Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Melihat Pulau Ota di Teluk Berau Fakfak, Disebut Tempat Peristirahatan Terakhir Putri Duyung

Laporan: Tb Mhd Arief Hendrawan

FAKFAK, Suaraanaknegerinews.com, – Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua Barat punya sebuah pulau misterius. Konon, di sanalah tempat peristirahatan terakhir putri duyung.

Namanya Pulau Ota di Teluk Berau, Distrik Mbaham Dandara, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset Nasional (BRIN), Hari Suroto mengatakan bahwa, masyarakat menyebut Pulau Ota sebagai Pulau Putri.

Untuk menuju pulau ini, dapat dilakukan dengan naik speedboat dari Pelabuhan Kokas.
“Pulau ini kurang dikenal oleh wisatawan yang berkunjung ke Fakfak, tetapi bagi masyarakat Teluk Berau, pulau ini merupakan bagian dari sejarah nenek moyang mereka,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalis, Jum’at (28/11/2025).

Makam putri duyung

Menurut Suroto, ada kisah di balik julukan ini. Pulau karang kecil ini tak berpenghuni dan disakralkan oleh penduduk Teluk Berau. Di sebuah tebingnya terdapat ceruk yang menjadi titik penting cerita ini.

Dengan sedikit tanah datar, cerukan ini katanya berisi sebuah makam putri duyung.
Dari cerita yang diturunkan, putri duyung ini adalah seorang perempuan yang amat cantik.

Rambutnya panjang dan tergerai indah.
“Tapi bagian bawah tubuhnya berupa ikan,” katanya.
Putri duyung ini, ceritanya, hidup di laut. Tulang-tulang putri duyung dikumpulkan dan dimakamkan di situ.

Meski dibilang mitos, keberadaan makam ini tak bisa diabaikan begitu saja. Ada pantangan yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun yang lewat. “Kalau lewat pulau ini, tak boleh berbicara kotor dan harus pelan-pelan,” kata Suroto yang selama bertahun-tahun menjadi peneliti di Papua ini.

Jika melanggar, penduduk percaya akan tertimpa musibah saat melaut. Hal yang paling sering didengar yakni cuaca laut yang berubah jadi gelap atau timbul ombak besar.

Habitat dugong

Perairan sekitar Pulau Ota juga merupakan ekosistem padang lamun, yang menjadi habitat Dugong.
Menurut Suroto, dugong menjadi penyelamat nelayan yang tenggelam karena kecelakaan perahu.

Dulu, masyarakat percaya bahwa dugong adalah jelmaan manusia yang suka menolong nelayan, sehingga tak ada penduduk yang berani untuk memburunya. “Dugong merupakan mamalia laut herbivora yang menjelajah perairan tropis di kawasan Indo-Pasifik, termasuk perairan Fakfak,” ujarnya

Dugong adalah salah satu jenis mamalia laut herbivora yang termasuk dalam golongan Sirenia atau disebut sapi laut. Sebagai herbivora, dugong sangat tergantung pada kehadiran lamun sebagai pakan alami dan kondisi laut yang sehat.

Dugong mengkonsumsi sekitar 28-40 kg lamun tiap hari sebagai makanan utama.

“Zaman dulu, perahu menggunakan layar dan didayung, gelombang laut dan cuaca sangat berpengaruh selama perjalanan di laut,” ujar dia.

“Tengkorak manusia dan dayung di Pulau Putri dijadikan pengingat untuk berhati-hati akan keselamatan saat berada di laut,” kata Suroto.