Membangun Keluarga Harmonis, Impian Semua Orang
Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Selasa , 28 Oktober 2025 .
(06 Jumadil Awwal 1447 H)
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Terlebih dahulu marilah kita untuk selalu meningkatkan taqwa kepada Allah ﷻ.
Ajakan ini bermakna bahwa kita harus terus berupaya sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan cara memacu semangat kita dalam beribadah.
Taat atas perintah – perintah-Nya dan tunduk atas segala hal yang telah dilarang Allah ﷻ.
Dengan begitu, arti taqwa benar-benar bermakna untuk kita, memiliki efek positif, berubah menjadi hamba lebih baik lagi.
Keluarga yang harmonis, tenteram, saling melengkapi tentu saja menjadi impian semua orang. Membangun keluarga hakikatnya dimulai ketika seseorang sudah melangsungkan pernikahan, hingga menghasilkan anak atau keturunan yang sedari awal jadi impian bersama.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi :
“Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang- pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzariyat : 49)
Sebuah keluarga yang harmonis harus diupayakan, bukan tercipta dengan sendirinya. Kebahagiaan adalah hasil dari ikhtiar – ikhtiar yang kita lakukan, baik lahir maupun batin.
Keluarga yang bahagia yang kita impikan adalah jika nafkah keluarga bisa selalu tercukupi, dimudahkan untuk melakukan kebaikan – kebaikan untuk dirinya dan orang-orang sekitarnya, dimudahkan memecahkan problematika yang terjadi di keluarganya, hatinya selalu tergerak dengan panggilan Allah menunaikan kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur syariat, dimudahkan untuk selalu membantu orang- orang yang sedang membutuhkan, lahir anak-anak sholeh dan sholehah.
Barangkali itu sedikit gambaran keluarga bahagia.
Sekali lagi, semua itu diwujudkan dengan segala ikhtiar yang kita lakukan.
Allah ﷻ mengingatkan kepada kita semua bahwa kita diciptakan berpasangan agar tercipta ketentraman, kenyamanan.
Allah ﷻ berfirman:
“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan – pasangan untukmu dari jenis dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya.
Allah menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum : 21)
Pada ayat itu bila kita telaah lebih jauh, pilihan diksinya saling berkaitan, ketentraman atau kenyamanan adalah tujuan diciptakannya manusia berpasang- pasangan, ada pada kata “litaskunū ilaihā – supaya kalian merasa nyaman”.
Pada diksi setelahnya, Allah ﷻ menjadikan pasangan-pasangan itu dengan mawaddah atau rasa cinta dan waraḥmah atau rasa sayang.
Artinya, rasa nyaman itu memang sepatunya menjadikan hubungan di antara pasangan itu semakin kuat dengan terwujudnya mawaddah atau rasa cinta dan waraḥmah atau rasa sayang.
Dengan begitu, keharmonisan bukan tidak mungkin tercipta dengan kekal. Sebagaimana Ibnu Katsir menegaskan dalam tafsirnya, mawaddah dan waraḥmah merupakan dua unsur penting yang menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
Tentu, semua ini bisa tercipta melalui ikatan pernikahan yang sah secara agama.
Keluarga harus terus dijaga.
Suami adalah imam bagi istri dan anak – anaknya.
Karena itu, suami harus menjadi teladan yang baik untuk mereka.
Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kita betapa beliau bersikap baik kepada keluarganya meski Nabi adalah sosok yang sangat sibuk dengan aktivitasnya di luar.
Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah ﷺ mengurus pemerintahan, memimpin pasukan, menegakkan hukum, bernegosiasi dengan delegasi, mengajar para sahabat, menerima wahyu, dan mendakwahkan Islam, bahkan mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dunia.
Namun, di sela-sela kesibukannya, beliau adalah seorang yang bertanggung jawab dan penuh perhatian kepada keluarga, kepada anak-istri, cucu, bahkan anak-anak di sekitarnya.
Beliau sosok pelindung dan seorang yang lemah-lembut terhadap keluarga.
Hal itu seperti yang diakuinya dalam salah satu hadits:
“Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,:
‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.’”
(HR Tirmidzi)
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Mari kita berupaya sekuat tenaga untuk meneladani Rasulullah ﷺ dalam merawat keluarga agar tercipta keharmonisan. Sempatkan waktu untuk bersama keluarga sesibuk apapun aktivitas kita, kendati hanya dalam waktu yang cukup singkat, kita bisa memanfaatkannya dengan quality time, mengajak bermain, berdiskusi memecahkan masalah-masalah yang tengah dihadapi, makan bersama, berbelanja bersama, dan lain sebagainya.
Tak lupa juga, kita perlu terus saling mengingatkan dan menguatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah ﷻ, ajak beribadah bersama, sholat berjamaah, membantu orang – orang di sekeliling yang membutuhkan, dan hal-hal lain yang menggerakkan hati kita kian dekat kepada Allah.
Mari kita juga selalu memohon, berdoa kepada Allah ﷻ agar keluarga kita dijaga dari keretakan, kehancuran sepanjang hidup di dunia.
Diberikan kemudahan untuk berbenah diri lebih baik, menjadi imam yang baik untuk memimpin keluarga – keluarga kita, dimudahkan mencari dan memenuhi nafkah untuk istri dan anak – anak kita.
Adapun doa yang bisa diistiqomahkan dibaca, yaitu doa sapu jagat.
,
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Doa lain, seperti doa yang diberikan Sahabat Abdullah bin Mas’ud yang berbunyi:
“Ya Allah, berkahilah aku di dalam keluargaku dan berkahilah mereka di dalam diriku.
Berilah aku rezeki dari mereka dan berilah mereka rezeki dariku.
Ya Allah, kumpulkan kami menuju kebaikan dan pisahkan kami bila Engkau pisahkan menuju kebaikan.”
Semoga materi diatas ini bisa menjadi perantara untuk memacu diri membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah sebagaimana yang kita impikan bersama.
Aamiin ya robbal alamin.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah ,
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته