April 26, 2026

Oleh: Era Nurza

Di ruang itu, cahaya pagi menyelinap pelan,
menyentuh wajah-wajah yang masih diselimuti kantuk.
Kesunyian disela suara alat tulis
dan pertanyaan yang menggantung di udara.

Fisika tak lagi sekadar rumus,
melainkan bahasa baru untuk memahami semesta.
Di tangan guru, angka menjadi jembatan
menuju ruang-ruang tak terlihat.
Ia tak mengajar,
ia membangunkan
dari tidur panjang yang bernama malas,
dari keraguan yang diam-diam tumbuh seperti lumut.

Setiap konsep, setiap penjelasan
adalah cangkul yang membuka ladang kering.
Benih pengetahuan ditanam
di tanah yang dulu tak dikenal,
dan perlahan tumbuh sesuatu yang bernama harap.

Di dinding, jam berdetak tenang,
tak hanya mengukur waktu,
tapi juga jejak
bagaimana seorang anak berubah menjadi pencari arah.

Mentari itu tak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal dalam ingatan,
dalam langkah mereka yang kini berjalan jauh,
masih membawa nyala yang pertama kali dinyalakan
di ruang kelas itu.

Padang, Juni 2025