ANTHOLOGI SATIR REPUBLIK:
Karya: Rizal Tanjung
–
I – Prolog Bayangan Negeri
(tentang asal mula korupsi sebagai dosa pertama kekuasaan)
Lihatlah, wahai zaman,
di tengah nadi republik yang kering,
berdiri para dewa kecil yang menamakan dirinya “pemimpin.”
Di tangannya bendera berkibar,
tapi kainnya disulam dari dusta dan janji yang telah membatu.
Mereka turun dari menara janji,
menyebut dirinya pelayan rakyat,
padahal tangan yang mereka ulurkan
telah mencuri dari piring tempat rakyat makan mimpi.
Korupsi bukanlah pencuri malam hari—
ia adalah pendeta palsu yang berkhotbah di siang bolong.
Ia datang mengenakan dasi kebangsaan,
berbicara tentang reformasi dengan lidah yang terbelah dua.
Negeri ini, oh, negeri ini—
adalah panggung sandiwara di mana naskah kebenaran
ditulis oleh para penipu yang lihai berpura-pura jujur.
Rakyat berbaris di bawah panas matahari,
sementara di gedung-gedung ber-AC
para pencuri menandatangani peraturan
yang mereka sebut “demi kesejahteraan bersama.”
Dan lihatlah, presiden—
di balik jas kebesarannya tersimpan cermin retak.
Setiap kali ia berkata “kita akan memburu koruptor!”
bayangannya sendiri menggigil ketakutan.
Karena siapa yang diburu?
Kalau bukan darahnya sendiri yang mengalir di tubuh bangsa?
Kalau bukan saudara seperjamuan,
yang kini menanam benih dosa di ladang kebijakan?
Wahai negeri,
engkau tidak sedang berburu koruptor,
engkau sedang berburu dirimu sendiri.
—
II – Anatomi Para Malaikat Palsu
(tentang pejabat yang menjelma nabi di layar kaca)
Di layar televisi, para malaikat palsu tersenyum,
seolah di balik giginya tak ada bangkai.
Mereka bicara tentang moral dan etika,
dengan bahasa yang wangi dari parfum impor dan dosa lokal.
Setiap pidato adalah kebaktian,
setiap janji adalah mazmur palsu,
dan setiap tepuk tangan dari rakyat
adalah doa yang disalahpahami sebagai persetujuan.
Wahai yang duduk di kursi kabinet,
ingatlah: kursi itu bukan singgasana,
melainkan timbangan antara kebaikan dan kehancuran.
Namun kalian jadikan ia tempat mengasah ego,
tempat menanam pohon keluarga dari akar nepotisme.
Di gedung itu, jam dinding berdetak seperti detak jantung keserakahan.
Setiap menit adalah tender,
setiap detik adalah komisi,
setiap senyum adalah persekongkolan.
Kalian tidak lagi berpakaian, kalian bertopeng.
Dan di bawah topeng-topeng itu,
mengalir darah rakyat yang kalian jual per liter kepada investor asing.
Oh, malaikat palsu,
apakah kalian tidak takut pada malam?
Pada suara bumi yang mencatat langkah kalian?
Pada tangan ibu yang memeluk anaknya lapar sambil berdoa,
“Ya Tuhan, lindungilah kami dari pejabat negeri ini.”
—
III – Doa yang Tertolak di Gedung Parlemen
(tentang rakyat yang berteriak dari luar pagar kekuasaan)
Di halaman gedung parlemen,
seribu suara bergulung seperti ombak kesabaran yang pecah.
Rakyat datang bukan membawa senjata,
melainkan luka yang mereka pelihara dengan sabar selama puluhan tahun.
Mereka mengetuk pintu parlemen,
namun besi menjawab dengan keheningan.
“Wakil kami,” kata mereka,
tapi yang keluar hanyalah gema janji yang sudah ditelan protokol.
Gedung itu tinggi,
menyentuh awan, tapi tidak pernah menyentuh hati.
Di dalamnya, kursi berderet seperti altar penyembahan ego,
dan mikrofon menjadi alat untuk memuliakan kepalsuan.
Mereka berbicara tentang rakyat,
tapi tidak mengenal aroma keringat rakyat.
