Mengiris Kata, Menyulam Ruh
Yusufachmad Bilintention
Puisi Kritis Mengiris Kata
Puisi kritis itu mengiris kata,
membelah makna, menyingkap lapisan rahasia.
“Mengapa kau biarkan puisiku diotak-atik?”
suara yang bergetar di sela baris.
“Bukankah sastra punya kuasa,
tak harus diperlakukan semena?”
Aku terdiam, merasakan tajamnya kritik,
membiarkan potongan kata jadi santapan.
Renyah di lidah, tak lagi hambar,
mengisi rongga batin, menenangkan dahaga.
Aku kupas media, kukuliti hingga inti,
kutemukan: Starry Night, The Persistence of Memory,
desa di pagi hari, guratan ekspresionis Affandi.
Semua pernah digugat, dituding, dipertanyakan,
namun tetap berdiri sebagai jejak seni.
Bahkan si Glassart, lahir dari serpihan seniman,
menyimpan keindahan meski klaimnya ditinggalkan.
Biarkan puisimu dipecah, dicerca, diris, dikoyak,
menjadi cermin dirimu yang lain.
Percayalah, ruh tak sama dengan raga,
yang pasti rapuh,
begitu pun dengan kamu, puisiku.
Aku menunduk, menyimak, hendak berkata,
namun tercekat, terkesimak.
Puisiku membelah diri, menjelma untaian suci,
rela dilucuti, asal hatinya tetap murni.
Surabaya, 18 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly