Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Menyadari Waktu Terus Berlalu Dan Usia Kita Yang Makin Berkurang

Tausiah Religi
KULIAH SHUBUH
Selasa , 11 Nopember 2025 .
(20 Jumadil Awwal 1447 H)

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Segala puji milik Allah ﷻ, Tuhan yang yang telah menciptakan alam dan seisinya.
Syukur kita sudah sepantasnya selalu terucap, karena banyak anugerah termasuk nikmat tak terhingga telah Allah ﷻ berikan kepada kita semuanya. Terutama nikmat iman, Islam, juga nikmat sehat dan sempat untuk beribadah kepada Allah ﷻ dan berbuat baik kepada sesama.

Shalawat dan salam marilah kita senantiasa haturkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ .
Dan semoga juga mengalir kepada keluarganya, sahabatnya, tabiin, dan kepada kita semuanya sampai akhir jaman.
Kelak di hari akhir kita tentu berharap menjadi ummat yang memperoleh syafa’at Nabi Muhammad ﷺ. Aamiin.

Tidak lupa marilah kita
untuk selalu meningkatkan taqwa kepada Allah ﷻ.
Ajakan taqwa ini bermakna bahwa kita harus terus berupaya sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan cara memacu semangat kita dalam beribadah.
Taat atas perintah – perintah-Nya dan tunduk atas segala hal yang telah dilarang Allah ﷻ.

Dengan begitu, arti taqwa benar-benar bermakna untuk kita, memiliki efek positif, berubah menjadi hamba lebih baik lagi.

Kita perlu menyadari bahwa waktu ini terus berlalu dan tidak akan pernah kembali.
Pada kesempatan yang sama, sebetulnya porsi usia kita makin berkurang.
Itulah sebabnya penting sekali memanfaatkan waktu sebaik mungkin .
Dan tidak pernah melewatkannya waktu dengan sia sia mengejar dunia lupa akhirat .

Kita harus terus berikhtiar mempergunakan waktu untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah ﷻ.
Karena hanya iman dan taqwa sebagai bekal terbaik kita di dunia ini sebelum harus kembali kepada Sang Khaliq.

Ada satu kalimat mengenai pentingnya kita tidak menyia- nyiakan waktu ini.
Sekaligus menjadi pengingat penting untuk kita semua, yaitu :
“Tidak akan pernah kembali hari-hari waktu yang telah berlalu.”

Ini adalah peringatan bagi kita semua khususnya untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Waktu terus mengalir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia tidak akan dapat terlunasi selamanya.

Hari ini barangkali akan datang lagi pada minggu – minggu berikutnya, namun hari ini dan yang sudah lewat tidak akan pernah terulang kembali.
Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tidak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya.

Menyadari tentang waktu yang tidak akan pernah berulang, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengisinya dengan segala hal yang bermanfaat.
Hidup ini sejatinya hanya menunggu waktu, sementara kebanyakan diantara kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan tiba.

Yang pasti usia kita terus berkurang terkikis oleh pergantian waktu.
Oleh karena itu, di sisa usia yang diberikan Allah ini mari kita gunakan sebaik – baiknya dengan amal shaleh.
Kematian tidak pernah memihak dan berkompromi terhadap usia. Anak-anak, tua, muda bila waktunya sudah tiba, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Betapa seringnya manusia berangan-angan bahwa ajalnya masih jauh, hingga seringkali ia bersungguh-sungguh mengejar mimpi dunianya dan lalai terhadap akhiratnya.

Padahal sudah banyak terbukti, bahwa sebagian orang-orang yang kita temui yang berangan-angan sama namun tiba-tiba ajal telah menjemputnya.

Maka perlu untuk kita jadikan sebuah renungan “Bahwa kubur adalah tempat segala usia, karena syarat untuk mati tak harus tua, tak harus sakit, tak harus di jalan, dan tak harus di tempat yang sama”

Karena itulah hendaknya kita agar senantiasa memperhatikan dan mempersiapkan bekal kehidupan akhirat, Dan jangan pernah lalai dengan kehidupan dunia, sebab tak ada jaminan besok kita masih hidup.

Dan saat inilah waktu yang terbaik untuk kita mengumpulkan bekal amal shalih, selagi masih ada kesempatan dan sebelum terlambat.

Sebab kematian bergerak terus tak mengenal waktu siang-malam, pagi-sore, ia datang di lautan dan di daratan, ia menemui tua-muda, laki-perempuan, ia terus bergerak secara konsisten kepada kita dengan kecepatan 60 detik/menit tanpa pernah berhenti untuk beristirahat.

Dengan begitu, maka pasti akan tiba saat kematian itu akan datang menemui kita.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh para sahabat perihal paling baik dan buruknya manusia.
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang oleh Allah diberikan umur panjang, kemudian digunakan untuk melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah ﷻ .
Sebaliknya, paling buruk manusia adalah mereka yang diberikan umur yang panjang, namun panjangnya umur tersebut digunakan untuk keburukan.

Nabi ﷺ bersabda:
“Dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Rasulullah ﷺ bahwa ia pernah ditanya: siapakah paling baiknya manusia? Nabi menjawab: orang yang dikaruniai umur panjang dan baik benar perbuatannya. Ditanyakan lagi:
Dan siapakah paling jeleknya manusia?
Nabi menjawab: orang yang panjang umurnya dan jelek perbuatannya.”

Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa umur yang panjang tidak hanya menjadi nikmat dari Allah ﷻ , tetapi juga menjadi penentu kebaikan dan keburukan manusia.
Mereka yang dikaruniai umur panjang, kemudian umur tersebut digunakan untuk mengerjakan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan terus konsisten dalam ketaatan, maka termasuk dalam golongan paling baiknya manusia.
Pasalnya mereka telah dikaruniai umur panjang dan berhasil menggunakannya untuk kebaikan.

Begitu juga sebaliknya, orang yang dikaruniai umur panjang oleh Allah ﷻ namun tidak ada tambahan kebaikan sama sekali dalam hidupnya, justru selalu melakukan keburukan, kemaksiatan, melanggar perintah – perintah Allah ﷻ, dan tidak pernah menunaikan kewajiban-Nya, maka orang ini termasuk dalam golongan orang – orang yang buruk.

Oleh karena itu, marilah jadikan setiap waktu yang terus berlalu ini sebagai momentum untuk merenungi hakikat umur yang telah diberikan oleh Allah ﷻ.

Sudahkah tambahan umur juga menjadi perantara untuk menambah kebaikan, menambah ibadah dan ketaatan?
Atau justru sebaliknya, kemaksiatan terus bertambah dan kejelekan terus dilakukan ?.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, bahwa bertambahnya umur dan kebaikan menjadi barometer keimanan seseorang.
Karena orang – orang yang beriman akan terus bertambah kebaikannya seiring dengan bertambahnya umur.

Orang beriman yang menunaikan semua ketentuan – ketentuan iman, tidak akan bertambah dari panjangnya umur selain juga bertambah kebaikan.
Dan, siapa saja yang bisa seperti ini, maka hidup di dunia lebih baik baginya daripada mati.

Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita semua agar senantiasa berdoa kepada Allah, menjadikan hidup di dunia sebagai ajang untuk selalu menambah kebaikan.

Adapun lafal doanya adalah sebagai berikut:
“Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini sebagai nilai tambah bagiku dalam semua kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatan bagiku dari segala kejahatan.” (HR Muslim).

Semoga nikmat umur kita ini bisa menjadi perantara untuk memacu diri meningkatkan kebaikan, ketaatan, dan menjauhi larangan – larangan Allah ﷻ.
Mari kita isi waktu demi waktu yang terus berjalan ini dengan hal-hal yang bermanfaat, sebagai bagian dari ikhtiar kita mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Demikianlah Kuliah Shubuh ini
Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab kita untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.
Wa billahit taufik wal hidayah.
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته