Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Antologi Puisi

Oleh: Rizal Tanjung

I — Suara yang Tumbuh dari Batu

Di tanah yang ditimang kabut,
roh bumi membuka lipatan-lipatan waktu,
menyebut nama kerajaan
yang disembunyikan semesta
agar manusia tak menagih cahaya
sebelum hatinya kuat menanggung silau.

Minangcabo—
tempat kerbau pertama
menanduk hening hingga fajar pecah,
menjadi obor bagi bangsa
yang belajar hidup dari air mata gunung
dan senyum sabar ibu-ibu lembah.

II — Lembah Sebelum Manusia

Sebelum ayat dan aksara lahir,
hanya suara air
mengaji nama Tuhan
di antara batu dan lumut.

Di situlah negeri ini dimulai:
dari desir angin
yang malu-malu memeluk bukit,
dan cahaya yang tumbuh
di ujung tanduk seekor kerbau putih
penjaga rahasia zaman.

III — Kerbau Penanduk Fajar

Ia datang tanpa bayang,
seekor kerbau putih
yang napasnya adalah embun.

Dengan tanduknya
ia pecahkan gelap,
ia buka dada langit,
hingga fajar menetes
seperti emas yang cair
dari matahari muda.

Dan manusia pun lahir
dari cahaya itu.

IV — Istana yang Terbuat dari Sabar

Di tanah emas,
para leluhur membangun istana
dengan tiang kayu
yang belajar rendah hati,
dan ukiran naga
yang menundukkan congkak.

Mereka tahu:
emas hanya indah
bila tidak disentuh tamak.

V — Puti yang Mendengar Bisik Angin

Puti Andam Rose
berdiri di beranda fajar,
angin membelai rambutnya
dengan cerita buruk:

tentang kapal asing,
tentang mata yang lapar,
tentang langkah besi
yang tak mengenal adat.

Ia tahu:
masa gelap sedang menuju.

VI — Datuak Rang Tuo dan Nubuat Kabut

“Bila tamak membuka pintu,”
kata Datuak Rang Tuo,
“maka gunung akan menutup sejarah.”

Ia memandang langit
yang berubah warna,
seperti wajah ibu
yang menahan tangis.

VII — Aruan Penjaga Ingatan

Aruan menulis sejarah
di atas daun rumbia,
agar kelak ketika negeri hilang
cerita tetap hidup
di sela keriput waktu.

Ia tahu
kerajaan ini mungkin lenyap,
tapi ingatan tidak boleh mati.

VIII — Kapal Bayang Memecah Laut

Di kejauhan,
kapal hitam datang
seperti mimpi buruk
yang tersesat dari masa depan.

Penjajah bayangan
mengusap senjata
seakan mengelus doa.

Ia tidak mencari persahabatan—
ia mencari emas.

IX — Ketika Doa Bertemu Senjata

Puti berdiri tegak
di hadapan penjajah.

“Tuan,” katanya,
“tanah ini bukan milik kami,
apalagi milik kalian.”

Penjajah tertawa:
Doa tidak menakutinya—
yang menakutkannya hanyalah
kehabisan emas.

X — Rajo Balunduang Memilih Hilang

Rajo Balunduang
menatap emas di sungai
seperti menatap nasib yang pecah.

“Kerajaan ini,” katanya,
“akan menghilang
demi tetap hidup.”

Leluhur setuju;
gunung pun bergumam.

XI — Ritual Empat Puluh Empat Penghulu

Doa naik seperti asap kemenyan,
angin berhenti,
dan sungai menahan napas.

Empat puluh empat penghulu
mengusap tanah
sebelum kaki mereka tercabut
dari sejarah.

XII — Istana yang Ditelan Gunung

Gemuruh turun dari langit—
atau naik dari perut bumi,
tak ada yang tahu.

Istana Minangcabo
mulai tenggelam
perlahan, lembut,
seperti anak
yang kembali ke rahim ibu.

XIII — Tangis Puti Andam Rose

Puti menangis
bukan karena kehilangan istana,
tapi karena ia tahu
tugasnya belum selesai.

Ia harus hidup
menjadi saksi,
menjadi ingatan,
menjadi ibu masa depan.

XIV — Hutan Harimau dan Pelarian

Ia berjalan ke hutan,
tempat harimau menjaga senyap.

Di sana,
angin memaafkan ketakutannya,
dan pepohonan
mengajarkan cara berdiri
tanpa tunduk.

XV — Harimau Penjaga Zaman

Seekor harimau tua
datang tanpa suara.

Ia menunduk pada Puti
seperti menunduk pada ratu.

“Jagalah marwah,”
katanya tanpa kata.

XVI — Puti Mengajar Suku-suku Kecil

Ia ajarkan anak gunung
tentang adat,
tentang marwah,
tentang harga diri
yang tidak boleh ditukar
dengan emas dunia.

Dan mereka percaya.

XVII — Penjajah Menggali Tanah yang Menolak

Penjajah menancap besi,
tapi tanah menolak dibelah.

Batu menolak retak,
emas pura-pura tidur,
dan gunung menutup telinganya
dari perintah kolonial.

XVIII — Pemberontakan Tanpa Senjata

Anak nagari bangkit
dengan tangan kosong.

Mereka tidak membawa senjata—
mereka membawa marwah.

Dan marwah,
ketika terancam,
lebih tajam dari besi.

XIX — Penjajah Mundur Tanpa Kemenangan

Setelah seratus malam,
penjajah pergi
tanpa membawa apapun,
kecuali malu
yang tertinggal
di ujung sejarah.

XX — Puti Tua di Pondok Sunyi

Puti duduk
di samping sungai tua.

Matanya menyimpan
seratus tahun cerita,
tapi suaranya lembut
seperti zikir.

XXI — Wasiat Perempuan yang Dijaga Gunung

Sebelum wafat,
ia berbisik:

“Hidupkan kerajaan itu kembali,
bukan dengan emas,
tapi dengan harga diri.”

Kata-kata itu
menembus zaman.

XXII — Anak Rantau Pulang

Puluhan turunan kemudian,
seorang anak rantau
pulang dengan ransel
dan hati yang penuh tanya.

Ia mendengar legenda
yang berdenyut seperti luka lama.

XXIII — Pencarian di Sungai dan Bukit

Ia mencari jejak
yang ditinggalkan Puti.

Di setiap batu ia temukan doa,
di setiap daun ia temukan pesan.
Kerajaan itu
masih bernapas.

XXIV — Pertemuan dengan Aruan Tua

Aruan muncul,
rambutnya senja,
tapi matanya tetap fajar.

“Yang kau cari bukan emas,”
katanya,
“tapi dirimu.”

XXV — Roh Puti Menyala di Embun

Pada subuh yang lembut,
Puti muncul
sebagai cahaya.

Ia tidak berkata apapun—
tapi hatinya bicara
mengenai marwah
yang harus dijaga
seperti nyawa.

XXVI — Kebangkitan Baru

Anak rantau mengumpulkan
penghulu,
ulama,
seniman,
anak nagari.

Mereka mendirikan balairung baru
di dalam hati mereka sendiri.

XXVII — Adat yang Dimurnikan

Adat kembali ditegakkan
bukan sebagai hiasan,
tapi sebagai ibu.

Syarak kembali dipeluk
sebagai cahaya.

XXVIII — Minangcabo Menetas dari Kesadaran

Kerajaan itu tidak kembali
sebagai bangunan
atau singgasana.

Ia kembali
sebagai cara memandang hidup,
sebagai kesetiaan pada marwah,
sebagai keberanian menjaga kebenaran.

XXIX — Talempong di Ujung Zaman

Talempong berbunyi
di seluruh tanah Minang:

pelan, bersih,
seperti doa yang pulang
ke rumah yang lama
menunggu.

XXX — Kerajaan yang Tidak Pernah Hilang

Tuah Bumi berbicara:

“Yang hilang bukan kerajaan,
tapi manusia
yang lupa cara menemukannya.

Kini,
kerajaan itu telah kembali
dalam diri kalian—
selama marwah dijaga,
tanah ini takkan pernah
kehilangan nama.”

Talempong terakhir berbunyi.
Fajar membuka halaman baru.

Minangcabo pun hidup kembali.


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.