May 10, 2026

(Sebuah Satire Luka Manusia)
Oleh: Rizal Tanjung

Di tanah pertama,
Habel jatuh—bukan karena lemah,
tapi karena saudaranya lebih cepat belajar memukul
daripada memeluk.

Sejak itu kita berjalan,
menyeret sejarah yang berdarah,
di pundak yang mengaku suci,
tapi baunya seperti abu mayat dan minyak tanah.

Manusia?
Kita pewaris gen pembunuh,
turunan dari para nabi yang diabadikan dalam kitab,
namun tak pernah diajari cara mencintai
tanpa syarat tanah atau tembok.

Lalu lahirlah bangsa-bangsa dari rahim kemarahan:
Israel, Palestina, Babel, Roma,
dengan pusaka berupa luka yang ditanam sejak dalam kandungan.
Mereka tumbuh—bukan dari susu ibunya,
tapi dari dendam yang diperas dari sejarah retak.

Dan kita pun jadi bijak dalam kekejaman:
Menyebut bom sebagai “perlindungan”
Menyebut genosida sebagai “hak mempertahankan diri”
Menyebut pembantaian bayi sebagai “kesalahan teknis dalam sistem pertahanan.”

Oh, betapa halus bahasa kita
untuk menutupi betapa brutal hati kita.

Di halaman-halaman koran,
tangis disingkat jadi statistik.
Kematian anak-anak jadi angka,
dan angka jadi wacana politik sore hari
yang bisa disangkal,
diubah,
atau dijadikan bahan bakar rapat darurat keamanan.

Sementara ibu-ibu menyusu bayinya dengan suara sirine,
bapak-bapak menggali tanah untuk dua hal:
kubur dan tempat perlindungan.

Langit pun muak,
menolak menurunkan hujan—
karena bumi tak lagi haus air,
tapi darah.

Kami manusia, makhluk angkuh,
yang suka bicara tentang surga
dengan kaki yang menginjak tubuh orang mati.
Kami, ahli dalam doa,
tapi lupa bahwa Tuhan pun pernah menangis di medan perang
dan memilih pergi dari altar.

Kini perang jadi liturgi baru:
Meriam sebagai pendeta,
Drone sebagai muadzin,
dan peluru sebagai ayat-ayat yang dikumandangkan
setiap fajar dan senja.

Tuhan?
Terkadang ia diseret ke meja konferensi pers,
diberi bendera, diberi senjata,
dan dipaksa memilih satu pihak atas nama-Nya
yang bahkan tak sempat turun tangan
karena terlalu sibuk menyeka darah
di seluruh wajah bumi.

Apa kabar belas kasih?
Ia mati muda,
dikubur tanpa batu nisan
di tengah teriakan orang-orang yang mengaku benar.

Dan kita terus hidup—
dengan dada lapang tapi jiwa sempit,
dengan puisi tentang damai,
namun lengan yang siap menembak.

“Mazmur Perang dari Ujung Silsilah,”
bukan nyanyian kemenangan,
tapi eulogi untuk umat manusia
yang lebih suka membangun monumen kebencian
daripada taman untuk anak-anaknya bermain damai.

Sumatera Barat,2025