Puisi-Puisi Edi S. Febri: “FLAMBOYAN”
Foto: Edi S. Febri. Sumber gambar: ESF’s doc. via LM-NN-SAN
/1/
FLAMBOYAN : DI PINTU PAGI
Puisi: Edi S. Febri
–
Ada kabut
Setetes embun jatuh
Pucuk daun seibarat selimut
Dingin tak membuatnya mati suri
Menanti matahari
Flamboyan menyapa pagi
Kelopakpun telah sempurna
Bersiap mekarkan bunga
Sesembahan bagi Sang Penguasa
Di awal hari
Flamboyan menata hati
Untuk tak menangis saat tersakiti
–
Jateng, 2025
—
/2/
FLAMBOYAN : DI TETESAN EMBUN
–
Ada kabut
Pagi menyapa lembut
Selimut hangat mendekap
Flamboyan enggan beranjak
Lelah masih lekat
Perjalanan malam menguras air nata
Setetes embun jatuh
Seketika
Mata flamboyan terbuka
Ingat kisah masa silam
Saat di mana menyambut matahari menjadi rutinitas yang membahagiakan
Tapi sekarang semua telah hilang
Terenggut belenggu sang pecundang
Pagi ini berkabut
Dingin semakin erat memeluk
Flamboyan ingin bercerita
Tapi embun membuang muka
Segera pergi
Luka hati menumbuhkan anti pati
Semua rasapun mati
–
Jateng, 2025
—
/3/
FLAMBOYAN : DI PERGANTIAN MUSIM
Puisi: Edi S. Febri
–
Kelopak tak lagi mekar
Layu sebelum menjadi bunga
Gugur sia-sia
Daunpun tak bertunas
Sisakan ranting meranggas
Setiap saat
Hujan dan panas datang bergantian
Tanpa pertanda
Lumat keangkuhan
(ada rasa iba
tapi menolongmu aku tak bisa
Luka hati ini
membuat uluran tanganku terhenti)
Panas yabg membakar
Hanguskan kesegaran
Hujan yang tiba-tiba datang
Menambah air mata semakin menggenang
Pergantian musim ini
Membunuhmu perlahan
–
Jateng, 2025
—
/4/
FLAMBOYAN : DI PUSARAN CEMBURU
Puisi: Edi S. Febri
–
Flamboyan meradang
Saat malam mencumbu rembulan
Meski hanya bergandeng tangan
Tak sampai pergulatan ranjang
Menyimpan dendam
Flamboyan tak bisa diam
Lupa
Dia juga sedang bersenggama dengan sang pecundang
…
Pada siang
Flamboyan bercerita panjang
Tak sadar
Dirinya telanjang
…
Flamboyan meradang
Saat malam mencumbu rembulan
Meski hanya bergandeng tangan
Tak sampai pergulatan ranjang
Menyimpan dendam
Flamboyan tak bisa diam
Lupa
Dia juga sedang bersenggama dengan sang pecundang
…
Pada siang
Flamboyan bercerita panjang
Tak sadar
Dirinya telanjang
—
Jateng, 2025
—
/5/
FLAMBOYAN : DI RUANG RINDU
Puisi: Edi S. Febri
–
Masihkah kau ragu jika rindu itu selalu menunjuk kepada dirimu?
Musim lelehkan salju
Tapi tak mampu menyentuh angkuh gunung es yang terlanjur membeku
Meski senja jingga tawarkan kehangatan
Tetaplah hanya membentur dinding batu
Kamu itu rinduku
Pembelenggu bayang-bayang masa lalu
Flamboyan yang kutunggu tanpa batas waktu
…
Masihkah rindu itu kau simpan di ruang hatimu?
Aku,
Tetaplah seperti yang kau kenal dulu
Yang tak akan berlalu
Pergi
Berpaling darimu
Aku,
Tetaplah aku
Yang tak tersentuh selain olehmu
Semoga kau tahu
Jalan kita berliku
Godaan tak hanya satu
—
Jateng, 2025
—
/6/
FLAMBOYAN : DI SEPANJANG JALAN
Puisi: Edi S. Febri
–
Guguran kelopak menghias
Tutupi rerumputan
Debu yang menyesakkan
Tersamar merahmu yang tebal menghampar
Jalan ini pernah kita lalui pada kemarau yang meradang
Bergandeng tangan
Tak hirau orang memandang
Peluk mesramu membuatku tenang
Jalan ini menyimpan kenangan
Indah masa silam
Kita berlindung dari terik siang
Di balik bayang-bayang flamboyan
Pada hitungan musim yang telah silih berganti
Guguran kelopak masih kusimpan
Suatu saat ingin kuulang
Semoga jajaran flamboyan itu masih menghias kotamu yang selalu kukenang
–
Jateng, 2025
—-
Tentang Penyair
Edi S. Febri sering menggunakan nama bunga untuk menyebut seseorang yang dekat dengannya sebagai lambang penghormatan. Personifikasi alam yang melukiskan keindahan dan kekaguman.
Cerita tentang flamboyan beberapa tahun silam terasa begitu hidup karena pernah akrab. Meskipun hanya sekejap tapi menggoreskan kenangan yang tak mudah dihapus dari ingatan.
Saat ini Edi S. Febri tinggal di Batang Jawa Tengah dan bekerja sebagai jurnalis.