Menyulam Mitos, Menghidupkan Kemanusiaan Catatan Awal ke empat atas Sun-Shattering Mythology of Tanimbar
Yusufachmad Bilintention
Ketika saya melangkah ke bagian awal isi buku ini, saya tidak hanya membaca sebuah kajian akademik. Saya memasuki ruang batin seorang penulis yang telah menempuh perjalanan panjang—dari skeptisisme teologis di seminari, hingga perjumpaan langsung dengan masyarakat adat di Ambon dan Tanimbar. Dalam bagian Preface, Prof. Frits H. Pangemanan mengakui bahwa mitologi bukanlah “secangkir kopi semua orang,” namun justru di sanalah ia menemukan kejernihan baru dalam memandang dunia.
Ia menyebut pendekatan emic—cara pandang lokal—sebagai titik balik dalam pemahamannya. Di sini, saya merasa bahwa mitos bukan lagi sekadar objek studi, tetapi subjek yang hidup. Ia adalah suara yang berbicara dari dalam komunitas, bukan dari luar. Dan dalam suara itu, kita mendengar gema spiritualitas yang tak bisa dijelaskan oleh logika semata.
Buku ini tidak hanya mengupas mitos Ahuf sebagai narasi budaya, tetapi sebagai struktur spiritual yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan. Mitos menjadi jembatan antara pengalaman manusia dan takdirnya. Ia bukan hanya cerita, tetapi peta jiwa yang membimbing manusia dalam perjalanan eksistensialnya.
Prof. Pangemanan menyusun buku ini sebagai refleksi akademik sekaligus spiritual. Ia menggabungkan pemikiran Eliade, Campbell, dan Jung—tiga tokoh besar mitologi dunia—dengan konteks lokal Indonesia dan Filipina. Dalam proses ini, mitos Ahuf tidak hanya dijelaskan, tetapi dihidupi. Ia menjadi bagian dari disertasi doktoralnya, yang kemudian berkembang menjadi karya ilmiah yang diluncurkan dalam perayaan Ruby Diamond Jubilee ASI dan Dies Natalis Seminari Hati Kudus Yesus di Manado.
Saya terkesan dengan bagaimana buku ini menyusun bab demi bab sebagai perjalanan spiritual dan ilmiah. Dari pengantar konseptual, metodologi fenomenologis, hingga refleksi transpersonal bersama para informan lokal, semuanya disusun sebagai tapestri pengalaman. Di sana, mitos tidak hanya diteliti, tetapi dirasakan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara penulis dan masyarakat, antara akademisi dan akar budaya.
Bab-bab seperti Tanimbar’s Sun-Shattering Mythology Lingers on in People’s Mind dan Lived Experiences around the Atuf Myth menunjukkan bahwa mitos adalah pengalaman yang diwariskan. Ia bukan hanya teks, tetapi tubuh sosial yang hidup. Dan dalam tubuh itu, kita menemukan luka, harapan, dan kekuatan untuk bertahan.
Buku ini ditutup dengan bab Creative Synthesis dan Conclusion, yang menyatukan semua benang refleksi menjadi satu kesimpulan: bahwa mitos adalah corak dari transformasi manusia. Dalam epilog yang ditulis pada Hari Raya Kunjungan Santa Maria, saya merasa bahwa karya ini bukan hanya akademik, tetapi liturgis. Ia adalah doa yang ditulis dengan kata-kata, dan harapan yang dijahit dalam refleksi.
Sebagai penulis yang juga menapaki jejak spiritual dan budaya, saya merasa bahwa bagian ini adalah undangan untuk menulis dengan kesadaran. Bahwa setiap narasi yang kita tulis bisa menjadi ruang penyembuhan, ruang perjumpaan, dan ruang pengabdian. Dan bahwa dalam mitos, kita tidak hanya menemukan masa lalu, tetapi arah masa depan.