Esai: Leni Marlina
–
Malam di Sumatera Barat memiliki beragam cara istimewa untuk mengajak langkah orang berhenti. Lampu-lampu rumah meredup, suara kendaraan mengecil seperti ingatan yang ditelan jarak, dan angin membawa aroma laut yang jauh. Di saat-saat semacam itu, dunia memberi ruang bagi hal-hal yang lebih halus: suara hati, kenangan yang berembun, dan kata-kata yang sering menunggu untuk diundang pulang. Di sebuah nagari di Padang Pariaman, di sebuah rumah, seorang pria duduk menatap layar laptop yang memancarkan cahaya pucat. Namanya Armaidi Tanjung. Ia merupakan seorang penulis, akademisi, jurnalis: produk dari disiplin jurnalistik, kedalaman penelitian sejarah, dan kepekaan yang tumbuh dalam pertemuan-pertemuan komunitas literasi. Namun malam itu, dalam kesunyian yang panjang, sesuatu lain hadir: sebuah suara lembut yang akhirnya menjadi bukti bahwa puisi bisa menjadi jalan untuk berdamai.

Dinda, Tahajudmu yang Menggoda bukan sekadar buku kumpulan puisi bilingual (Indonesia-Inggris), penerjemah: Siska Saputri. Buku ini adalah ziarah—sebuah perjalanan batin yang memadukan rindu, doa, dan kesadaran spiritual yang bertumbuh perlahan. Armaidi, yang selama ini dikenal melalui tulisan nonfiksi dan karya jurnalistiknya, menampakkan sisi lain: seorang penulis yang menulis dari ruang paling lirih, dari tempat di mana bahasa tidak sekadar melaporkan tetapi merawat. Dalam esai ini saya mengajak pembaca menyusuri jejak kelahiran buku itu—dari kata muncul, lewat proses kreatif yang berlapis, hingga makna sosial dan spiritual yang disingkapkan di balik setiap bait.
Antara Fakta dan Rasa: Peralihan yang Tidak Mendadak
Bagi banyak penulis yang berakar pada dunia jurnalistik, melompat ke ranah puisi sering dianggap lompatan berisiko. Jurnalisme menuntut ketepatan, verifikasi, dan ontologisitas fakta; puisi, sebaliknya, menuntut keberanian untuk rapuh, untuk mengatakan yang tak terkatakan. Namun bagi Armaidi, perjalanan itu bukan soal lompatan melainkan pergeseran harmoni. “Ketika dunia terlalu ramai, puisi memberi saya kedalaman,” katanya. Kalimat ini bukan sekadar retorika; ia adalah kunci untuk memahami bagaimana pengalaman menulisnya selama bertahun-tahun berbuah menjadi karya puitik.
Dalam banyak hal, jurnalistik mengajarkannya struktur: bagaimana menambatkan gagasan agar tidak lepas, bagaimana menimbang setiap klaim dengan bukti. Puisi mengajarkannya sebaliknya: bagaimana melepaskan kontrol, memberi ruang untuk ketidakpastian, dan membiarkan metafora menjadi jalan. Di Dinda, jejak-jejak disiplin itu tetap hadir—bukan sebagai kendala, melainkan sebagai alat untuk merawat kata agar tidak kehilangan arah. Bait-baitnya terangkai dengan kehati-hatian yang mirip dengan cek fakta: setiap pergeseran nada, setiap pengulangan, sengaja ditempatkan untuk memunculkan resonansi tertentu. Di sinilah kekuatan buku ini: perpaduan antara akurasi batin dan kebebasan imajinasi.
Dinda: Nama dan Panggilan Istimewa yang Terbuka
Salah satu pilihan estetis paling menarik dalam buku ini adalah penggunaan nama “Dinda”. Armaidi sengaja membiarkan identitas Dinda mengambang—ia bisa seorang kekasih, bisa pula wajah doa, bisa juga metafora dari rindu yang tidak pernah usai. Dengan membuka potensi interpretasi ini, Armaidi memberi pembaca ruang untuk menaruh diri. Ini adalah strategi puitik yang cerdas: daripada mematok makna, ia menyediakan cermin. Pembaca yang memegang pengalaman kehilangan, cinta, atau ketenangan akan menemukan pantulannya sendiri dalam sosok Dinda.
Tahajud, sebagai poros spiritual, menambah lapisan lain pada simbolisme Dinda. Jika Dinda adalah wajah, tahajud adalah cahaya yang menyingkapnya. Tahajud dalam konteks ini bukan hanya ritual ibadah; ia menjadi suasana batin di mana kata-kata paling jujur muncul. Dalam keheningan malam, ketika dunia materi mereda, kata-kata yang mengandung kebenaran lembut dapat muncul—kata-kata yang tidak lagi harus mempertahankan citra atau argumen, melainkan menenggelamkan diri dalam doa dan rindu. Armaidi memanfaatkan momen-momen itu untuk menulis puisi yang bukan sekadar ekspresif tetapi juga transformatif.
Menulis Sebagai Ibadah
Armaidi mengatakan, “Menulis adalah tahajud saya yang lain.” Kalimat ini memposisikan tulisan sebagai praktik spiritual. Dalam tradisi banyak para sufi dan penulis-penulis spiritual, menulis atau berkarya kerap dianggap sebagai perpanjangan zikir: tindakan penuh konsentrasi yang menautkan manusia kepada yang Ilahi. Bagi Armaidi, menulis puisi menjadi sebuah dialog yang melampaui ego—sebuah pengakuan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, mengingatkan, dan membebaskan.
Konsepsi menulis sebagai ibadah juga mempengaruhi gaya penulisan. Ia tidak sekadar berusaha mengesankan pembaca dengan keindahan bahasa; ia menulis agar kata-kata itu menjadi sarana pembaca untuk berdamai. Ini terlihat dalam nada bait yang cenderung sopan, tidak mendesak, dan seringkali membiarkan ruang kosong—hening itu sendiri menjadi bagian dari pesan. Keheningan, dalam puisi-puisi ini, bukan kekurangan tetapi penggenapan: di dalamnya pembaca diminta untuk bernapas, merenung, dan menemukan impuls batinnya sendiri.
Armaidi mengklaim ada satu puisi yang paling jujur di dalam buku—suatu pengakuan yang merangsang keingintahuan pembaca. Kejujuran di sini bukan sekadar keaslian pengalaman tetapi juga keberanian untuk menerima retak-retak kecil hidup. Ada kehilangan kecil yang merambat, katanya; retak kecil itu memunculkan resonansi besar di hati. Dalam estetika puisi modern, kejujuran semacam ini menjadi norma: pembaca tidak lagi mencari retorika yang berlebih tetapi mencari sesuatu yang terasa nyata di kulit mereka sendiri.
Dalam “Dinda, Tahajudmu yang Menggoda”, kejujuran dimanifestasikan lewat bahasa yang ringkas namun kaya. Armaidi tidak memanjakan pembaca dengan enjambment yang rumit atau metafora yang dipaksakan. Sebaliknya, ia memilih gambar sehari-hari—embun di jendela, langkah pulang, lampu-lampu yang padam—yang kemudian dilipat menjadi makna-makna besar. Cara ini membuat puisinya terasa akrab namun tetap memancing refleksi. Pembaca merasa disapa, bukan diajak bertempur dengan teka-teki bahasa.
Perjalanan kreatif Armaidi tidak terjadi sendirian. SATUPENA Sumbar—sebuah komunitas literasi sekaligus organisasi para penulis—berperan penting sebagai ruang di mana kata-kata diuji, dikritik, dan dipeluk. Komunitas semacam ini sering menjadi penopang bagi penulis yang ingin bertumbuh: mereka memberi umpan balik, mengadakan pembacaan, dan menyediakan jejaring yang mempertemukan berbagai suara. Bagi Armaidi, SATUPENA adalah rumah tanpa dinding—tempat di mana kata dapat merdeka dan api kreativitas dapat dinyalakan kembali.
Peran komunitas dalam kelahiran karya ini menggarisbawahi keterkaitan antara karya dan lingkungan sosialnya. Puisi tidaklah lahir di ruang hampa; ia selalu merupakan produk dialog—dengan tradisi, pembaca, dan sesama penulis. Ketika komunitas mendukung keberanian untuk jujur, karya-karya seperti Dinda dapat muncul bukan sebagai kilasan sendirian, melainkan sebagai gema yang didorong oleh banyak tangan.
Konteks Kultural: Minangkabau dan Kepekaan Lokal
Walaupun tema puisi-puisinya bersifat universal—rindu, doa, kehilangan—ada nuansa lokal yang tak dapat diabaikan. Latar bernuansa Ranah Minang, dan referensi kehidupan sehari-hari di Sumatera Barat memberi warna tersendiri pada buku ini. Ini bukan sekadar soal lokasi geografis; ini tentang bagaimana identitas kultural memengaruhi bentuk dan ritme bahasa. Ada kesan bahwa puisi-puisi ini lahir dari kebun kata yang subur oleh tradisi lisan, syair, dan kebiasaan berdoa di tengah keluarga. Sensitivitas itu memperkaya makna: pembaca yang berasal dari lingkungan yang serupa akan menemukan resonansi yang sangat dekat, sementara pembaca dari luar mendapat akses pada pengalaman yang otentik.
Gaya Bahasa: Hemat, Intens, Menggoda
Salah satu kekuatan buku ini adalah gaya bahasanya yang hemat namun intens. Armaidi tidak mengandalkan hiperbola; ia mengandalkan ketepatan. Setiap kata dipilih seperti batu yang dipasang pada tempatnya. Teknik pengulangan, irama, dan jeda digunakan untuk mengatur napas pembaca. Ada kecenderungan untuk membiarkan arti mengendap—sebuah bait mungkin tampak sederhana, namun resonansinya berkembang perlahan di dalam batin pembaca. Inilah yang membuat puisinya “menggoda”: mereka mengundang untuk dibaca ulang, dipahami ulang, dan menjadi teman malam yang setia.
Relevansi Sosial: Saat Dunia Berlari, Puisi Menawarkan Ketenangan
Di era digital ketika informasi mengalir tak henti-henti, perhatian manusia menjadi komoditas yang cepat luntur. Dalam konteks ini, puisi memiliki fungsi penting: ia memperlambat laju, memaksa pembaca untuk hadir. Dinda menawarkan argumen halus tetapi kuat: ketika dunia berlari, puisi mengajak kita berhenti. Ini bukan seruan nostalgia belaka; ini upaya mempertahankan kapasitas manusia untuk merasakan dan merenung. Bagi pembaca modern yang tenggelam dalam notifikasi, buku ini menjadi semacam kantung hening—tempat mengumpulkan tenaga batin.
Puisi juga menjadi medium politik kecil: politik dari kehadiran. Ketika seseorang memilih untuk duduk dan membaca puisi, ia memilih untuk tidak terburu-buru. Pilihan itu sendiri dapat menjadi perlawanan terhadap budaya konsumsi yang memaksa manusia menjadi terus-menerus produktif. Dengan demikian, Dinda bukan hanya karya estetis, melainkan juga tindakan etis—ajakan agar manusia kembali pada ritme kemanusiaan.
Proses Kreatif
Armaidi menggambarkan proses kreatifnya sebagai campuran antara puisi yang lahir seperti kilat dan puisi yang tumbuh seperti akar. Ada bait yang muncul sekejap, ketika kondisi batin sedang terbuka; ada pula yang menunggu pengulangan sentuhan sebelum menemukan bentuknya. Metafora kilat dan akar ini membantu kita memahami dua dinamika yang sering terjadi pada penulis: inspirasi yang tiba tiba (kilat) dan kerja keras yang menunggu, menanam, merawat (akar). Keduanya sama pentingnya. Kilat memberi materi awal; akar memberi stabilitas sehingga puisi dapat bertahan melampaui mood penulis.
Dalam praktiknya, ini berarti Armaidi meluangkan waktu untuk membiarkan kata-kata bernafas. Ia tidak buru-buru melakukan publikasi; ia memberi waktu bagi bait untuk mengalami revisi internal—sebuah proses yang mungkin tidak terlihat oleh pembaca namun sangat krusial untuk kedalaman karya.
Setiap karya tentu terbuka untuk kritik. Pada beberapa bagian, pembaca yang mencari eksperimen formal ekstrem mungkin merasa Dinda agak konservatif. Armaidi memilih bahasa yang mudah diakses, mengutamakan resonansi emosional daripada permainan bentuk yang rumit. Pilihan ini dapat dilihat sebagai kekuatan sekaligus batasan tergantung preferensi pembaca. Namun jika tujuan adalah mencapai kedalaman spiritual dan kemanusiaan yang hangat, maka strategi ini berhasil.
Kelebihan buku ini terletak pada konsistensi nada, keberanian untuk jujur, dan pengelolaan bahasa yang matang. Armaidi berhasil menjembatani pengalaman pribadinya dengan pengalaman kolektif pembaca—sebuah prestasi yang tidak semua penulis puitik dapat raih.
Menulis dan Membaca sebagai Perjalanan Pulang
Akhir dari setiap buku yang baik adalah bukan sebuah titik, melainkan sebuah pintu. Di Dinda, pintu itu mengarah pada rumah: rumah di mana pembaca boleh mendaratkan rindu mereka sendiri. Ketika saya meminta Armaidi menuliskan satu baris yang merangkum perjalanan menulisnya, ia menulis:
“Aku berjalan membawa kata, dan kata-katalah yang akhirnya mengantar aku pulang.”
Baris ini merangkum keseluruhan ethos buku: bahwa menulis adalah perjalanan pulang—pulang kepada diri, kepada memori, kepada cahaya yang tak padam. Kata-kata bukan sekadar alat; mereka adalah pemandu pulang.
Kesimpulan: Puisi Sebagai Ruang Perdamaian
Dinda, Tahajudmu yang Menggoda bukan hanya koleksi puisi yang indah; ia adalah praktik etis dan spiritual dalam bentuk sastra. Armaidi Tanjung membuktikan bahwa penulis yang berakar di dunia fakta tidak kehilangan kapasitas untuk meresapi dunia batin. Sebaliknya, latar jurnalistiknya menjadi penguat, memberi puisi-puisinya struktur yang membuat kejujuran terasa lebih tegas.
Buku ini menjadi pengingat: di tengah hiruk-pikuk zaman, ada ruang untuk berhenti—untuk sujud, untuk mengingat, dan untuk merindukan. Puisi adalah salah satu cara kita menjaga kapasitas itu tetap hidup. Armaidi mengajak kita tidak hanya membaca tetapi juga mengalami: merasakan getar, mengakui retak, dan akhirnya menemukan ketenangan.
Pembaca dapat membuka buku ini di malam yang tenang, atau di pagi hari ketika suara kota masih malu-malu. Di mana pun, buku ini akan menjadi teman yang lembut—sebuah rumah kecil di tengah perjalanan panjang. Dan bagi penulisnya, Dinda adalah bukti bahwa kata-kata bisa menjadi penuntun pulang, bukan hanya bagi pencipta tetapi juga bagi siapa saja yang bersedia membuka halaman dan membiarkan diri mereka disapa. (LM)