Menari di Tanah Papua: Sekeping Surga Jatuh ke Bumi
Oleh: Rizal Tanjung
–
Kami menari di tanah yang diukir Tuhan dengan telapak cinta,
tempat matahari mencumbu lautan tanpa rasa malu,
tempat gunung-gunung berbisik doa kepada langit,
tempat sungai-sungai menyusui bumi dengan air bening,
dan pohon-pohon menari mengikuti irama angin.
Kami menari di tanah Papua,
yang mereka sebut sekeping surga jatuh ke bumi,
tapi kami bertanya,
jika ini surga, mengapa neraka datang menjemput?
Lihatlah!
Hutan kami yang hijau berubah menjadi abu,
seperti nyala dupa yang membakar doa-doa kami,
air sungai kami yang dulu seperti cermin bidadari,
kini keruh, seperti mata ibu yang menangisi anaknya yang hilang.
Mereka datang dengan wajah seribu janji,
dengan buku hukum di satu tangan,
dan cangkul besi di tangan lainnya,
menggali perut ibu kami tanpa rasa hormat,
merampas emas yang katanya untuk negeri,
tapi negeri mana?
Sebab kami hanya menerima remah-remah janji,
dan luka yang menganga seperti jurang.
Kami menari di atas tanah yang mereka ukur dengan peta,
yang bagi kami adalah tubuh leluhur yang tak boleh dilukai,
tapi bagi mereka hanyalah angka dan dokumen,
harga yang bisa dinegosiasi,
rumah yang bisa dijual tanpa bertanya kepada pemiliknya.
Lihatlah, kami masih menari!
Meski jalan-jalan berbatu tak lagi ramah,
meski suara kami sering dipotong sebelum sempat bersuara,
meski tubuh kami dihitung seperti angka statistik,
meski darah kami mengalir seperti sungai yang tak dihiraukan.
Burung-burung Cenderawasih masih terbang,
tapi entah sampai kapan sebelum mereka juga menjadi dongeng.
Pohon-pohon masih berdiri,
tapi entah kapan akan rebah sebagai kayu ekspor.
Kami masih di sini,
tapi entah kapan hanya akan tinggal nama di buku sejarah mereka.
Namun dengarlah!
Kami akan terus menari,
seperti air yang tak bisa dihentikan,
seperti ombak yang terus mencium pantai,
seperti angin yang membawa suara para leluhur.
Kami menari di tanah Papua,
tanah yang katanya sekeping surga jatuh ke bumi,
tapi surga ini telah dijual kepada tangan-tangan rakus,
dan kami yang tinggal di sini,
hanya jadi penjaga nisan surga yang sekarat.
Papua, 16 Februari 2025