Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

“Karib atau Sohib” adalah refleksi tentang bagaimana kita menyebut dan merawat keakraban di tengah perbedaan. Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar memilih kata, tetapi memahami makna di baliknya—bahwa dalam sunyi maupun riuh, dalam sejarah yang belum selesai, kita tetap bisa saling menjaga. Karena di antara kawan, sahabat, geng, karib, atau sohib—ada satu rasa yang menyatukan: kejujuran hati dan kesediaan untuk tidak saling memangsa.

Karib atau Sohib

Puisiku menimbang kata,
menjahit keakraban yang tak selalu sederhana.
Ia menyebut kawan, bukan lawan—
seperti awan dan angin:
meninggi, kadang lenyap,
namun tak benar-benar berpisah.
Menyisakan dingin bila pekat,
sehitam akar beringin yang berserah.

Menghargai bukan hanya tahu jati,
tapi tetap mengiringi,
meski hari tak selalu sehati.

Dalam ruang formal, “rekan” lazim di kantor dan istana,
sedang “geng” adalah keakraban Melayu yang tak berbusana.
Teman?
Aku tak berani menyamakannya dalam ikatan bernyawa.
Aku tahu, bagimu teman bukan sekadar—
ia menyentuh ranah nikah dan ikatan jiwa.

Maka kusebut kau karib,
agar negaramu–negaraku tetap tertib,
tanpa berkedip.
Bila kau izinkan, kusebut kau sohib,
seperti di Nyamplungan yang tak pernah raib.

Karena aku bukan semata Jawa—
aku berdarah Timur Tengah,
dari negeri yang berkumandang Maghrib,
menyulam makna dalam langkah.

Kawan, sahabat, geng, karib, atau sohib—
yang penting tak seperti harimau dan rusa,
atau elang memangsa merpati yang terbang tanpa empati.
Tak sebanding, ada yang hilang dan mati.

Karena aku adalah Garuda,
tak mudah berkhianat atau berdusta.
Sepertimu: Singa Singapura dan Harimau Malaya,
menjunjung tinggi bersihnya hati.

Maka biarlah kita tak serupa,
tapi saling menjaga—seperti akar dan angin:
tak bersentuhan, namun saling menyapa.

“Karib atau Sohib” adalah refleksi tentang bagaimana kita menyebut dan merawat keakraban di tengah perbedaan. Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar memilih kata, tetapi memahami makna di baliknya—bahwa dalam sunyi maupun riuh, dalam sejarah yang belum selesai, kita tetap bisa saling menjaga. Karena di antara kawan, sahabat, geng, karib, atau sohib—ada satu rasa yang menyatukan: kejujuran hati dan kesediaan untuk tidak saling memangsa.

Catatan: Puisi ini merupakan bagian dari antologi “Serumpun Jilid 25” terbitan SIP Publishing, hasil seleksi dari lebih dari 4000 peserta dalam lomba puisi tiga negara (Indonesia–Malaysia–Singapura).

Untuk tulisan lain silahkan buka:https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write dan https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en juga https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211