Merawat Sastra Dengan Saling Menopang Bukan Menjatuhkan
Oleh : Ririe Aiko
Dalam sebuah festival sastra, saya pernah menyaksikan satu momen yang begitu membekas: seorang tokoh besar dunia literasi, Denny JA, berdiri dengan kerendahan hati dan mengatakan, “Siapa pun bisa menulis dan menjadi penulis.” Kalimat ini bukan hanya sederhana, tapi revolusioner, terutama jika diucapkan oleh seseorang yang telah menghasilkan begitu banyak karya dan berada di titik tertinggi dalam dunia kepenulisan Indonesia.
Di saat sebagian pihak masih sibuk mempertanyakan kelayakan sebuah karya sastra, Denny JA justru membangun jembatan. Ia mendirikan berbagai komunitas yang mewadahi dan mengapresiasi penulis, termasuk mereka yang baru menapak jalan menulis dan masih jauh dari kata “sempurna.” Ia bukan hanya memberikan ruang, tetapi juga kepercayaan bahwa setiap suara layak untuk didengar. Di tengah derasnya kritik dan standar baku sastra, sikap ini seperti oase di tengah padang gersang.
Kita tentu tidak menampik bahwa sastra memiliki nilai artistik, gaya bahasa, dan struktur yang khas. Namun, menulis adalah bentuk ekspresi, bukan semata-mata kompetisi estetika. Tidak semua tulisan harus lahir dari pena seorang maestro. Kadang, tulisan paling sederhana justru mampu menyentuh lubuk hati terdalam pembacanya. Seperti halnya film: karya yang dikritik “biasa saja” bisa saja menjadi box office karena mampu menyentuh realitas dan emosi banyak orang.
Sayangnya, tak sedikit penulis pemula harus berhadapan dengan kritik yang bukan membangun, melainkan menjatuhkan. Ada pengkritik sastra yang terbiasa menilai dari menara gading, menghakimi karya-karya muda dengan label “sampah,” “tak layak baca,” atau “merusak mutu sastra.” Kata-kata seperti ini bisa membunuh semangat, meruntuhkan mimpi, dan membuat pena-pena muda berhenti menari.
Apakah ini yang kita harapkan dari ekosistem sastra Indonesia? Bukankah seharusnya kita menciptakan ruang yang ramah, yang membuat generasi baru tak gentar untuk terus menulis, meski belum sempurna?
Tokoh seperti Denny JA memberikan teladan berharga. Ia tidak pelit pujian, tidak kikir panggung. Ia justru melibatkan penulis muda dalam gerakan puisi esai, sebuah genre yang memberikan kebebasan kepada penulis untuk mengekspresikan kegelisahan sosial, suara hati, dan narasi-narasi personal tanpa harus terbelenggu aturan konvensional sastra. Bukan karena karya-karya itu langsung layak mendapat penghargaan tinggi, tetapi karena mereka layak diberi kesempatan.
Apa yang beliau lakukan mencerminkan kelapangan hati yang jarang dimiliki oleh tokoh besar. Ia tahu betul, jika bukan karena dukungan, tak akan ada yang berani menapaki jalan panjang menjadi sastrawan. Jika bukan karena bimbingan, tak akan ada pena muda yang mampu berkembang menjadi pilar masa depan sastra Indonesia.
Mari kita renungkan, apakah tujuan kita menulis dan berkarya adalah untuk bersaing atau untuk bersama melestarikan sastra? Apakah kita ingin menciptakan dinding pemisah atau jembatan penghubung? Apakah kita akan terus menyerang sesama penulis, atau mulai menopang satu sama lain?
Sudah saatnya kita menanggalkan arogansi intelektual. Biarkan semesta sastra tumbuh dengan keragaman suara, gaya, dan pesan. Jadilah sastrawan yang bijak membimbing generasi muda untuk terus berkarya. Jadilah pembaca yang mengapresiasi, bukan hanya mencaci. Karena di balik setiap tulisan, sekecil apa pun, ada keberanian untuk bersuara. Dan keberanian itu pantas untuk mendapat tempat.