Nyanyian Cinta di Tanah Papua
Cerpen: Rizal Tanjung
–
Di tengah rimbunnya hutan Papua, di kaki gunung yang menjulang tinggi, tersembunyi seorang putri yang kecantikannya bagaikan fajar yang malu-malu mengintip dari ufuk timur. Putri Keke, begitu ia disebut, adalah keindahan yang dirahasiakan semesta. Kulitnya seputih bulan purnama, rambutnya selembut sutra malam, dan matanya—ah, matanya—bercahaya seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Namun, kecantikan itu bukan untuk dunia. Ia dijaga erat oleh sang Kepala Suku, seperti mutiara yang dikurung dalam cangkang yang tak bisa dibuka oleh sembarang tangan.
Lalu datanglah seorang pria, seorang pengembara yang hatinya berdenyut hanya untuk satu nama: Sajojo.
Ia bukan sekadar pria biasa. Jojo adalah angin yang bertiup mencari rumah, ombak yang merindu pantai, dan burung yang melagukan nyanyian tentang kebebasan. Dan kini, jiwanya berbisik satu hal: ia ingin membawa Keke bersamanya, mengajaknya melihat dunia yang lebih luas dari lembah dan gunung ini.
Maka, di hadapan Kepala Suku yang duduk dengan wibawa gunung tertinggi, Jojo berbicara, suaranya lembut, namun tegas seperti sungai yang tak bisa dihentikan.
“Aku datang bukan sebagai pengembara yang ingin mencuri, tetapi sebagai lelaki yang ingin mencinta. Jika Putri Keke adalah bintang di langitmu, izinkan aku menjadi malam yang menjaganya. Jika ia adalah bunga di tamanmu, izinkan aku menjadi angin yang membelainya tanpa menyakitinya.”
Kepala Suku menatapnya, matanya tajam seperti mata elang.
“Banyak lelaki datang ke sini, membawa emas, membawa pujian, membawa kata-kata. Tapi tidak satu pun yang bisa menyentuh hati putriku. Apa yang membuatmu berbeda?”
Jojo tersenyum tipis, lalu menepuk dada tempat jantungnya berdegup kencang.
“Karena aku tidak membawa emas, hanya membawa hati. Dan hati ini, Tuan, telah lama berlutut di hadapan cinta untuk putrimu.”
Namun, Kepala Suku tetap menggeleng.
“Cinta bukan sekadar kata, anak muda. Pergilah, dan jangan kembali.”
Tapi Jojo bukan lelaki yang menyerah pada penolakan. Setiap hari, ia kembali dengan cara berbeda. Ia membunyikan gendang kecil di bawah pohon tempat Putri Keke biasa duduk, berharap melodi itu bisa menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia menari di bawah hujan, membiarkan bumi menyaksikan ketulusannya. Ia membawakan hasil bumi terbaik, bukan sebagai penawaran, tetapi sebagai tanda kesungguhannya.
Dan Keke, yang selama ini diam, mulai mendengarnya.
Suatu malam, saat bulan menggantung di langit seperti lentera raksasa, Keke berdiri di ambang jendela kamarnya dan berbisik ke angin, berharap Jojo mendengar.
“Mengapa kau terus berjuang untukku, padahal dunia ini begitu luas? Mengapa tidak mencari matahari lain untuk menyinarimu?”
Suara Jojo muncul dari bayang-bayang, lembut seperti angin malam yang berbisik di dedaunan.
“Karena kau bukan sekadar cahaya, Keke. Kau adalah fajar yang membuat malamku berarti. Jika dunia ini adalah hutan lebat, maka kau adalah jalan setapaknya. Jika hidup ini adalah laut yang ganas, maka kau adalah pulau tempat hatiku berlabuh.”
Mata Keke berkaca-kaca. Ia menutup matanya, mendengarkan nada-nada gendang yang Jojo mainkan untuknya setiap malam. Ia sadar, laki-laki ini bukan sekadar pengembara. Ia adalah rumah yang selama ini ia tunggu.
Dan akhirnya, Kepala Suku melihatnya juga.
“Jika hati putriku telah memilihmu, maka siapa aku untuk menghalangi?” katanya dengan suara berat.
Hari itu, Jojo dan Keke bersatu dalam ikatan yang lebih kuat dari sekadar janji. Mereka meninggalkan tanah kelahiran Keke, bukan untuk melupakan, tetapi untuk menulis takdir baru mereka.
Mereka menyeberangi lautan, mendirikan kerajaan yang kelak disebut Kerajaan Sang Timur. Tanahnya subur, lautnya menyimpan permata, dan rakyatnya hidup dalam kehangatan cinta raja dan ratunya.
Namun, cinta yang besar selalu diuji waktu.
Di suatu masa, Jojo dan Keke pergi jauh, dengan janji bahwa mereka akan kembali. Tapi tahun berganti, musim berlalu, dan mereka tak pernah pulang.
Kerajaan yang mereka tinggalkan berubah. Rakyatnya mulai bertikai, memperebutkan kekayaan yang dahulu mereka jaga bersama. Tanah Papua terpecah menjadi suku-suku yang berbeda, sementara harta kerajaan terkubur di bawah tanah, dijaga oleh alam agar hanya keturunan Jojo dan Keke yang bisa menemukannya.
Namun, legenda mereka tidak mati.
Di malam-malam tertentu, jika kau cukup hening, kau masih bisa mendengar suara gendang kecil di tengah hutan. Sebuah melodi yang tidak berasal dari dunia ini, seolah-olah Jojo masih menari untuk Keke, menyanyikan lagu yang hanya bisa didengar oleh hati yang percaya pada cinta.
Dan siapa tahu?
Mungkin suatu hari, keturunan mereka akan kembali, membawa fajar baru untuk tanah yang telah lama menanti raja dan ratunya pulang.
Papua, 16 Februari 2025