January 17, 2026

Menuju 100 Tahun Kongregasi Suster Fransiskanes dari Charity (FCh): Menabur Kasih Melalui Pelayanan di Berbagai Penjuru Indonesia dan Dunia

Laporan: Paulus Laratmase

Biak-Suara Anak Negeri News.Com| Dalam rangka 100 tahun “Karya Para Suster FCh” pada tahun 2026 mendatang, Komunitas Para Suster FCh di Paroki Santa Maria Biak melaksanakan “Louching 100 Tahun  Kongregasi FCh di Indonesia yang diawali dengan Misa Kudus oleh Pastor Paroki Santa Maria Biak  Pastor Laurentius Purwanto, SCJ didampingi Pastor Bernadus Kedang, SCJ pada tanggal 9 Juli 2025 lalu.

Demikian kisah ketiga suster yang sedang berkarya di Paroki Santa Maria dan Kerahiman Ilahi Biak: Suster M. Maristela, FCh, Suster Atanasia, FCh dan Suster M. Khatrin, FCh yang dirangkum dalam tulisan berikut ini.

Kongregasi Suster Fransiskanes dari Charity (FCh) merupakan sebuah komunitas religius Katolik yang didirikan pada tahun 1838 oleh Beata Maria Anna Brunner di Schwyz, Swiss. Tujuan pendiriannya adalah menjawab panggilan kasih Tuhan untuk merawat orang sakit, membina kaum muda, dan menyentuh kehidupan mereka yang terlupakan oleh dunia. Spiritualitas yang mendasari karya para suster FCh adalah semangat kasih, kesederhanaan, dan pengabdian total kepada sesama, terutama mereka yang menderita.

Di Indonesia, Kongregasi FCh telah menanamkan akar pelayanannya sejak puluhan tahun silam dan kini berkarya di sembilan keuskupan besar: Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Maumere, Keuskupan Weetebula,  Keuskupan Atambua dan Keuskupan Timika adalah Keuskupan terakhir . Selain itu, pelayanan mereka juga menjangkau mancanegara, yakni di Belanda dan Suriname, sebagai bagian dari misi lintas budaya dan kemanusiaan.

Pelayanan utama FCh berakar pada lima bidang pastoral, dengan pendekatan yang menyentuh dimensi fisik, intelektual, sosial, dan spiritual manusia. Yang pertama adalah Pastoral Kesehatan, di mana para suster berkarya di Balai Pengobatan, Klinik, hingga Rumah Sakit. Karya ini tidak sekadar menyembuhkan secara medis, tetapi juga memberi pendampingan rohani bagi pasien dan keluarganya.

Bidang kedua adalah Pastoral Pendidikan. Para suster FCh mengelola berbagai lembaga pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga Universitas. Pendidikan yang dikembangkan tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan iman.

Ketiga, FCh aktif dalam Pastoral Sosial. Mereka mengelola Panti Asuhan, Panti Jompo, Kantin, dan Koperasi, yang menjadi wujud nyata solidaritas terhadap kelompok rentan dan termarjinalkan dalam masyarakat. Karya ini menumbuhkan semangat gotong royong dan tanggung jawab sosial.

Keempat adalah Pastoral Kategorial, di mana para suster membuka pelatihan keterampilan seperti kursus babysitter, pengelolaan asrama siswa, penyediaan rumah retret, serta tempat penitipan anak (TPA). Tujuan utamanya adalah menciptakan ruang formasi manusiawi dan spiritual bagi generasi muda dan keluarga pekerja.

Kelima, FCh turut terlibat aktif dalam Pastoral Parokial. Kegiatan ini mencakup pendampingan iman anak dan remaja, Orang Muda Katolik (OMK), serta penguatan komunitas basis gerejawi melalui pastoral lingkungan. Di sinilah FCh turut membantu Gereja lokal dalam pembinaan umat secara menyeluruh.

Komitmen FCh tidak hanya terbatas pada lembaga formal. Di banyak tempat, para suster menjadi garda depan dalam menjawab berbagai kebutuhan sosial umat, terutama di daerah terpencil. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata bahwa kasih Tuhan sungguh hidup dalam tindakan dan pelayanan nyata.

Karya-karya FCh telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, menjadikan mereka bukan hanya pelayan, tetapi juga sahabat dan ibu bagi banyak orang. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbagi suka dan duka, serta menjadi penopang harapan dalam situasi keterbatasan.

Tidak heran bila kehadiran FCh di berbagai wilayah diterima dengan tangan terbuka. Semangat kesederhanaan yang mereka bawa mampu menembus sekat-sekat budaya dan bahasa. Di luar negeri, khususnya di Belanda dan Suriname, FCh menjadi jembatan antarbangsa dalam semangat persaudaraan universal.

Di tengah tantangan zaman seperti globalisasi, krisis moral, dan disrupsi teknologi, para suster FCh tetap teguh dalam panggilannya: hadir dan menjadi tanda kasih Kristus. Dengan hidup doa, pelayanan tanpa pamrih, dan pengorbanan harian, mereka menunjukkan bahwa Injil kasih tetap relevan dan menyembuhkan.

Kongregasi ini menjadi teladan tentang bagaimana spiritualitas bisa menjelma dalam karya nyata. Mereka tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi menjadikannya hidup dalam rumah sakit, sekolah, panti, asrama, dan hati umat.

Melalui karya dan hidupnya, para suster FCh mengajarkan bahwa misi Kristus tidak pernah berakhir. Selama masih ada orang yang menderita, bodoh, terpinggirkan, dan kehilangan harapan, selama itu pula Kongregasi FCh akan tetap hadir untuk melayani dengan kasih, tanpa syarat.

Di wilayah Keuskupan Timika, kehadiran para Suster FCh juga terasa kuat, khususnya di Distrik Kokonau, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Di tengah medan pastoral yang menantang, para suster setia mendampingi umat dalam pelayanan rohani maupun sosial. Mereka terlibat dalam kegiatan pastoral dasar seperti pelayanan misa, pengajaran katekese, serta pendampingan ibu-ibu dan anak-anak di lingkungan stasi dan kampung-kampung terpencil. Kehadiran mereka menjadi tanda kasih yang nyata dari Gereja di tengah masyarakat yang masih sangat membutuhkan perhatian dan pendampingan manusiawi.

Sementara itu,  di Kabupaten Biak Numfor, karya para Suster FCh telah berlangsung cukup lama atas prakarsa almarhum Pastor Henslock SCJ. Di Paroki Santa Maria Biak, para suster terlibat aktif dalam kegiatan pastoral, terutama dalam pembinaan Orang Muda Katolik (OMK), Misdinar, serta Sekolah Minggu. Mereka membina generasi muda Katolik untuk bertumbuh dalam iman, pelayanan, dan semangat berbagi kasih. Selain itu, para suster juga mengambil peran dalam dunia pendidikan, mengajar di sekolah-sekolah lokal serta menjadi tenaga pendidik yang membentuk karakter dan spiritualitas anak-anak sejak usia dini.

Tak hanya di bidang pastoral dan pendidikan, para Suster FCh juga berkarya dalam pelayanan kesehatan. Di Paroki Santa Maria Biak, mereka mengelola Balai Pengobatan Santa Elisabeth, tempat yang sangat membantu masyarakat dalam memperoleh layanan medis dasar dengan pendekatan yang penuh empati dan keramahan.