Laporan: Tb Mhd Arief Hendrawan
–
Padang, Suaraanaknegerinews.com,— Peresmian Asosiasi Pengusaha dan Pengelolaan Dapur Makanan Bergizi Gratis (DP-MBGG) Sumatera Barat berlangsung penuh antusiasme di Gedung DPRD Sumbar. Acara ini menjadi momentum penting bagi penguatan gerakan sosial berbasis kepedulian dan gotong royong, terutama dalam upaya penyediaan makanan sehat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dukungan lembaga adat turut memberi warna tersendiri dalam kegiatan ini. Dari Lembaga Advokasi Kebudayaan Adat Minangkabau (LAKAM), hadir dua sosok perempuan yang selama ini aktif menggaungkan nilai adat Minang dalam kehidupan sosial, yakni Novianti dan Sukriatiria. Kehadiran keduanya mencerminkan komitmen LAKAM dalam memastikan bahwa program-program kemasyarakatan tetap berakar pada filosofi luhur Minangkabau.
Dalam sambutannya, Novianti menegaskan bahwa dapur makanan bergizi gratis adalah bentuk aktualisasi modern dari tradisi Minang yang selalu menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
“Sejak dulu, masyarakat Minangkabau mengenal budaya saling membantu melalui barojo-rojo, manyambah, dan berbagai pola gotong royong lainnya. Dapur bergizi gratis ini adalah bentuk baru dari nilai lama yang diwariskan turun-temurun,” ujar Novianti, menekankan pentingnya penyelarasan gerakan sosial dengan budaya lokal.
Sementara itu, Sukriatiria menyampaikan bahwa LAKAM siap menjadi mitra strategis untuk memastikan gerakan dapur bergizi gratis berjalan sesuai nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Menurutnya, adat Minangkabau bukan hanya identitas budaya, tetapi juga pedoman moral yang mendorong masyarakat untuk peduli, jujur, dan amanah dalam mengabdi.
Di sisi lain, acara ini juga dihadiri para tokoh yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Diantaranya Dr.Drs.M.Sayuti Dt.Rajo Panghulu,M.Pd, yang memiliki rekam jejak kuat dalam penguatan kelembagaan sosial, menekankan pentingnya pengelolaan dapur gizi yang terstruktur dan akuntabel. Ia menyoroti perlunya standar operasional yang jelas agar makanan yang disalurkan benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan.
Tokoh penting lainnya adalah Adi Saputra, sosok yang dikenal dihormati dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di Sumatera Barat. Kehadirannya memberikan bobot tersendiri dalam acara ini. Adi Saputra menegaskan bahwa dapur makanan bergizi gratis harus menjadi gerakan yang berkelanjutan, bukan sekadar program temporer. Ia menilai bahwa masyarakat membutuhkan sistem yang solid, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga. “Gerakan ini bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang martabat manusia,” ujarnya.
Tak ketinggalan, Amrizal AN, seorang tokoh masyarakat yang dikenal bijaksana dalam memandang isu sosial, memberikan pandangannya. Ia menyebut bahwa dapur bergizi gratis dapat menjadi jaring pengaman sosial yang sangat dibutuhkan pada masa-masa sulit. Menurutnya, langkah seperti ini sangat relevan untuk memperkuat ketahanan masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki pendapatan tetap.
Hadir pula Teuku Husaini, pemerhati sosial, yang secara langsung memberikan dukungan terhadap gerakan ini. Menurut Teuku Husaini, dapur bergizi gratis adalah gerakan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat, sehingga wajib didukung oleh semua pihak. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara tokoh adat, pemerintah, dan pelaku usaha adalah kombinasi kuat yang dapat membangun sistem pelayanan sosial yang lebih manusiawi.
Lebih jauh, Teuku Husaini menilai bahwa pemberitaan dan dokumentasi kegiatan seperti ini sangat penting untuk menginspirasi daerah lain.
“Ketika kita menyebarkan kabar baik, kita turut menyalakan semangat kepedulian di tempat lain,” ujarnya.
Dengan kehadiran LAKAM, para tokoh masyarakat, dan pelaku usaha yang peduli, peresmian Asosiasi Pengusaha dan Pengelolaan Dapur Makanan Bergizi Gratis Sumbar menjadi tonggak penting dalam memperkuat solidaritas sosial di ranah Minang. Harapannya, gerakan ini semakin tumbuh dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun masyarakat yang sehat, kuat, dan berbudaya.