Era Nurza
–
Di tanah yang harum oleh mesiu dan doa
angin membawa nyanyian dari nadi yang terbakar
Surabaya menyala, bukan oleh lampu
melainkan oleh keberanian yang menolak padam
Merah itu darah yang tak sempat kering
putih itu jiwa yang tak sempat pulang
Keduanya berkibar di ujung bayonet
menantang maut seolah menantang takdir
Setiap langkah adalah puisi tanpa tinta
ditulis oleh kaki yang tak gentar pada peluru
Di dada mereka, Indonesia belum selesai dilahirkan
maka mereka bertempur agar ibu tetap bernafas
Bayonet itu bukan hanya besi
ia adalah pena yang menulis arti kemerdekaan
dengan bahasa luka
dengan ejaan keberanian yang tidak bisa dihapus waktu
Mereka tidak sekadar melawan
mereka berdialog dengan maut
dan berkata
Kami tak mati, kami menjelma negeri
Kini, di setiap tiang bendera yang kau pandang diam-diam
ada tatapan mereka yang masih berkobar
ada tanya yang menelusup di nadi bangsa
Masihkah kau merah putih di ujung niatmu sendiri?
Padang, November 2025