Mantan Kepala RRI Paulus Laiyan Klarifikasi dan Minta Maaf atas Pernyataan Kontroversial
Oleh : joko
Tanpa Tekanan, Paulus Laiyan Cabut Ucapan dan Hormati PDI Perjuangan
Mantan Kepala Stasiun RRI ini menyatakan permohonan maaf terbuka atas pernyataannya di media sosial yang dianggap menyinggung PDI Perjuangan. Ia mengakui kesalahan dan menarik kembali ucapan tersebut atas nama pribadi, keluarga, dan leluhur.
Paulus Laiyan Akui Khilaf dan Cabut Pernyataan Menyinggung
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 2 Agustus 2025 — Mantan Kepala Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI), Paulus Laiyan, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada jajaran PDI Perjuangan, menyusul reaksi publik atas pernyataan kontroversial yang ia tulis beberapa hari lalu di grup media sosial Cahaya Tanimbar.
Dalam pernyataannya, Laiyan menyebut bahwa ucapannya tidak bermuatan politik dan semata-mata lahir dari ketidakhati-hatian dalam merespons berita yang ia baca.
“Saya mengakui bahwa pernyataan tersebut adalah bentuk kekhilafan. Saya menyesal telah mengeluarkan komentar yang tidak sepatutnya,” ucapnya dengan nada tulus.
Komentar yang Tak Terjaga dan Reaksi Cepat dari Publik
Paulus Laiyan merespons sebuah unggahan di grup Cahaya Tanimbar yang menyatakan bahwa PDI Perjuangan masih menempatkan Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai sosok sentral partai untuk lima tahun ke depan.
Dalam tanggapan spontan, Laiyan menuliskan kalimat yang kemudian menjadi kontroversial: “Apakah tidak ada orang lain lagi selain nenek-nenek itu?”
Ucapan itu sontak menuai reaksi keras, terutama dari pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) yang dipimpin oleh Bapak John Kelmanutu, SH.
Permintaan Maaf Secara Pribadi dan Leluhur
Dalam klarifikasinya, Paulus Laiyan menegaskan bahwa ia menarik kembali pernyataan tersebut secara pribadi dan atas nama keluarga serta leluhur.
Ia juga meminta maaf kepada seluruh jajaran PDI Perjuangan, mulai dari DPP, DPW, hingga DPC, secara khusus kepada pengurus di KKT.
“Saya benar-benar menyadari kekeliruan ini, dan memohon maaf sebesar-besarnya. Tidak ada maksud politik tersembunyi, tidak pula didasari tekanan pihak manapun. Ini murni kesadaran saya pribadi.”
Komitmen Memuat Klarifikasi di Media Online
Paulus juga menyatakan akan menyebarluaskan klarifikasinya ke berbagai media online, baik di tingkat Provinsi Maluku maupun lokal Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan itikad baik untuk meluruskan kesalahpahaman.
“Rilis ini saya muat secara terbuka agar masyarakat tahu bahwa saya tidak berniat buruk terhadap siapa pun. Sekali lagi, saya menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya.”
Pernyataan Paulus Laiyan menjadi pengingat bahwa dalam ruang digital yang terbuka dan cepat, tanggung jawab etika dalam berkomentar tetaplah penting.
Klarifikasi dan sikap terbuka yang ia tunjukkan patut diapresiasi sebagai bagian dari budaya demokrasi yang sehat, di mana perbedaan pandangan tidak menghilangkan rasa hormat antar sesama.