Merapat Padamu
Yusuf Achmad
Mendekatimu, mengenalmu dalam.
Bukanlah mendekati perawan keturunan Arab yang cerdas dan dermawan.
Atau guru ngaji Nyamplungan, begawan berilmu yang mendalam.
Tiada bandingnya, betapapun banyak pengalaman.
Mengenalmu, bukan sekadar mengetahui sifatmu.
Kutak mau hanya sekadar.
Pengetahuan luas, mazhab-mazhab membingungkan.
Seperti mencari makna di dalam kitab suci pegangan.
Belum semua kutahu, terlalu banyak, kutak kuasa.
Mendekatimu, kurasakan kedalaman ilmu.
Pahit gahwa Ampel berubah.
Kesadaranku tumbuh, tanpa sia-sia.
Tak sekali kugagal mendekatimu.
Hatiku penuh nafsu, kikir, serakah, merasa kaya.
Benar, pintar, hebat, sekadar ilusi belaka.
Kuhanya berjalan di jalan berliku luas tanpa arah.
Belajar berjalan, menguatkan kaki, mataku terbuka.
Melihat tipuan belaka.
Belajar dari para guru, kyai mencari hikmah.
Hukum hidup, kupahami.
Mengalir dalam hikmah kitab kuning, pelan-pelan kakiku tertarik.
Renungan Panjang, gerak langkah kokoh, hati menarik.
Pinggul kuyup dalam sujud, leher tertunduk, jantung berdegup.
Rasa tenang ke puncak hati, membasahi tiap titik nadi.
Di dalam doa wali.
Selalu khusyuk bak burung derkuku milik jidku yang tafakkur.
Meresap, memercik, tumbuh, dalam jiwa penuh.
Hati gelap terusik, titik demi titik mengkilap.
Mencoba mendekat, walau sedetik, sesaat.
Menjadi lebih berarti, gigih, tertancap di hati.
Surabaya, 21-7-2024