Mereka merancang undang-undang,
tapi tak pernah melihat bagaimana hidup di bawahnya.
Dan ketika rakyat menjerit,
mereka menutup telinga dengan surat dinas.
Ketika rakyat mati di jalan,
mereka berkabung dengan jamuan makan malam kenegaraan.
Oh parlemen yang agung,
mengapa dindingmu lebih tebal dari imanmu?
Mengapa setiap kata “rakyat” yang kau ucapkan
terdengar seperti hinaan yang dibungkus formalitas?
—
IV – Burung-Burung dari Antartika
(tentang absurditas perburuan koruptor sampai ke ujung dunia)
“Koruptor akan diburu sampai ke Antartika!” katanya,
sementara di ruang rapatnya, tinta tanda tangan masih hangat.
Ah, betapa jauh ia hendak pergi,
sementara di mejanya sendiri sarang pencuri tumbuh subur seperti lumut.
Antartika—simbol suci bagi pencitraan moral,
tempat semua janji berakhir tanpa bukti.
Ke sana mereka akan berlayar,
membawa spanduk kebenaran yang dijahit dari kertas berita pagi.
Burung-burung di kutub tertawa,
melihat manusia yang tak mengenal malu.
Sebab mereka datang dengan pakaian kebesaran,
tapi hatinya telanjang tanpa nurani.
Mereka mencari koruptor di negeri es,
padahal di cermin kamar mandi mereka
terpantul wajah yang mereka cari.
Wahai, Antartika,
seandainya engkau bisa berbicara,
tentu engkau akan berkata:
“Pulanglah, manusia—
korupsi tidak bersembunyi di saljuku,
korupsi adalah bayanganmu yang selalu ikut ke mana pun kau pergi.”
—
V – Epitaf Sepuluh Jiwa di Jalan Ibukota
(tentang rakyat yang gugur dalam demonstrasi dan diamnya kekuasaan)
Sepuluh jiwa jatuh di jalan,
bukan oleh peluru musuh, tapi oleh ketulian bangsa sendiri.
Mereka bukan pemberontak,
hanya pengingat bahwa kesabaran rakyat ada batasnya.
Darah mereka mengalir di aspal yang disiram air mata,
dan dari tanah itu tumbuh bunga yang disebut keadilan,
meski belum sempat mekar di taman kekuasaan.
Wahai presiden,
jika engkau berjalan di malam sepi,
dengarlah bisikan dari jalan-jalan yang sunyi itu—
itulah suara mereka yang gugur
agar engkau sadar siapa sebenarnya yang mesti kau bela.
Bukan kabinetmu,
bukan partaimu,
bukan genggaman tangan oligark yang menepuk bahumu di jamuan makan malam,
tapi rakyat yang menulis namamu di surat suara
dengan harapan yang kini sudah jadi debu.
Sepuluh jiwa itu kini menjelma doa,
mengapung di udara kota,
menunggu satu hal yang belum pernah datang:
keadilan tanpa syarat,
keadilan tanpa negosiasi,
keadilan yang tidak mengenakan seragam dinas.
—
VI – Bangkai di Dalam Kabinet
Kabinet berdiri seperti altar,
di atasnya doa dan kebijakan bercampur jadi kabut.
Mereka yang duduk di sana tak lagi berbicara,
mereka mengunyah kata-kata rakyat seperti roti persembahan.
Di balik meja rapat yang mengilap,
ada bau bangkai yang disembunyikan di bawah karpet merah.
Setiap kali pintu ditutup,
bisikan dosa menetes seperti embun di pagi ambisi.
Bangkai itu bukan tubuh,
melainkan kejujuran yang mati pelan-pelan—
karena terlalu sering dipaksa tersenyum di depan kamera.
Wahai para menteri,
kalian mengira rakyat tuli,
padahal mereka hanya menunggu detik
ketika bau busuk kalian menyebar sampai ke langit.
Negeri ini bukan hutan belantara,
tapi meja makan panjang tempat serigala berseragam duduk sopan,
berpura-pura jadi domba yang berdoa.
Bangkai di dalam kabinet itu kini tumbuh akar,
menyusup ke lantai, ke kursi, ke kepala negara.
