April 24, 2026

Oleh Yusuf Achmad

Kujelajahi jejak-jejak itu, seperti anjing yang mencari tuannya.
Kucium, kuendus, kujaring, kenangan yang tersisa di antara
debu. Kutembus pusaran angin, yang membawaku ke masa
lalu.

Kupersembahkan padamu seberkas bukti, detik kita bersatu
dalam hati. Kalau kau mau, ikutlah aku, menapak menit yang
telah berlalu. Maukah kau mendengar kisah kita? Yang tak
pernah pudar oleh kala.

Sebelum kau terpesona menungguku, merobek hari, menghias
kalbu. Bukankah kau rindu akan cintaku? Yang tak terbatas oleh
tahun. Jejak-jejak itu masih membekas di jalanan, tapak kaki kita
yang kita ukir di tanah.

Tanah Nyamplungan sebagai saksi kita berdua. Kenangan itu
beraroma jajanan Nyamplungan, yang kita makan di taman
gang Mawar. Kisah itu masih melekat di lidahku, berbentuk
bekas gigitan jajanan sambosa. Melekat di antara gigi-gigiku.
Pusaran angin Nyamplungan berhembus lembut, selemah
sambosa cinta kita.

Yang tak hilang di pelupuk mata, sebagai
seberkas bukti. Kisah kita itu berisi senyum dan gigitan jajanan
khas, yang kita santap saat berduaan.

Surabaya, 22-7-2023