April 21, 2026
admin-ajax_11zon

Oleh Fanny J. Poyk

Agung ingin mencungkil kedua biji matanya. Keinginannya itu disampaikan pada sahabatnya, Darma. Tidak pada istrinya. Tentu saja sang sahabat terkejut. “Kenapa? Ada yang salah dengan dua biji matamu itu?” Tanya Darma.
“Tidak. Mataku baik-baik saja. Tapi aku merasakan ada yang tak beres dengan perasaanku tentang mataku ini. Aku menjadi resah sekaligus gelisah.” Ucap Agung lagi.
“Resah dan gelisah kenapa? Bukankah melalui matamu kau bisa melihat yang indah-indah termasuk perempuan cantik dan duit yang berwarna merah itu. Lagi pula kau ahli IT, jika matamu kau cungkil, dengan apa kau akan melihat layar laptopmu? Kau ini ada-ada saja. Sana periksa kejiwaanmu di psikiater, aku ngeri jangan-jangan kau sudah stadium tiga skizofrenia!” Kata Darma frontal tanpa basa-
basi.
Agung terdiam. Kemudian dengan bahasa penuh diksi dan metafora ia berkata, “mataku seperti lembah berapi, penuh rasa duka yang membentuk satu keinginan dari alam imaji yang setelah kutelusuri dan membentuk rangkaian harap pada tatap tanpa jeda dari rona cahaya yang buram dan meletihkan, ternyata aku harus segera mencungkil dua biji mataku ini agar tidak semakin meresahkanku.” Kata Agung dengan wajar datar.
Darma semakin cemas dan bingung. Benar pikirnya, Agung mulai terserang skizofrenia. “Kau sudah mendengar waham-waham di telingamu?” Tanyanya penuh selidik. Si sarjana psikologi ini semakin merasa cemas akan keadaan sahabatnya.
Sebenarnya secara nyata, ketika melihatnya dengan tatapan langsung, Agung Bawantara atau akrab disapa Agung ini, tidak memiliki masalah yang berarti di dalam hidupnya. Ia memiliki keluarga yang baik, damai dan sejahtera. Dengan gajinya sebagai Tenaga Ahli Informasi dan Teknologi atau IT yang bergerak di bidang studi perancangan dan implementasi untuk pengembangan manajemen sistem
informasi yang berbasis komputer di sebuah perusahaan ternama, gajinya lebih dari cukup. Apalagi posisinya sekarang sebagai wakil manajer di kantor pusat dengan skala internasional, secara finansial tak ada yang perlu dikeluhkan lagi. Dan keinginannya yang kuat hendak mencungkil dua biji matanya, sungguh perbuatan yang membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi cemas dan ngeri.
“Kau tahu, dengan mencungkil dua biji matamu, dosamu akan bertambah berkali-kali lipat. Tuhan sudah memberikan kesempurnaan panca indera padamu, lalu mengapa kau hendak memangkasnya dengan kebuasan rasa yang mencerminkan kau sebagai mahluk tak berbudaya? Itu sama saja kau manusia tak ber akhlak dan tidak mensyukuri karuniaNya.” Darma kembali mengingatkan. Kali ini Ia memposisikan diri seperti seorang ahli agama yang suci, bersih dari dosa.
Agung menelan ludahnya sendiri, jakunnya bergerak naik turun. Pria bertubuh langsing dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter ini, terlihat tak bermasalah dengan keberadaan dirinya. Ia tetap beranggapan menjadi buta akan lebih baik ketimbang memiliki dua biji mata yang selalu menyusahkan dirinya.
“Banyak sajian yang terhampar di hadapan yang membuat mataku menjadi lapar. Aku harus memangkas semua itu agar tak menjadi beban tubuh kedaginganganku dan menambah dosaku yang telah bertumpuk-tumpuk itu.” Kembali Agung berkata, kalimatnya masih berputar-putar tidak menuju ke titik sasaran yang paling inti.
“Jadi, kau lebih suka menjadi butakah?” Tanya Darma serius. “Jika kau buta, apakah kau masih ingin bekerja di tempat ini? Jika kau buta, dengan apa kau akan melihat angka-angka yang ada di dalam laptopmu itu, jika kau buta
bagaimana kau akan menghidupi anak dan istrimu?” lanjutnya.
