April 17, 2026

Menerima Fakta Isra’ Mi’raj dengan Ilmu, Akal, Hati, dan Sains  

IMG-20250913-WA0000(2)

Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro, M.Pd.I

Kepala MAN Kota Sawahlunto, Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UM Sumbar, dan Bendahara MUI Kota Padang

 

Pendahuluan :

Antara Keimanan dan Rasionalitas

Isra’ Mi’raj adalah momen paling agung dalam perjalanan kenabian Nabi Muhammad ﷺ suatu peristiwa yang merentang batas antara ruang dan waktu, antara kasat mata dan tak kasat mata. Bagi banyak muslim, Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah ritual, tetapi peristiwa yang memengaruhi fondasi teologi, spiritualitas, dan etika hidup.

 

Namun, bagaimana kita menerima dan memaknainya dalam era ilmu, akal, hati, dan sains tanpa jatuh ke dalam dogmatisme kosong maupun skeptisisme rasionalistis? Itulah yang menjadi inti kajian ini: bukan sekadar mempercayai, tetapi memahami secara mendalam.

 

I. Dimensi Historis dan Naratif Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj berdasarkan narasi tradisional Islam terjadi dalam dua fase utama:

Isra’-perjalanan malam Nabi ﷺ dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Jerusalem). Mi’raj – dinaikkannya sang nabi dari Masjidil Aqsha ke langit-langit tertinggi, hingga Sidratul Muntaha pertemuan langsung dengan Tuhan.

 

Tradisi ini didukung oleh teks primer Al-Qur’an (QS. Al-Isra’ 17:1) dan berbagai hadits sahih. Narasi ini bukan cerita simbolis imajiner, melainkan bagian integral ajaran Islam yang diyakini umat sejak masa awal sejarah Islam.

 

Aspek sejarahnya mencakup konteks sosial-politik Arab pra-Islam: tekanan pada Nabi ﷺ dan umatnya, kebutuhan legitimasi spiritual dalam masa krisis, serta munculnya narasi yang memadukan pengalaman batin dengan pesan moral universal.

 

II. Ilmu dan Akal: Keterbukaan Epistemologis

Ilmu dan akal tidak bertentangan dengan keimanan; keduanya justru menuntut penafsiran yang jujur dan koheren:

Kerangka metafisika: Isra’ Mi’raj tidak harus dipahami sebagai perjalanan fisik secara planet-to-planet dalam ruang tiga dimensi; bisa juga dimaknai sebagai kecepatan realitas yang melampaui pemahaman ruang-waktu manusia, sesuai dengan wawasan modern tentang relativitas dan kesadaran.

 

Filsafat ilmu : Ilmu modern mengajarkan bahwa tidak semua fenomena harus diukur dengan instrumen fisik untuk diakui sebagai pengalaman nyata. Contoh nyatanya adalah pengalaman subjektif dalam psikologi yang valid secara ilmiah meskipun tak terukur secara langsung.

Keseimbangan epistemik: Keimanan yang tidak rasional adalah fanatisme; rasionalitas tanpa keimanan adalah reduksionisme. Keduanya harus berjejalan, seperti dua sayap yang menjulang.

 

III. Hati: Dimensi Spiritualitas yang Tak Terabaikan

Hati (qalb) dalam tradisi Islam bukan sekadar organ emosional; ia adalah pusat intuisi spiritual, tempat rasa takwa dan kesadaran Ilahi bersinggah. Isra’ Mi’raj menantang kita :

Melampaui logika biasa untuk merasakan hubungan eksistensial dengan Tuhan.

 

Memahami bahwa pengalaman batin termasuk pengalaman kenabian memiliki realitas tersendiri.

 

Pengalaman spiritual yang kuat bukan hal asing dalam psikologi dan neuroscience; studi tentang neurotheology menunjukkan adanya pengalaman transendental yang bisa terukur melalui otak, tanpa mengurangi nilai religiusnya.

 

IV. Sains Modern: Imaji, Relativitas, dan Realitas Energi

Sains kontemporer khususnya fisika kuantum dan relativitas menunjukkan bahwa:

Konsep ruang dan waktu bukanlah realitas mutlak.

Partikel bisa eksis dalam keadaan dualitas (gelombang & partikel).

 

Fenomena yang dulu dianggap supranatural kini dipahami sebagai bagian dari struktur alam yang kompleks.

Dalam hal ini:

Perjalanan Nabi ﷺ melewati langit bukan semata pergerakan fisik, tetapi transformasi fenomena kesadaran yang mungkin setara dengan perubahan kuantum realitas.

 

Sains tidak menyangkal peristiwa Isra’ Mi’raj; sebaliknya, sains membuka ruang dialog mengenai dimensi realitas yang belum terjangkau oleh ilmu eksperimental saat ini.

 

V. Analisis Interdisipliner Isra’ Mi’raj

1. Teologi

Isra’ Mi’raj mempertegas:

Kedekatan Nabi ﷺ dengan Tuhan.

Kewajiban shalat sebagai pilar spiritual umat Islam.

2. Psikologi

Pengalaman puncak spiritual sering dikategorikan sebagai peak experience, yang bertransformasi menjadi:

Kedamaian batin,

Kepatuhan moral,

Pemberdayaan personal.

3. Filsafat

Isra’Mi’ raj adalah meditasi historis tentang:

Tidak semua realitas tunduk pada kategori empiris.

Ada ruang pengalaman yang dihormati oleh akal dan hati.

 

4. Sains

Sementara sains belum mampu mengukur peristiwa kosmologis semacam ini, perkembangan:

Astrofisika, relativitas umum, dan teori informasi kuantum membuka kemungkinan ruang realitas multidimensi.

 

VI. Aktualisasi Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Kontemporer

Tidak cukup hanya mempercayai peristiwa Isra’Mi’raj secara teoretis. Yang lebih penting adalah implikasinya dalam kehidupan:

-Shalat sebagai ekspresi dialog batin dan disiplin spiritual.

-Etika berintegritas dalam relasi sosial dan moral.

-Sains & Keimanan membangun sinergi, bukan konfrontasi.

-Kemanusiaan merawat sesama insan sebagai manifestasi nilai Ilahi.

 

VII. Kebaruan Wacana: Menyatukan Dua Dunia

Kajian ini menawarkan sintesis konseptual:

Isra’ Mi’raj sebagai realitas ekspansif, bukan sekadar riwayat kuno.

Sains sebagai alat pemahaman, bukan sekadar skeptisisme.

Akal dan hati sebagai dua pilar epistemik, bukan lawan.

 

Ini bukan pengaburan makna, melainkan perluasan horizon pengetahuan yang menghormati tradisi dan membuka ruang bagi ilmu modern untuk berdialog secara produktif.

Penutup: Keyakinan yang Terpadu

Menerima Fakta Isra’ Mi’raj bukan berarti menutup akal; melainkan:

“Memaknai keajaiban dengan kepala dingin, hati hangat, dan ilmu yang terbuka.”

Peristiwa mulia ini akan terus menginspirasi manusia sepanjang zaman bukan sebagai mitos yang dilupakan, melainkan sebagai puncak pengalaman spiritual yang relevan secara teologis, filosofis, dan sains.

 

Referensi Utama

Al-Qur’an — QS. Al-Isra’ (17:1)

Hadis Shahih Bukhari & Muslim

Kajian filsafat ilmu modern

Studi psikologi pengalaman religius

Perspektif sains kontemporer terhadap realitas ruang-waktu