Dan dari akar itu tumbuh satu pohon besar
yang buahnya bernama: kemunafikan.
—
VII – Doa untuk Menteri yang Hilang Nurani
Wahai menteri,
yang dulu bersumpah dengan kitab suci di dada,
ke mana perginya nurani yang dulu kau simpan di saku jas itu?
Kini suaramu seperti radio rusak,
berdengung dengan kebohongan yang diputar berulang.
Kau bicara tentang kemiskinan,
tapi tak pernah merasakan harga nasi di warung rakyat.
Doa rakyat kini tidak lagi menjemputmu dengan hormat,
mereka menyebut namamu dalam amarah,
karena nurani yang kau jual dengan harga tender.
Malam-malam kini sunyi oleh kutukan,
doa ibu-ibu di dapur menolak sampai ke langit ketujuh,
karena malaikat pun muak menuliskan namamu di buku amal.
Dan di bawah lampu gedung kementerian,
rakyat menatap foto wajahmu yang tersenyum di billboard,
lalu berkata pelan:
“Lihat, itulah wajah yang dulu kami percaya—
kini wajah itu menjadi kabar buruk setiap pagi.”
—
VIII – Republik di Atas Meja Makan Malam
Di istana, sendok dan garpu berdansa,
membunyikan simfoni keserakahan.
Daging impor, anggur merah,
dan tawa pejabat yang membicarakan moral bangsa.
Negeri ini kini seperti meja makan malam panjang,
tempat kursi disusun berdasarkan jumlah saham dan hubungan darah.
Di situ rakyat tak diundang,
karena mereka hanya bahan pembicaraan.
Tiap suapan adalah potongan masa depan,
tiap tegukan adalah janji yang dikubur di lambung.
Dan di antara gelas-gelas kristal itu,
ada cermin kecil tempat mereka melihat wajah Tuhan—
lalu tertawa,
karena mereka pikir Tuhan sudah lupa pada negeri ini.
Oh, republikku,
mengapa engkau menjelma pesta yang tak pernah berhenti,
sementara di luar jendela pesta itu,
anak-anak lapar menghitung bintang
sambil menghafal doa yang tidak lagi mereka percayai?
—
IX – Parfum Kekuasaan dan Bau Bangkai Janji
Kekuasaan memiliki aroma—
campuran antara parfum mahal dan bangkai janji yang membusuk.
Setiap pejabat mengolesinya di leher
agar tampak bersih di depan kamera.
Namun rakyat tahu:
bau kejujuran berbeda dengan wangi kebohongan.
Yang satu menenangkan,
yang lain menyesakkan dada.
Mereka berjalan melewati podium,
meninggalkan jejak langkah seperti noda di karpet sejarah.
Dan setiap janji baru hanyalah pewangi ruangan
yang tak mampu menutupi busuk yang sudah terlalu lama menetap.
Wahai, penguasa,
kau bisa mencuci tanganmu dengan sabun kebijakan,
tapi darah kepercayaan rakyat tak mudah hilang.
Ia menempel di sela-sela jemarimu,
dan akan terus berbau
sampai hari penghakiman datang dengan wajah yang menyerupai rakyat itu sendiri.
—
X – Presiden di Tengah Bayangan
Presiden berdiri di tengah cermin,
melihat seribu pantulan dirinya yang tak serupa.
Ada yang jujur,
ada yang kelelahan,
ada yang masih berdialog dengan dosa.
Di matanya, rakyat seperti laut yang tak pernah tenang,
gelombang tuntutan naik tanpa henti.
Ia ingin memburu koruptor,
tapi setiap langkahnya diikuti oleh bayangan tangan-tangan yang menepuk bahunya dengan senyum pura-pura.
Kekuasaan adalah labirin yang dibangun dari janji,
dan di setiap tikungannya ada wajah lama
yang dulu berjanji tidak akan mencuri.
Wahai presiden,
jika engkau sungguh ingin membersihkan negeri ini,
jangan cari koruptor di luar sana.
Carilah mereka di ruang rapatmu,
di lemari arsip kebijakan,
di dompet janji yang kau kantongi di dada.
—
XI – Politik Sebagai Agama Baru
Kini politik menjadi agama baru bangsa ini.
Partai-partai adalah gereja,
baliho adalah kitab suci,
dan para pengikutnya bersujud pada mikrofon dan kamera.
Mereka berzikir dengan slogan,
berpuasa dari kejujuran,
berhaji ke istana setiap kali musim pemilu tiba.
Di bawah kubah perwakilan, doa diperdagangkan,
ayat dipelintir menjadi pasal,
dan janji keselamatan diganti dengan jabatan komisaris.
Mereka berseragam kebangsaan,
tapi hatinya berwarna partai.
Mereka bersumpah atas nama rakyat,
tapi mencintai kekuasaan lebih dari negeri itu sendiri.
Agama baru ini tidak memiliki Tuhan,
hanya punya tuan.
Dan rakyat—umat yang paling setia—
tidak pernah tahu bahwa setiap doa mereka
telah ditukar dengan kursi kekuasaan.
—
XII – Surga dari Tender dan Lelang
Ada surga yang dijanjikan oleh birokrasi:
surga tender, surga proyek,
surga di mana angka-angka suci menjadi mata uang keselamatan.
Mereka yang beriman kepada sistem,
akan diangkat jadi direktur,
diberi kendaraan dinas dan kartu akses menuju nirwana administratif.
Di sana, malaikat pencatat adalah sekretaris,
dan setiap tanda tangan adalah doa pendek:
“Amin, semoga lancar cairannya.”
Namun di luar pagar surga itu,
rakyat berdiri seperti pengemis di depan rumah Tuhan,
menunggu keajaiban yang tidak pernah datang.
Wahai birokrat,
apakah kau tidak malu kepada kertas-kertas yang kau tandatangani?
Mereka adalah saksi bisu dari dosa administratif yang membangun neraka dunia.
—
XIII – Negeri yang Mengajarkan Curi dengan Lembut
Negeri ini tidak lagi menghukum pencuri—
ia mendidiknya dengan baik.
Dari bangku sekolah hingga kampus negeri,
mereka diajari tentang peluang,
bukan tentang moral.
Guru berkata, “Jadilah cerdas!”
Tapi lupa menambahkan, “dan jujurlah.”
Mahasiswa belajar manajemen keuangan,
tapi tidak pernah belajar cara menahan diri dari keserakahan.
Maka lahirlah generasi yang tahu cara mencuri tanpa terlihat,
yang tahu cara menipu tanpa merasa bersalah,
yang bangga disebut “pintar mengakali sistem.”
Korupsi bukan lagi dosa,
melainkan keterampilan.
Dan moral menjadi mata pelajaran pilihan
yang tak lagi diuji di akhir semester kehidupan.
—
XIV – Rakyat yang Menjadi Cermin
Rakyat kini berhenti berteriak.
Mereka duduk diam di depan cermin republik,
melihat wajah sendiri yang lelah tapi tidak padam.
Mereka sadar—
pemerintah hanyalah pantulan dari diri mereka sendiri.
Kalau pemimpin curang,
itu karena rakyat membiarkan kecurangan jadi kebiasaan.
Maka rakyat kini mulai membangun altar kecil dari kesadaran,
mereka menanam jujur di ladang yang gersang,
menyiramnya dengan air mata dan sabar.
Sebab mereka tahu,
jika kekuasaan tak lagi bisa dipercaya,
maka satu-satunya pemerintahan yang tersisa
adalah hati nurani itu sendiri.
—
XV — MADRASAH KEBOHONGAN
Di sebuah aula bercahaya lampu kuning,
para pejabat berbaris seperti murid-murid taat
menulis kebohongan di papan tulis kenegaraan.
Kapur putih itu adalah janji,
dan janji itu lenyap bersama dengus kipas angin.
Guru mereka adalah uang,
kitabnya adalah nota dinas,
ayatnya berbunyi: “Yang penting tanda tangan.”
Mereka belajar tentang moral
seperti belajar tentang sejarah kerajaan yang telah punah:
hafal, tapi tidak percaya.
Di madrasah kebohongan itu
nilai kejujuran dihapus dari rapor.
Setiap lulusan diwisuda
dengan toga dari amplop coklat
dan gelar: “Sarjana Manipulasi Negara.”