“Dengan nuraniku. Aku memiliki kekuatan supranatural yang mampu melihat isi dari seluruh laptopku, termasuk kedalaman isi hatimu. Di dasar samudra jiwaku, akan muncul sebuah ketulusan hati yang terfokus pada satu pemikiran saja, tentu saja bila mata sudah tidak lagi dapat digunakan untuk melihat. Jika masih ada mata, maka ego dan superioritas menutup kebeningan jiwa, kita bukan lagi menjadi mahluk yang humanis, namun telah berubah menjadi sosok yang jahat melebih setan.” jawab Agung.
Darma terdiam, ia merenungi ucapan Agung. Ia mulai terpengaruh akan segala ungkapan rasa yang disampaikan teman sekantornya dan sekaligus atasannya itu. Namun dengan segera dia menepisnya. Ya, ia sarjana psikologi, ia menyadari ada yang tak beres dengan kejiwaan temannya ini. “Agung, kau jangan mengucapkan beragam diksi atau metafora yang berputar-putar. Ada apa sebenarnya denganmu? Kau tak puas dengan jabatanmu, keluargamu atau kehidupan yang kau jalani?” kejarnya.
Agung tersenyum kecut. Matanya masih menunjukkan kalau ia belum mengalami sebuah trauma kemanusiaan yang membuatnya menjadi sosok pribadi pecah yang tak lagi memiliki karakter atau keteguhan hati. Ia masih terlihat normal. “Aku tetap punya keinginan untuk mencungkil dua biji mataku. Kau tidak akan pernah mengerti apa yang kurasakan dan kualami. Semua seperti sajian kenikmatan rasa namun kenikmatan itu menjadi bumerang yang merugikan bagiku. Aku bagai manusia tak berdaya, teronggok di dalam jiwa hampa yang perlahan-lahan akan mengering lalu habis tergerus waktu. Aku tak mau menunggu limit waktu hingga di usia ketujuhpuluh tahun, saat ragaku menciut dan penuh kerut, sehingga ketampanan dan keperkasaan wajah yang ada di tubuh kedaginganku, perlahan-lahan sirna ditelan era yang tak pernah bisa kumengerti, bahkan aku mulai meragukan keberadaanku sebagai manusia, apakah ini aku yang sejatinya memang benar aku? Mengapa aku berada di tempat ini, sebuah tempat dengan ketercerabutan sisi kemanusiaan yang dulu pernah kumiliki? Mengapa?” Agung bertanya sambil menatap wajah Darma.
Ucapannya itu semakin membuat Darma mulai yakin kalau atasannya ini mulai terganggu jiwanya. Darma merasakan kecemasan yang luar biasa. Jika benar Agung akan mencungkil kedua biji matanya, maka hal ini tak bisa dibiarkan. Ini kesalahan yang paling tidak manusiawi apabila ia tidak melalukan sesuatu untuk segera mencegah tindakan tersebut. Ini berbahaya, bukan hanya untuk Agung secara pribadi, namun bagi dirinya, sebab seluruh data perusahaan ada di bawah kendali Agung si wakil manajer yang ahli IT dan bagi keluarganya.
“Mengapa kau ingin mencungkil kedua biji matamu? Adakah masalah serius yang membuatmu hendak melakukan hal itu?” Darma kembali mengulang pertanyaannya.
Agung tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Pikirannya melalangbuana ke berbagai arah, lalu menukik pada kisah beberapa hari yang lalu, tatkala isterinya bertanya tentang hasil gaji yang diterimanya. Mengapa gaji yang diberikan Agung padanya berkurang setengahnya. Hal ini sudah berlangsung sekitar setahun yang lalu, sang istri pada awalnya mendiamkan hal itu dan berharap suaminya akan menjelaskan dengan jujur ke mana sebagian gaji yang diterimanya itu, adakah pemotongan akibat laba perusahaan yang menurun drastis, atau hal ini akibat dari kenaikan dollar yang berpengaruh kuat pada perputaran modal perusahaan sehingga membuat perusahaan memangkas gaji para pegawainya. Dia ingin menanyakan hal itu pada suaminya, namun dia akan menunggu waktu yang tepat hingga sang suami sendiri yang akan menjelaskannya.
“Apa? Agung ingin mencungkil dua biji matanya?” sang istri balik bertanya dengan nada tak percaya pada Darma. Ia mewanti-wanti lelaki itu untuk menjaga suaminya dengan ketat.
“Ya, dia mengatakannya berkali-kali pada saya. Apakah Mbak melihat ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini?” Tanya Darma.
Moira, sang istri mengerutkan dahinya. Tampaknya ia berpikir keras untuk mencari sebab-musabab yang membuat suaminya sampai berpikir hendak mencungkil dua biji matanya. “Ini keinginan yang gila.” Katanya. “Aku harus mencari tahu mengapa dia sampai ingin berbuat begitu. Atau…apakah suamiku setres dengan pekerjaannya lalu dia berniat untuk melakukan hal yang sangat mengerikan itu? Tahukah kau Pak Darma? Kau kan yang selalu dekat dengannya di kantor.”
Darma menggelengkan kepalanya. “Sebelumnya Pak Agung tidak pernah berkata seperti itu. Ini terjadi demikian tiba-tiba. Semua yang diucapkannya memakai kata-kata yang penuh dengan diksi dan metafora yang biasa terdapat di dalam sebuah puisi. Saya harus mencernanya dengan cermat untuk memaknai, mengapa Pak Agung ingin mencungkil dua biji matanya. Setahu saya, di kantor dia baik-baik saja. Tidak terlihat seperti orang depresi atau stres. Ungkapan ingin mencungkil kedua biji matanya itu, buat saya sangat absurd. Saya tidak mau membayangkan jika hal itu terjadi.”
“Saya juga. Masakan sebagai istri saya akan membiarkan hal itu terjadi, betapa biadabnya saya.” Ucap Moira dengan mimik serius.
Dan seharusnya pengumuman itu tidak pernah tertulis di tiap layar laptop yang ada di kantor Agung. Namun apa daya, hal itu sudah tersebar dengan cepatnya. Bisik-bisik dari seluruh pegawai tak bisa dibendung oleh penjelasan dengan ucapan bijasana untuk menutupi semua yang sedang terjadi. Mata Agung memang tidak jadi dicungkil, sebab beberapa aparat telah menanganinya dengan gerak cepat, mirip secepat lintasan waktu. Kedua bola mata Agung diplester dengan kuat sehingga tidak memberi celah untuk tangannya mencungkil dan mengeluarkan kedua biji matanya. Namun kejiwaannya memang sedikit terganggu, tapi bisa ditangani oleh obat-obatan yang diberikan dokter ahli jiwa yang menanganinya. Jika Agung rutin minum obat yang diberikan psikiater yang ditunjuk kantornya, maka dengan cepat dia akan segera sembuh. Agung bahkan sempat berkata pada Damar untuk menyampaikan pesannya pada Moira sang isteri, “tolong sampaikan permintaan maafku pada Moira, aku tak akan mengulanginya lagi, satu tahun setengah gaji yang kuhabislan untuk memasang judi online itu, akan kuganti dengan tabunganku yang masih tersisa. Aku kapok. Judi online itu telah membutakan logika dan nalar kemanusiaanku. Aku malu sekali. Semoga aku bisa segera memperbaiki namaku yang telah tercemar ini. Jika saja bisa kulakukan, bila dua biji mataku yang telah kucungkil itu benar-benar ke luar dari sarangnya dan aku menjadi buta, pastinya akan membuat dosaku kian berkurang. Aku menyesal.”
“Sudahlah, jangan menjadi orang yang pura-pura gila Pak Agung. Jika kau mati nanti, lalu Tuhan akan bertanya ke mana dua biji matamu? Apa yang akan kau jawab? Apakah kau akan mengatakan kalau semua ini gara-gara judi online yang kau pasang itu kemudian merugikanmu itu? Pikirkan hal ini baik-baik kawan!”

Tamat
Dimuat di Majalah Sastra Badan Bahasa, 2024

Biodata Fanny J. Poyk

Nama lengkap Fanny Jonathans Poyk (Fanny J.Poyk), Lulusan IISIP Jakarta, jurusan jurnalistik, pernah menjadi wartawati di Tabloid Fantasi dan Konsultan Media di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjadi editor untuk beragam buku. Menulis cerita anak dan puisi sejak tahun tahun 1973/77 di majalah anak Bobo, Tom Tom, Halo, Ananda, kolom Sahabatku Sinar Harapan, kolom anak Suara Karya, majalah anak Kuncung, dll. Menulis cerita dewasa/remaja di Majalah Sarinah, Pertiwi, Puteri Indonesia, Gadis, Kartini, suratkabar Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jawa Pos, Timor Expres, Surabaya Post, Dalang Publishing Amerika, Daily Express Malaysia, Kompas, Kompas.id, Majalah Elipsis, Cerpen Fanny terpilih menjadi 20 besar cerpen terbaik versi Koran Kompas pada 2017.