pernah kau ajari
bagaimana berharap.

Jangan lihat kami sebagai amarah.
Lihat kami sebagai doa
yang meminjam bentuk luka.
Karena luka yang dicintai
adalah pintu rahasia
menuju Rumah Yang Satu—
tempat di mana segala nama
kembali menjadi terang.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/2/

PERBATASAN

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di perbatasan, peta jadi senjata.
Sungai kecil, tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan,
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis,
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.

Jakarta, 2025

/3/

MALAM TANPA TIDUR

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]

Malam kami bukan untuk tidur,
tapi untuk menunggu
apakah dinding masih sanggup bertahan
jika pagi tak datang?
Kami tidur dengan satu mata terbuka,
dan mimpi-mimpi kami dibungkus
dengan kain kafan suara.

Jakarta, 2025

/4/

DUKA YANG DITULIS ANGIN

Puisi Oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Di padang senyap, angin menulis
dengan huruf yang tak dikenali bumi—
ia bisikkan nama yang dilarang
tumbuh di antara puing.

Luka tak memilih bangsa,
ia hanya ingin disapa.
Dan tangis pun menjelma
burung-burung malam
yang kehilangan arah kiblat.

Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar,
biarkan doa kami melampaui pagar
yang diciptakan manusia.

Kami tak ingin balas dendam,
hanya ingin pulang—
tanpa dibakar,
tanpa dilupakan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/5/

LONCENG YANG TAK LAGI BERDENTANG

Puisi Oleh
Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]

Dulu ada lonceng di menara,
memanggil orang berdamai.
Kini ia dibungkam,
berkarat dalam kesepian waktu.
Lonceng itu masih ada,
tapi nadanya dipenjara
oleh tangan yang lebih suka membunyikan senjata.

Jakarta, 2025

/6/

Tak Dilahirkan Untuk Sekadar Mati Dalam Catatan Kaki

Puisi oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami adalah benih
yang ditanam dalam tanah yang tak lagi percaya musim.
Bukan awal,
melainkan gema dari hasrat yang dikebiri waktu.

Kami bukan luka,
kami jeda—
yang tak sempat kau beri nama,
karena sejarahmu terlalu sibuk mensterilkan derita
dengan tanda baca yang tak bernyawa.

Kami tumbuh
di bawah bayang gedung dan pidato,
dari pori-pori jalan raya
yang dilindas janji.
Dan kami masih hidup membawa nurani.

Kau lihat kami
hanya dari layar,
tak pernah dari mata.
Kau bicarakan kami
dengan angka,
tapi tak pernah dengan nyawa.
Apakah masih ada nuranimu di sana?

Dengarlah,
di tengah puing dan pembiaran,
kami bangunkan langit dengan urat-urat puisi,
karena kami tak ingin dilahirkan
untuk sekadar mati
di dalam catatan kaki.

Padang, Sumatera Barat 2025

/7/

NAMA-NAMA YANG HILANG

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami menyebut nama-nama
dalam daftar panjang kehilangan.
Mereka bukan angka,
tapi cahaya yang menyalakan pagi kami.
Setiap nama adalah perahu
karam tanpa laut,
hilang di halaman koran
belum kami baca.

Jakarta, 2025

/8/

GENDING MAKAM AKTIVIS

Puisi Oleh Herry Tany

[PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

“bangunlah kaum yang terhina!
bangunlah kaum yang lapar!
kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar

lenyapkan adat dan faham tua
kita rakyat sadar! sadar!
dunia sudah berganti rupa
untuk kemenangan kita.”

merumuskan ruang
mengumpulkan ingatan menerjemahkan
rumah mewangi gandum
berbau jagung kuda dan burung-burung
aroma busuk sengaja dihembus lalu sejarah terhapus

pelataran matahari terlihat murung
bukan kandang babi yang dapat dilupakan
sampai semua lari dengan rasa takut sangat serius
seperti mendengar makam para aktivis melantunkan gending

hujan melemparnya ke halaman belakang
mengganti kisah pelarian sampai berkeringat
senjata-senjata menghancurkan ladang
berteriak ganyang keluarga lalu kuburkan

bagai orang asing yang sedang tamasya
menciumi masa-masa kehilangan tahun demi tahun
biji-biji hidup dalam imajinasi berbalut penyimpangan penghilangan
hingga menjadi tolol terlupa sampai membusuk

Suara Pinggiran, Jakarta, 13-14 Mei 2025

————————————-

Herry Tany merupakan nama panggung dengan nama asli Herry Sunandar lahir di Jakarta aktif dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bergerak di bidang Sosial, Politik, Ekonomi dan Kebudayaan juga sebagai Jurnalis, Penulis, Pembaca Puisi, Aktor Teater dan sinematography.

/9/

DI BALIK PUING

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Ada puisi yang lahir dari reruntuhan,
bukan dari tinta,
tapi dari darah mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa,
ia tetap menulis,
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.

Jakarta, 2025

/10/

DI BALIK NAMA YANG YANG TELAH DIHAPUS

Puisi Oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Bukan tanah yang mencabik,
tapi peta yang dirancang
tanpa mempertimbangkan jantung.

Nama yang terhapus
menjadi cahaya, kini
menolak padam
di langit tanpa bendera.

Kami tidak mati,
kami berpindah
ke dalam sajak yang tak kau baca,
ke dalam nyanyian
yang tak berani disiarkan.

Jika kelak engkau temui
daun gugur yang menyebutkan
nama ibumu,
itulah kami,
menjelma musim
agar kau tahu:
yang dijajah pun bisa menumbuhkan langit.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/11/

PUISI YANG TERSISA

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Setelah semua hancur,
puisi adalah satu-satunya tersisa
rapuh, terluka,
tapi terus berkata.
Ia tak punya senjata,
tapi punya lidah
yang menolak diam
ketika kemanusiaan dihancurkan.

Jakarta, 2025

/12/

BUMI YANG ENGGAN MENGUBUR SUARA

Puisi oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Bumi telah kenyang akan langkah
yang menulis luka lalu menamainya pembangunan.
Ia menutup telinga
pada doa yang dibisiki oleh tubuh-tubuh tak bernisan,
dan membiarkan suara-suara
melayang di udara
tanpa tempat mendarat.

Kami bukan sisa.
Kami adalah nadi
yang menolak dipotong dari tubuh peradaban.
Kami adalah huruf
yang menolak dibungkam dalam arsip digital
dan statistik donasi.

Kami tak menuntut
selain diakui sebagai gema,
sebagai malam yang tak mampu kau selesaikan,
sebagai langit
yang enggan disulap menjadi panggung propaganda.

Kami lihat
Engkau mencoba menukar firman
dengan jual-beli dan iklan,
menukar kitab
dengan kontrak kerja,
dan menggantikan air mata
dengan emoji semata.

Tapi kami masih di sini—
menyusun perjuangan dari serpih sejarah,
membangun harapan
yang tak bisa disensor.
Karena kami bukan suara yang lewat,
melainkan suara yang menetap.
Kami bukan metafora,
kami adalah makna
yang tak sudi ditinggalkan.

Padang, Sumatera Barat, 2025

/13/

PUISI YANG TERSISA

Puisi Oleh Ilhamdi Sulaiman

[Satu Pena, PPIPM-Indonesia, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Setelah semua hancur,
puisi adalah satu-satunya tersisa
rapuh, terluka,
tapi terus berkata.
Ia tak punya senjata,
tapi punya lidah
yang menolak diam
ketika kemanusiaan dihancurkan.

Jakarta, 2025
————————————-

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) lahir 68 tahun yang lalu. Beliau menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di
Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986, berkesenian sejak tahun 1976. Beliau menulis dan menjadi Deklamator hingga kini.

/14/

Ketika Jiwa Kembali ke Sumber Segala Sumber Cahaya

Puisi Oleh Leni Marlina

[UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, KEAI, ASM, Penyala Literasi, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Jiwa tak pernah mati—
ia hanya berhenti meminjam kulit.
Di pelipis langit,
ia menanggalkan nama
seperti kabut melepaskan bentuknya
kepada embun.

Kita bukan tubuh.
Kita bukan sejarah.
Kita adalah gema dari bahasa purba,
sebelum berkembang ratusan bangsa dan
ribuan bahasa,
yang mencoba terus bersyukur dan bersabar.

Sabar bukan diam,
tetapi sebatang pohon
yang tak pernah memaksa musim
untuk mempercepat gugur.
Ia adalah kesunyian yang tahu
waktu bisa mengeja nama Tuhan
tanpa suara.
Ia adalah darah
yang mengalir tanpa dendam
di nadi luka.

Kita telah diasingkan dari terang
untuk belajar menjadi suluh.
Kita telah ditinggalkan bahasa
agar kata kembali menjadi zikir.
Tak ada yang benar-benar hilang—
hanya berubah bentuk,
seperti kesedihan
menjelma pelukan
di tubuh bayang-bayang.

Apa arti puisi
jika tak bisa menampung
ratapan bumi dan jerit burung patah sayap?
Apa arti puisi
jika ia tak sanggup menjadi jembatan
bagi roh yang jatuh
ke dalam sunyi?

Puisi bukan hanya milik penyair—
ia milik semesta yang bergetar
saat kita diam
dalam kehadiran.

Jiwa tak menuju langit.
Ia kembali ke Sumber Segala Sumber Cahaya—
asal segala kesaksian.
Di sana,
tak ada pujian,
tak ada puisi,
hanya hening
yang sanggup menampung
segala kata
yang tak mampu kita ucapkan
di dunia.

Padang, Sumatera Barat, 2025

———————————-
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang aktif dalam berbagai komunitas literasi dan sastra baik nasional maupun internasional. Sejak 2022, ia bergabung dengan SATU PENA Sumatera Barat (diketuai oleh Sastri Bakry) dan menerima penghargaan dari organsisasi tersebut untuk kategori Penulis Berprestasi 2025. Sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association, dipimpin oleh Anna Keiko) dan Koordinator ACC SHILA untuk Perwakilan Asia sejak 2025, serta anggota World Poetry Movement-Indonesia, Leni terus berkolaborasi untuk menyuarakan kemanusiaan dan perdamaian melalui puisi.

Ia memulai perjalanan internasionalnya saat studi Master of Writing and Literature di Australia dan mengabdi sebagai dosen Sastra Inggris di Universitas Negeri Padang (sejak tahun 2006).

Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas sastra, literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)

Di luar aktivitas di kampus dan di komunitas, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Kumpulan puisi Leni Marlina dimuat di sejumlah platform digital, diantara dapat diakses publik melalui link official: 🔗
https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/