April 17, 2026

Puisi-Puisi Edi S. Febri: “FLAMBOYAN”

SAN

Foto: Edi S. Febri. Sumber gambar: ESF’s doc. via LM-NN-SAN

/1/

FLAMBOYAN : DI PINTU PAGI

Puisi: Edi S. Febri

Ada kabut
Setetes embun jatuh
Pucuk daun seibarat selimut
Dingin tak membuatnya mati suri

Menanti matahari
Flamboyan menyapa pagi
Kelopakpun telah sempurna
Bersiap mekarkan bunga
Sesembahan bagi Sang Penguasa

Di awal hari
Flamboyan menata hati
Untuk tak menangis saat tersakiti

Jateng, 2025

/2/

FLAMBOYAN : DI TETESAN EMBUN

Ada kabut
Pagi menyapa lembut
Selimut hangat mendekap
Flamboyan enggan beranjak
Lelah masih lekat
Perjalanan malam menguras air nata

Setetes embun jatuh
Seketika
Mata flamboyan terbuka
Ingat kisah masa silam
Saat di mana menyambut matahari menjadi rutinitas yang membahagiakan
Tapi sekarang semua telah hilang
Terenggut belenggu sang pecundang

Pagi ini berkabut
Dingin semakin erat memeluk
Flamboyan ingin bercerita
Tapi embun membuang muka
Segera pergi
Luka hati menumbuhkan anti pati
Semua rasapun mati


Jateng, 2025

/3/

FLAMBOYAN : DI PERGANTIAN MUSIM

Puisi: Edi S. Febri

Kelopak tak lagi mekar
Layu sebelum menjadi bunga
Gugur sia-sia
Daunpun tak bertunas
Sisakan ranting meranggas

Setiap saat
Hujan dan panas datang bergantian
Tanpa pertanda
Lumat keangkuhan

(ada rasa iba
tapi menolongmu aku tak bisa
Luka hati ini
membuat uluran tanganku terhenti)

Panas yabg membakar
Hanguskan kesegaran
Hujan yang tiba-tiba datang
Menambah air mata semakin menggenang

Pergantian musim ini
Membunuhmu perlahan


Jateng, 2025

/4/

FLAMBOYAN : DI PUSARAN CEMBURU

Puisi: Edi S. Febri

Flamboyan meradang
Saat malam mencumbu rembulan
Meski hanya bergandeng tangan
Tak sampai pergulatan ranjang

Menyimpan dendam
Flamboyan tak bisa diam
Lupa
Dia juga sedang bersenggama dengan sang pecundang

Pada siang
Flamboyan bercerita panjang
Tak sadar
Dirinya telanjang

Flamboyan meradang
Saat malam mencumbu rembulan
Meski hanya bergandeng tangan
Tak sampai pergulatan ranjang

Menyimpan dendam
Flamboyan tak bisa diam
Lupa
Dia juga sedang bersenggama dengan sang pecundang

Pada siang
Flamboyan bercerita panjang
Tak sadar
Dirinya telanjang

Jateng, 2025

/5/

FLAMBOYAN : DI RUANG RINDU

Puisi: Edi S. Febri

Masihkah kau ragu jika rindu itu selalu menunjuk kepada dirimu?
Musim lelehkan salju
Tapi tak mampu menyentuh angkuh gunung es yang terlanjur membeku
Meski senja jingga tawarkan kehangatan
Tetaplah hanya membentur dinding batu

Kamu itu rinduku
Pembelenggu bayang-bayang masa lalu
Flamboyan yang kutunggu tanpa batas waktu

Masihkah rindu itu kau simpan di ruang hatimu?
Aku,
Tetaplah seperti yang kau kenal dulu
Yang tak akan berlalu
Pergi
Berpaling darimu

Aku,
Tetaplah aku
Yang tak tersentuh selain olehmu

Semoga kau tahu
Jalan kita berliku
Godaan tak hanya satu


Jateng, 2025

/6/

FLAMBOYAN : DI SEPANJANG JALAN

Puisi: Edi S. Febri

Guguran kelopak menghias
Tutupi rerumputan
Debu yang menyesakkan
Tersamar merahmu yang tebal menghampar

Jalan ini pernah kita lalui pada kemarau yang meradang
Bergandeng tangan
Tak hirau orang memandang
Peluk mesramu membuatku tenang

Jalan ini menyimpan kenangan
Indah masa silam
Kita berlindung dari terik siang
Di balik bayang-bayang flamboyan

Pada hitungan musim yang telah silih berganti
Guguran kelopak masih kusimpan
Suatu saat ingin kuulang
Semoga jajaran flamboyan itu masih menghias kotamu yang selalu kukenang

Jateng, 2025

—-

Tentang Penyair

Edi S. Febri sering menggunakan nama bunga untuk menyebut seseorang yang dekat dengannya sebagai lambang penghormatan. Personifikasi alam yang melukiskan keindahan dan kekaguman.
Cerita tentang flamboyan beberapa tahun silam terasa begitu hidup karena pernah akrab. Meskipun hanya sekejap tapi menggoreskan kenangan yang tak mudah dihapus dari ingatan.
Saat ini Edi S. Febri tinggal di Batang Jawa Tengah dan bekerja sebagai jurnalis.