Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Ledakan di Ruang Masjid Ketika Luka Batin Remaja Bertemu Radikalisasi

Oleh Eka Teresia

Tragedi SMAN 72 Jakarta dan Potret Kegagalan Kolektif Kita

Dua hari setelah dentuman memekakkan di SMAN 72 Jakarta, yang dikabarkan mengakibatkan 96 korban luka, kita semua terguncang oleh satu nama: seorang siswa 17 tahun. Pelaku yang seharusnya belajar, malah merakit bom. Pelaku yang seharusnya dilindungi, diduga adalah korban perundungan.

Ini adalah ironi yang memilukan. Sekolah, yang kita harapkan menjadi rahim aman bagi pertumbuhan, tiba-tiba menjadi lokasi teror. Ketika seorang anak memilih membalas luka batin dengan kekerasan masif yang melibatkan tujuh peledak rakitan—suatu kemampuan yang mencengangkan—maka kita harus berhenti mencari kambing hitam tunggal.

Jalur Gelap dari Hati yang Terluka

Benang merah terkuat adalah dugaan perundungan (bullying). Narasi ini, jika benar, menunjukkan betapa dahsyatnya efek kepedihan yang terakumulasi. Seseorang yang “suka menyendiri” dan “pendiam,” yang merasa tak dianggap dan terpojok, mencari pelarian. Laporan bahwa pelaku menyukai ekstremisme, video perang, hingga ditemukannya “simbol-simbol” yang diselidiki Densus 88 adalah alarm keras.

Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah ia teroris atau korban bullying?” Melainkan: “Apakah luka batin akibat bullying yang parah menjadi pintu masuk bagi radikalisasi ideologi kekerasan yang lebih gelap?”

Amukan dan dendam seorang remaja yang tertekan—yang didorong hingga ambang batas keinginan bunuh diri—menemukan jalan keluar terburuk melalui akses pengetahuan destruktif. Perundungan telah menciptakan amarah yang tak terkontrol, dan ideologi ekstrem memberikan justifikasi serta metode untuk melampiaskannya.

Panggilan untuk Bertanggung Jawab Bersama

Tragedi SMAN 72 adalah cermin retak bagi kita semua. Ini adalah kegagalan kolektif:

1.Kegagalan Sekolah: Apakah sistem pengawasan dan pendampingan psikologis sudah efektif? Mengapa jeritan senyap korban tidak terdengar sebelum meledak?

2.Kegagalan Orang Tua: Sudahkah kita benar-benar hadir untuk anak, bukan hanya menanyakan nilai rapor, melainkan mendengarkan luka di balik senyum mereka?

3.Kegagalan Masyarakat: Betapa mudahnya konten dan pengetahuan merakit senjata/bom diakses, dan betapa rentannya remaja kita terhadap paparan ideologi kekerasan, terutama saat mereka merasa terpinggirkan.

Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tapi transfer empati. Jangan biarkan ruang kelas menjadi arena pertempuran batin. Mari kita jadikan tragedi ini titik balik untuk membangun ekosistem sekolah dan keluarga yang benar-benar suportif dan protektif, sebelum luka seorang anak lagi-lagi meledak dalam bentuk yang lebih mengerikan.