Dan rakyat?
menjadi pelajar abadi di kelas penderitaan,
menulis PR-nya dengan keringat dan air mata.
Namun setiap kali menyerahkan tugasnya,
nilai mereka tetap: 0,00 —
karena tidak ikut menyogok.
—
XVI — UPACARA DI LAPANGAN LUKA
Setiap pagi Senin,
di lapangan luka, bendera dinaikkan dengan darah.
Anak-anak berdiri tegak, menyanyikan lagu kebangsaan
dengan mulut yang lapar dan sepatu yang sobek.
Guru mereka menangis diam-diam di bawah tiang bendera,
menghitung gaji yang tak cukup membeli harga diri.
Sementara di podium, pejabat tersenyum
menepuk dada seolah bangsa ini masih punya jantung.
Upacara selesai,
dan yang tersisa hanyalah gema janji
yang jatuh ke tanah seperti daun kering tak berguna.
Negara ini telah pandai mencetak sumpah,
namun gagal memelihara arti kata merdeka.
—
XVII — MONUMEN DARI CEMARAN
Tugu tinggi di tengah kota
dibangun dari campuran semen dan dusta.
Ia berdiri gagah,
menatap langit dengan dada penuh korupsi.
Di bawahnya, burung-burung tak mau hinggap.
Mereka tahu,
bau cat monumen itu adalah aroma kebusukan.
Setiap ukiran prasasti
bukan nama pahlawan,
melainkan deretan kontraktor yang kaya
karena proyek pembangunan yang tak pernah selesai.
Tugu itu menjadi doa batu —
keras, dingin,
dan menatap masa depan tanpa nurani.
—
XVIII — PEMBURU BAYANG-BAYANG
Pemerintah berburu koruptor
seperti pemburu berburu cermin:
setiap kali menembak, wajah sendiri yang roboh.
Mereka membawa senjata hukum,
tapi pelurunya adalah negosiasi.
Mereka menggali lubang kebenaran,
namun mengisinya dengan surat sakti dari atas.
Negeri ini seperti hutan kaca:
tak ada binatang buas selain pejabat yang lapar,
tak ada roh halus selain anggaran yang raib.
Mereka mengejar bayang-bayang
sambil membawa obor dari api dusta,
membakar diri tanpa pernah sadar bahwa asapnya
menyelubungi seluruh rakyat.
—
XIX — RATAP IBU DI GEDUNG MEWAH
Di malam senyap,
ibu tua duduk di depan pagar gedung parlemen,
membawa foto anaknya yang mati ditembak aparat.
Ia menangis tanpa suara,
karena suara rakyat telah dihapus dari kamus sidang.
Gedung itu terang benderang,
namun di dalamnya gelap.
Para anggota dewan bicara tentang “rakyat”
seperti membicarakan dongeng —
indah, tapi sudah tidak nyata.
Mereka tertawa di atas luka,
menepuk meja, menyetujui pasal,
dan di luar pagar itu,
seorang ibu menatap mereka seperti menatap
kuburan yang belum ditulisi nama.
—
XX — TARIAN BUDJET DI ISTANA
Musik dimulai dengan denting rupiah,
dan para menteri menari di karpet merah.
Gerakan mereka halus —
seperti mencabut dana tanpa suara.
Setiap langkah adalah proyek,
setiap putaran pinggul adalah tender.
Presiden menonton dengan senyum menahan getir,
sementara rakyat menonton dengan mata perih.
Inilah pesta tahunan negeri,
di mana lagu kebangsaan diganti dengan lagu dana hibah,
dan tariannya disebut tari anggaran abadi.
—
XXI — AKU, RAKYAT YANG DITINGGAL
Aku adalah rakyat —
bukan data statistik di papan rapat,
bukan angka inflasi di layar TV,
bukan nama dalam daftar bantuan yang tak pernah sampai.
Aku adalah wajah yang memudar di antara spanduk kampanye,
suara yang kau dengar saat pidato,
namun tak kau cari saat lapar.
Aku ini, yang katanya pemilik negeri,
tapi tak pernah diundang ke rumahnya sendiri.
—
XXII — LABIRIN JANJI
Negeri ini adalah labirin janji,
setiap pintu menuju pintu lain,
setiap jalan menuju kebingungan.
