Nada Kehidupan dan Kematian
Yusuf Achmad
Puisi kematian beragam. Kubaca siang dan malam, merenung dalam. Aku menjadi puisi, mati dalam kata-kata. Huruf beku, titik dan koma. Kuteliti semua, mati dalam puisi buta.
Menyelam dalam puisi alam, tenggelam dalam laut kata biru. Kata berganggang, seperti rumput laut menari. Ekor ikan menari di bawah bulan. Karang hati keras dan tajam kuhancurkan.
Kukuak tiram, permata hati berkilau gelap. Kematian tak hilang, kenang pikiran tak tenang. Laut biru, ganggang diburu, ikan bergizi. Karang kuat bak sembilu, tiram bermata bludru.
Kuberkata padanya, kunanti kau walau ragu. Bekalku kaku, walau tua berlalu. Kitab suci bisu, kau menakutkan, kadang diharapkan. Kau di medan, udara, darat, peradaban.
Kapan kau berdering dan kuterima, seperti Hpku menyala. Adakah nomormu kupunya, tuk kuterima suka cita.
Surabaya, 2 Juli 2024