Politikus adalah arsitek labirin itu:
mereka menggambar kebohongan
dengan garis rapi di atas blueprint harapan rakyat.
Dan kita semua berjalan di dalamnya,
menabrak tembok janji
yang dicat warna merah-putih.
—
XXIII — SINDROM PIALA KEKUASAAN
Kekuasaan adalah piala yang berisi racun.
Setiap yang meneguknya
akan tersenyum manis sebelum mati moralnya.
Ia minum sambil berpidato,
menjanjikan kesejahteraan yang sudah basi.
Dan kita bersorak:
“Selamat, Yang Mulia!”
tanpa sadar bahwa tiap tegukannya
adalah setetes darah masa depan bangsa.
—
XXIV — PENGADILAN DI ATAS AIR MATA
Pengadilan negeri seperti teater kaca.
Hakim memainkan naskah keadilan,
jaksa memainkan peran kebenaran,
dan koruptor memainkan topeng penyesalan.
Rakyat hanya jadi penonton
yang bayar tiket dengan penderitaan.
Setiap vonis adalah tepuk tangan palsu
di panggung yang gemerlap,
di mana kebohongan sudah menjadi seni pertunjukan negara.
—
XXV — RITUAL PEMBENARAN
Pemerintah berdoa di depan altar kamera.
Mereka membaca mantra pembangunan,
memegang kitab proyek,
dan menyalakan dupa anggaran.
Rakyat yang miskin menonton di televisi,
menyebut nama Tuhan sambil menelan ludah.
Betapa suci wajah para pemimpin itu —
bahkan malaikat pun mungkin iri
melihat betapa pandainya mereka berpura-pura.
—
XXVI — UPACARA PEMBUBARAN MORAL
Telah diumumkan secara resmi:
moral bangsa telah bubar pukul 17.00 sore.
Saksi-saksi menyatakan:
ada uang, ada tanda tangan, ada tepuk tangan.
Upacara berjalan khidmat.
Sang pembicara berkata,
“Bangsa ini akan makmur bila semua diam.”
Dan kita pun diam,
karena suara sudah diganti dengan stempel.
—
XXVII — LUKA DALAM KOTAK SUARA
Kotak suara itu bukan lagi lambang demokrasi,
melainkan peti jenazah kejujuran.
Setiap kertas yang masuk ke dalamnya
adalah doa yang disuap.
Dan setiap kemenangan
adalah hasil dari angka yang digunting dan dijahit ulang
oleh tangan tak terlihat —
bernama kekuasaan.
—
XXVIII — JALAN MENUJU NERAKA BERTANDA VIP
Di ujung jalan kekuasaan
ada gerbang neraka bertuliskan: “Khusus Pejabat Negara.”
Tiket masuknya adalah sumpah jabatan,
dan pintunya dijaga oleh hantu rakyat yang mati miskin.
Di dalam sana,
arwah koruptor duduk berdiskusi
tentang reformasi birokrasi dan etika publik.
Dan setan pun tertawa,
karena kini ia tidak lagi sendirian menjadi simbol kejahatan.
—
XXIX — DOA UNTUK NEGARA YANG HILANG
Ya Tuhan,
kami tidak lagi berdoa agar kaya,
kami hanya ingin jujur.
Namun kejujuran kini lebih mahal dari harga pangan pokok.
Negara ini seperti kapal karam
yang nakhodanya mabuk kebijakan.
Kami hanya penumpang kecil
yang berdoa agar ombak tidak muak menelan kami.
—
XXX — AMANAT TERAKHIR UNTUK PRESIDEN
Wahai Presiden,
jika engkau benar-benar ingin memburu koruptor,
janganlah cari mereka di gunung atau hutan birokrasi.
Lihatlah ke sekeliling meja kabinetmu.
Koruptor tidak bersembunyi di Antartika,
ia duduk di kursi di sebelahmu,
menyajikan laporan palsu dengan senyum ramah.
Dan jika engkau ingin menegakkan keadilan,
mulailah dari cermin —
karena di sana, seluruh dosa negeri ini berdiam
dalam pantulan yang tak pernah berani ditatap.
—
Sumatra Barat, Indonesia, 2025.